KEIN: Struktur Pelaku Usaha Tak Seimbang, Pertumbuhan Ekonomi Stagnan

Oleh Athika Rahma pada 12 Jul 2019, 19:10 WIB
Arif Budimanta, Wakil Ketua Komisi Ekonomi dan Industri Indonesia (KEIN) (Halomoney.co.id)

Liputan6.com, Jakarta - Pertumbuhan ekonomi dalam beberapa tahun terakhir dilaporkan stagnan. Ternyata, faktornya bukan hanya dari eksternal saja. Wakil Ketua Komite Ekonomi Industri Nasion (KEIN) Arif Budimanta menyatakan, ada indikator nasional yang harus dibenahi agar pertumbuhan ekonomi bisa stabil.

"Penyebabnya masalah struktural, terutama karena struktur pelaku ekonomi tidak berimbang," ungkap Arif dalam diskusi Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM): Potensi yang Terabaikan di Jakarta, seperti dikutip dari Antara, Jumat (12/7/2019).

Ada beberapa faktor yang menyebabkan stagnasi angka pertumbuhan ekonomi, diantaranya defisit transaksi berjalan (current account defisit) yang terus melebar, defisit neraca pembayaran, ketimpangan pendapatan serta lapangan kerja yang tidak bisa menampung seluruh angkatan kerja.

Arif menyatakan ada potensi peningkatan ekonomi dari sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) yang belum dimaksimalkan. Menurut hasil riset Megawati Institute, UMKM menyumbang 99,9 persen pelaku usaha, 97 persen serapan tenaga kerja serta PDB 60 persen, sementara perusahaan besar hanya berkisar di angka 0,01 persen dengan serapan tenaga kerja 3 persen dan PDB 40 persen.

"Tapi UMKM hanya mendapat 20 persen distribusi pembiayaan perbankan, sementara usaha besar bisa dapat 80 persen, padahal kalau dilihat dari sisi kontribusi PDB tinggi," ungkap Arif.

2 of 3

UMKM Masih Dianggap Eksternalitas

Arif Budimanta, Wakil Ketua Komisi Ekonomi dan Industri Indonesia (KEIN) (Halomoney.co.id)
Arif Budimanta, Wakil Ketua Komisi Ekonomi dan Industri Indonesia (KEIN) (Halomoney.co.id)

Arif melanjutkan, UMKM selama ini hanya dianggap sebagai eksternalitas dan belum dianggap sebagai pelaku strategis dalam perekonomian nasional.

Hal ini terbukti dari hasil riset yang menunjukkan bahwa keterlibatan UKM Indonesia di rantai perdagangan wilayah Asia Tenggara hanya sebesar 6,3 persen, sementara kontribusi terhadap ekspor nasional hanya sebesar 15,8 persen, jauh tertinggal dari Malaysia dan Thailand.

Dari simulasi yang dilakukan Megawati Institute, bila 10 persen dari total UKM mengalami kenaikan kelas, seperti usaha mikro jadi usaha kecil atau menenag, pertumbuhan ekonomi dapat didorong hingga 7 persen, bahkan berpotensi hingga 9,3 persen.

"Kami berpandangan bahwa pemerintah harusnya menjadikan sektor UMKM sebagai tulang punggung perekonomian nasional dengan berbagai terobosan yang tepat," tuturnya.

3 of 3

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓