Perang Dagang Melunak, BI Diprediksi Turunkan Suku Bunga Acuan

Oleh Maulandy Rizky Bayu Kencana pada 08 Jul 2019, 17:30 WIB
Diperbarui 08 Jul 2019, 17:30 WIB
Tukar Uang Rusak di Bank Indonesia Gratis, Ini Syaratnya
Perbesar
Karyawan menghitung uang kertas rupiah yang rusak di tempat penukaran uang rusak di Gedung Bank Indonessia, Jakarta (4/4). Selain itu BI juga meminta masyarakat agar menukarkan uang yang sudah tidak layar edar. (Merdeka.com/Arie Basuki)

Liputan6.com, Jakarta - Pertemuan antara Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping saat KTT G20 di Osaka, Jepang, beberapa waktu lalu telah menciptakan sentimen positif terhadap arah suku bunga acuan The Fed dan bank sentral negara-negara lain pada 2019.

Executive Vice President Intermediary Business PT Schroder Investment Management Indonesia, Bonny Iriawan, membuka kemungkinan bahwa Bank Indonesia (BI) juga bakal ikut menurunkan suku bunga acuan.

"Saya pikir chance-nya cukup besar buat BI menurunkan suku bunga," ujar dia dalam sebuah sesi diskusi di Jakarta, Senin (8/7/2019).

 

Pernyataan itu dilontarkannya setelah sebelumnya Gubernur Bank Indonesia Perry Wardjiyo beberapa waktu lalu sempat memprediksi kemungkinan The Fed yang akan menurunkan suku bunga 25 basis poin (bps) pada tahun ini atau 2020.

Pertimbangan lain yang jadi acuan, Bonny melanjutkan, yakni data inflasi Indonesia yang selama beberapa tahun terakhir relatif rendah. Menurutnya, Bank Indonesia Ada di posisi aman untuk bisa menurunkan suku bunga acuan bila angka inflasi terus tetap terjaga.

Adapun menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi pada Juni 2019 tercatat sebesar 0,55 persen, sedangkan inflasi tahun kalender menembus angka 2,05 persen.

"Kalau kita melihat kan selama beberapa tahun ini inflasi indonesia relatif rendah. Jadi target Bank Indonesia untuk melihat inflasi itu sudah on track," jelasnya.

"Jadi saya pikir kalau itu terus berlanjut sampai dengan akhir tahun, tentunya Bank Indonesia punya comfort level untuk menurunkan suku bunga," dia menandaskan.

2 dari 4 halaman

BI Prediksi Neraca Pembayaran Surplus USD 3 Miliar pada Kuartal II 2019

Ilustrasi Bank Indonesia (2)
Perbesar
Ilustrasi Bank Indonesia

Bank Indonesia (BI) mencatat posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Juni 2019 sebesar USD 123,8 miliar.

Angka cadangan devisa ini meningkat dibandingkan posisi pada akhir Mei 2019 yang sebesar USD 120,3 miliar.

Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo mengatakan, dengan cadangan devisa yang mencapai USD 123,8 miliar pada Juni 2019 akan membuat neraca pembayaran kuartal II 2019 surplus USD 3 miliar, atau naik tipis dibandingkan kuartal I 2019 yang sebesar USD 2,4 miliar.

"Posisi USD 123,8 miliar itu tinggi dibandingkan bulan sebelumnya, bahwa secara overall itu di triwulan kedua secara keseluruhan akan mengalami surplus neraca pembayaran sekitar USD 3 miliar," ujar Perry saat ditemui di Kompleks Masjid BI, Jakarta, Jumat (5/7/2019).

Perry menambahkan, selain cadangan devisa neraca pembayaran yang surplus pada kuartal II 2019 juga akan ditopang dengan meningkatnya aliran masuk modal asing yang terlihat di neraca transaksi modal dan keuangan.

Hingga per 4 Juli 2019, Bank Indonesia mencatat arus masuk modal asing atau capital inflow ke Indonesia telah mencapai Rp 170,1 triliun.

Aliran dana tersebut masuk melalui portofolio Surat Berharga Negara (SBN), pasar saham dan Sertifikat Bank Indonesia (SBI).

Kendati begitu, Perry mengatakan untuk neraca transaksi berjalan besaran defisitnya tidak akan melebihi dari tiga persen Produk Domestik Bruto (PDB).

Di kuartal I-2019, defisit transaksi berjalan sebesar 2,6 persen PDB atau sekitar tujuh miliar dolar AS. 

"Secara persisnya angka defisit transaksi berjalan menunggu angka-angka neraca perdagangan di Juni. Kami tunggu BPS untuk melihat persisnya angka defisit transaksi berjalan seperti apa tapi perkiraan kami tidak akan lebih tinggi dari tiga persen PDB, atau lebih rendah dari PDB," pungkasnya.

3 dari 4 halaman

Survei BI Catat Inflasi 0,12 Persen pada Minggu Pertama Juli

BI Tahan Suku Bunga Acuan
Perbesar
Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menggelar konferensi pers di Jakarta, Kamis (17/1). Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI Januari 2019 memutuskan untuk mempertahankan BI 7-day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 6 persen. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Bank Indonesia (BI) mencatat pada minggu pertama Juli 2019 terjadi inflasi 0,12 persen secara month to month (mtm). Sementara, secara year on year (yoy) tercatat sebesar 3,12 persen.

"Berdasarkan survei pemantauan harga ini jauh lebih rendah dibandingkan dua bulan sebelumnya Mei dan Juni ini sesuai pola musimannya dan berkaitan hari Ramadan yang tinggi dan Alhamdulilah bulan Juli 0,12 mom dan yoy 3,12 persen," kata Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo saat ditemui di Kompleks Masjid BI, Jakarta, Jumat (5/7/2019).

Menurut Perry, angka tersebut menunjukkan inflasi semakin terjaga rendah dan stabil hingga bulan ketujuh ini. Sehingga inflasi pada akhir 2019 diproyeksikan masih akan berada tengah-tengah di bawah kisaran 3,5 persen.

"Jadi ini inflasi kembali kepada polanya dan rendah mengkonfimasi dan akhir tahun ini insya Allah lebih rendah di tittik tengah insya Allah 3,5 persen. Inflasi akhir tahun ini akan lebih rendah dari 3,5 persen," kata Perry.

Perry mengatakan, inflasi tersebut terjadi karena banyak komoditas pangan yang mengalami penurunan seperti daging ayam ras, bawang merah, bawang putih.

"Sebelumnya terjadi inflasi dan bulan ini terjadi deflasi demikain juga antar kota deflasi 0,08 persen," tutur Perry.

Dengan perkembangan ini, Bank Indonesia bersama dengan pemerintah akan selalu berkoodinasi untuk mengendalikan inflasi.

"Jadi pertama secara keseluruhan mengkonfirmasi inflasi tetap rendah terkendali. Kita akan selau berkoordinasi dengan pemerintah pusat maupun daerah inflasi kita di tahun ini ada kemungkinan di bawah titik tengah berarti di bawah 3,5 persen," ujar dia.

4 dari 4 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓