Menteri Susi: Impor Garam Bocor, Harga di Petani Jadi Turun

Oleh Liputan6.com pada 04 Jul 2019, 17:02 WIB
Diperbarui 04 Jul 2019, 17:02 WIB
Ilustrasi Garam

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP), Susi Pudjiastuti buka suara terkait jatuhnya harga garam di tingkat petani. Impor yang terlampau banyak merupakan salah satu penyebab.

Selain itu, dia juga menyebutkan, merembes atau bocornya impor garam ke pasaran juga menjadi penyebab jatuhnya harga garam petani.

"Persoalan harga jatuh adalah impor terlalu banyak dan bocor. Titik. Itu persoalannya," kata dia, di Kantor KKP, Jakarta, Kamis (4/7/2019).

Dia menuturkan, jika impor garam tidak tinggi, harga garam di tingkat petani masih bisa dijaga.

"Kalau diatur impornya di bawah 3 juta ton kayak tempo hari harga di petani masih bisa Rp 2.000, Rp 1.500," tegas Susi. 

"Persoalannya impor terlalu banyak dan itu bocor," tandasnya.

Sebelumnya, pemerintah mengalokasikan impor garam pada 2018 sebesar 3,7 juta ton. Sementara untuk 2019, pemerintah mengalokasikan impor garam sebesar 2,7 juta ton.

 

Reporter: Wilfridus Setu Embu

Sumber: Merdeka.com

2 dari 4 halaman

Curhat Penambak Cirebon Kebanjiran Garam Lokal

Curhat Petambak Garam Cirebon Ditengah Produksi Yang Melimpah
Petambak garam Cirebon kerap mengeluh karena harga jual yang merosot tajam. Foto (Liputan6.com / Panji Prayitno)

Sebelumnya, musim kemarau dianggap sebagai berkah bagi petambak garam Cirebon. Sejumlah penambak di Desa Rawaurip Kecamatan Pangenan Kabupaten Cirebon tengah menggarap lahan tambak garam mereka tahun ini.

Namun demikian, tidak sedikit petambak garam yang mengeluh karena harga murah di tingkat pembeli. Ribuan ton garam yang tersimpan di gudang penyimpanan milik petambak tak kunjung laku terjual.

Diketahui, garam tersebut merupakan hasil panen pada musim kemarau tahun 2018 lalu. Imbas banyaknya stok garam di gudang penyimpanan, harga terus merosot.

"Dari semula Rp1.000 per kg turun menjadi Rp800 dan sekarang sudah Rp500 per kg. Itu juga tidak banyak pembeli sehingga garam milik petambak maupun tengkulak di gudang masih menumpuk," kata salah seorang penambak garam Cirebon Toto (38), Selasa, 2 Juli 2019

Dia menyebutkan, satu orang penambak bisa menyimpan rata-rata 20 ton hingga 50 ton di gudang penyimpanan. Belum lagi garam milik tengkulak yang mencapai ratusan ton.

Pada musim tanam ini, kata dia, harga garam di tingkat penambak semakin merosot. Dia menyebutkan, untuk garam yang baru dipanen tahun ini dihargai Rp300 per kg.

"Ya kan masih banyak stok permintaan kurang sehingga garam yang baru panen akhirnya semakin merosot harganya," sebut Toto.

Pada musim panen tahun ini, tidak banyak tengkulak yang membeli garam dari petambak Cirebon. Para penambak mengaku kebingungan harus menjual garam mereka kemana.

Dia mengaku, setiap kali panen raya, harga garam cenderung turun karena hasil produksi garam Cirebon melimpah. Namun, banyaknya cadangan garam di gudang semakin membuat penambak khawatir.

"Kalau harga panen tahun ini saja Rp 300 per kg mungkin nanti kalau sudah panen raya bisa sampai Rp 50 per kg," kata dia.

 

3 dari 4 halaman

Terus Berproduksi

Curhat Petambak Garam Cirebon Ditengah Produksi Yang Melimpah
Harga jual garam ditingkat petambak Cirebon semakin merosot ditengah melimpahnya hasil produksi yang tak kunjung terjual. Foto (Liputan6.com / Panji Prayitno)

Sebelumnya, Penambak garam lain Warpin (46) mengaku menyimpan hasil panen garam di gudang 30 ton. Hingga saat ini garam tersebut belum habis terjual.

Dia mengaku sudah berulang kali menawarkan garam ke tengkulak maupun masyarakat lain. Namun, sedikit peminat yang membeli garam hasil petambak Cirebon.

"Sejak tiga bulan lalu saya menawarkan garam tapi tidak banyak peminat. Padahal, tahun-tahun kemarin sebelum panen harga garam seperti harga emas, per kilo sampai Rp2.500," sebut dia.

Para penambak garam Cirebon mengaku tidak tahu penyebab harga anjlok dan hasil produksi garam tidak laku. Dia mendapat informasi adanya impor garam dari pemerintah.

Sehingga membuat garam di tingkat lokal tidak laku bahkan harga cenderung merosot. "Harusnya jangan impor garam karena garam di sini juga melimpah," katanya.

Meski demikian, baik Toto maupun Warpin serta para penambak garam lain mengaku tetap mengolah tambak mereka sebagai mata pencaharian. Mereka juga berharap agar ada standardisasi harga garam.

Dia mengaku, selama ini harga garam selalu dikendalikan oleh para tengkulak. "Kita kan cari nafkahnya dari sini, membuat garam, jadi walaupun harga murah ya kita tetap menggarap garam. Keinginan kami ada standardisasi harga, agar tidak murah sekali harganya ketika sedang turun," kata Warpin.

 

4 dari 4 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini

Lanjutkan Membaca ↓