Harga Terlalu Mahal Jadi Alasan Indonesia Sulit Ekspor Beras

Oleh Bawono Yadika pada 02 Jul 2019, 15:15 WIB
Diperbarui 02 Jul 2019, 16:16 WIB
Beras

Liputan6.com, Jakarta Direktur Utama Perum Bulog, Budi Waseso (Buwas) mengungkapkan sejumlah alasan mengapai RI terbilang sulit mengekspor beras ke luar negeri

Salah satu alasanya menurut dia, cost produksi (ongkos produksi) beras Indonesia yang terbilang mahal. Itu disebabkan karena Indonesia masih menggunakan cara konvensional dalam mengelola beras.

"Yang butuh beras kita itu banyak, tapi sayang harganya tidak masuk," tuturnya di Jakarta, Senin (2/7/2019).

Buwas menjelaskan, karena beras Indonesia yang terlalu mahal, beras dalam negeri kalah diminati dibandingkan dengan negeri-negeri tetangga.

"Beras kita terlalu mahal, bahkan seburuk-buruknya gabah kita itu masih lebih mahal dibandingkan gabah luar negeri. Cost produksi kita terlalu mahal," kata dia.

Kendati begitu, pihaknya menekankan bahwa masalah tersebut sebenarnya bukan jadi alasan kuat Indonesia lantas berhak melakukan impor beras dari luar negeri.

Dia mencontohkan, beberapa negara tetangga seperti Thailand dan Vietnam sendiri saat ini produksi berasnya sudah menggunakan mesin, sehingga lebih efisien.

"Karena beras kita itu masih banyak cara-cara konvensional, pakai tenaga manusia. Thailand, Vietnam sudah mekanisasi, makanya kita tak kompetitif dalam bidang harga," paparnya.

2 of 4

BPS Catat Harga Beras dan Gabah Naik pada Juni 2019

Harga Gabah Kering Turun
Petani memanen padi varietas Ciherang di areal persawahan Desa Ciwaru, Sukabumi, Sabtu (23/6). Petani mengeluhkan harga gabah kering panen saat ini Rp 488 ribu/kwintal dibanding tahun lalu yang menembus Rp 600 ribu/kwintal. (Merdeka.com/Arie Basuki)

Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan, sepanjang Juni 2019, harga beras di penggilingan mengalami kenaikan. Kenaikan tersebut terjadi baik untuk beras kualitas premium, medium dan rendah.

Kepala BPS, Suhariyanto mengatakan, pada Juni 2019, rata-rata harga beras kualitas premium di tingkat penggilingan sebesar Rp 9.516 per kg, naik sebesar 0,56 persen dibandingkan bulan sebelumnya. 

Rata-rata harga beras kualitas medium di penggilingan sebesar Rp 9.166 per kg, naik sebesar 0,26 persen. Sedangkan rata-rata harga beras kualitas rendah di penggilingan sebesar Rp 9.012 per kg, naik sebesar 0,65 persen.

"Dibandingkan dengan Juni 2018, rata-rata harga beras di penggilingan pada Juni 2019 untuk semua kualitas yaitu premium, medium, dan rendah, mengalami kenaikan 40 persen, 0,34 persen, dan 0,79 persen.

 

3 of 4

Dibanding Bulan Sebelumnya

Bulog Sumsel Hanya Serap 31 Persen Beras Petani Lokal
Stok beras di gudang Perum Bulog Divre Sumsel Babel (Liputan6.com / Nefri Inge)

Sementara untuk gabah, lanjut Suhariyanto, dibandingkan bulan lalu, rata-rata harga Gabah Kering Panen (GKP) di tingkat penggilingan selama Juni 2019 naik Rp 210 per kg (4,72 persen) menjadi Rp 4.656 per kg.

Selain itu, Gabah Kering Giling (GKG) naik Rp 63 per kg (1,18 persen) menjadi Rp 5.361 per kg dan gabah kualitas rendah naik Rp 169 per kg (4,11 persen) menjadi Rp 4.288 per kg.

"Jika dibandingkan Juni 2018, rata-rata harga di tingkat penggilingan pada Juni 2019 untuk GKP mengalami penurunan 1,75 persen, yaitu sebesar Rp 83 per kg. Untuk kualitas GKG turun 1,96 persen sebesar Rp 107 per kg dan gabah kualitas rendah turun 1,82 persen, yaitu sebesar Rp 80 per kg," tandas dia.

4 of 4

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓

Tag Terkait

Live Streaming

Powered by