Pendalaman Pasar Keuangan RI Kalah dari Thailand dan Malaysia

Oleh Liputan6.com pada 01 Jul 2019, 18:30 WIB
Rupiah Tetap Berada di Zona Hijau

Liputan6.com, Jakarta Calon Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti mengatakan saat ini pasar keuangan Indonesia masih tergolong dangkal. Apalagi jika dibandingkan dengan negara-negara peer.

"Fakta yang ada menunjukkan bahwa sektor keuangan kita relatif dangkal bila dibandingkan peer group," kata dia,  saat menjalani uji kepatutan dan kelayakan (fit and proper test) di Komisi XI Gedung DPR di Jakarta, Senin (1/7/2019).

Salah satu fakta yang dia sebutkan adalah rasio kredit terhadap PDB yang masih rendah, yakni sebesar 37 persen. Ini lebih rendah dibandingkan Thailand yang mencapai 85 persen dan Malaysia yang mencapai 115 persen.

"Untuk pasar modal, kapitalisasi pasar saham terhadap PDB hanya sebesar 46 persen, sementara di Thailand dan Malaysia mencapai 96 persen dan 110 persen," jelas dia.

Demikian pula rasio outstanding obligasi terhadap PDB. Indonesia hanya 19 persen sementara di Thailand dan Malaysia mencapai sekitar 80 persen dan 100 persen.

Menurut dia, pendalaman sektor keuangan sangat penting untuk mendukung perekonomian Indonesia. "Pendalaman sektor keuangan menjadi sangat penting bukan hanya untuk mendukung terjadinya stabilitas ekonomi namun juga untuk mendukung pembiayaan pembangunan ekonomi," ujarnya.

"Terbatasnya sumber dana pemerintah dan domestik menyebabkan penggunaan sumber dana dari sektor swasta dan luar negeri sangat menjadi penting," tandasnya.

2 of 2

Calon Deputi Gubernur Senior BI: Defisit Transaksi Berjalan Masih Dapat Dimaklumi

Tukar Uang Rusak di Bank Indonesia Gratis, Ini Syaratnya
Karyawan menghitung uang kertas rupiah yang rusak di tempat penukaran uang rusak di Gedung Bank Indonessia, Jakarta. (Merdeka.com/Arie Basuki)

Komisi XI Dewan Perwakilan Rakyat menggelar fit and proper test terhadap calon deputi gubernur senior Bank Indonesia Destry Damayanti. Fit and proper test berlangsung di ruang rapat Komisi XI DPR, Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta.

Salah satu tema yang dibahas Destry dalam paparannya yakni terkait defisit transaksi berjalan.

"Bagi negara yang sedang berkembang dan membangun seperti Indonesia, defisit transaksi berjalan masih dapat dimaklumi sepanjang dua syarat terpenuhi, pertama karena untuk penerimaan yang produktif dan dapat menghasilkan penerimaan devisa di masa yang akan datang," kata dia, di Jakarta, Senin (1/7/2019).

"Kedua defisit mayoritas dibiayai oleh investasi dalam bentuk penanaman modal asing ketimbang investasi portofolio yang sangat volatile dan lebih bersifat jangka pendek," lanjut dia.

Menurut dia tantangan bagi defisit transaksi berjalan di Indonesia terjadi karena investasi di Indonesia utamanya masih dalam bentuk portofolio. "Menjadi tantangan di Indonesia karena pembiayaan defisit neraca transaksi berjalan utamanya masih dalam bentuk investasi portofolio," ujarnya.

Dampak negatif dari besarnya porsi investasi dalam bentuk portofolio yakni begitu rentan terjadinya capital outflow saat ada gejolak dalam perekonomian global.

"Sebagai contoh, sepanjang 2018, terjadi capital outflow yang cukup signifikan sehingga besarnya investasi portofolio sepanjang 2018 turun menjadi USD 9,31 miliar dari USD 21,06 miliar di tahun 2017," tandasnya.

Reporter: Wilfridus Setu Umbu

Sumber: Merdeka.com

Lanjutkan Membaca ↓