KEIN: Undang Wisman, Indonesia Harus Tiru Prancis

Oleh Ilyas Istianur Praditya pada 28 Jun 2019, 11:30 WIB
Diperbarui 28 Jun 2019, 11:30 WIB
Proyek Sirkuit Mandalika Lombok
Perbesar
Foto udara pada 23 Februari 2019 menunjukkan proyek pengembangan pesisir Mandalika yang diusulkan menjadi lokasi balapan sepeda motor MotoGP dengan sirkuit jalan yang dibangun khusus, di Mandalika, selatan Lombok. (ARSYAD ALI/AFP)

Liputan6.com, Jakarta - Target kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Indonesia meleset cukup jauh. Boleh jadi terdapat beberapa kendala alami yang tak bisa kita hindari seperti bencana alam dan sejenisnya, tapi usaha yang serius menuju angka yang dituju haruslah dilandaskan pada konsentrasi dan fokus kebijakan yang jelas. Indonesia sangat bisa berkaca pada Prancis.

Dengan kata lain, Indonesia harus serius berguru pada sang juara seperti Prancis, untuk mengangkat pariwisata ke level dunia. Wisatawan asing berdatangan bukan karena keindahan alamnya saja, namun lebih karena kreativitas negaranya dalam membangun ekosistem pariwisata, mulai dari pembenahan aksesibilitas dan amenitas, pengemasan yang berkelas, sampai pada atraksi yang ikonik, yang dikembangkan dari beragam potensi yang mereka miliki.

"Lihat saja, World Tourism Organization mencatat, Prancis mampu menyedot wisman 86,9 juta pada 2017, jauh lebih banyak dibanding penduduknya sendiri," jelas Anggota Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN) sekaligus Ketua Pokja Industri Pariwisata Nasional KEIN, Dony Oskaria, Jumat (28/6/2019).

Urutan selanjutnya dalam jajaran lima besar adalahSpanyol 81,8 juta, Amerika Serikat 76,9 juta, China 60,7 juta, dan Italia 58,3 juta. "Sementara kita, kunjungan wisman ke Indonesia hanya terealisasi 15,8 juta, dari target 17 juta pada 2018", ucap Dony.

Untuk mengatasi lambatnya pertumbuhan wisman ini, pemerintah harus benar-benar fokus mengembangkan destinasi. Pemerintah semestinya menetapkan destinasi prioritas berdasarkan kriteria yang terkait langsung dengan sektor kepariwisataan, yakni kesiapan ekosistem pariwisata di setiap kawasan.

Kawasan tersebut, misalnya adalah Jakarta, Bali, Bandung, Joglosemar, Bromo Tengger, Manado, dan lain-lain.

 

2 dari 3 halaman

Ekosistem Sudah terbentuk

Gunung Bromo Masih Aman Dikunjungi
Perbesar
Seorang pria berjalan dengan latar belakang gunung Bromo yang sedang mengalami erupsi di Probolinggo, Selasa (26/3/2019). Kawasan wisata Gunung Bromo masih aman dikunjungi wisatawan asalkan tidak melakukan aktivitas di area dalam radius 1 kilometer dari kawah Gunung Bromo. (merdeka.com/Arie Basuki)

Kawasan yang ekosistem pariwisatanya sudah mumpuni, harus disempurnakan ekosistemnya, dirumuskan strategi pemasarannya, dilakukan market mapping terlebih dahulu, baru di"push" promosi dan sales di target pasar masing-masing destinasi.

Dony sangat yakin, dengan mengembangkan dan memrioritaskan daerah-daerah tersebut secara serius, angka 35 juta wisman pada tahun 2024 sangat mungkin untuk diraih. Karena daerah-daerah tersebut menguasai lebih dari 60 persen total wisman yang datang.

Mengapa daerah-daerah tersebut yang dipilih? Menurut Dony, karena ekosistemnya sudah terbentuk. Wisman tidak datang hanya karena alasan satu destinasi, tapi karena adanya destinasi utama, destinasi pendukung, dan ekosistem kepariwisataan yang sudah ada, mulai dari aksesibilitas, amenitas, dan berbagai atraksi yang unik.

Untuk itu, kata Dony, daerah-daerah yang sudah siap tersebut, tinggal dibenahi dan dilengkapi ekosistemnya, ditentukan target pasar utamanya, di-creat paket-paket menarik, lalu di"push promo dan pemasarannya di negara-negara target pasar.

Dony sangat yakin, dengan pendekatan ini, yakni fokus pada destinasi di daerah prioritas untuk dikembangkan dengan pendekatan ekosistem tadi dalam lima tahun, maka ketujuh daerah tadi akan mengalami lonjakan wisman yang sangat besar.

"Dengan begitu, angka 35 juta di tahun 2024 menjadi sangat mungkin untuk diraih", tutup Dony. 

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓