Menko Darmin: Jangan Pusing Pikirkan Perang Dagang AS-China

Oleh Liputan6.com pada 26 Jun 2019, 14:00 WIB
Menteri Koordinator Perekonomian, Darmin Nasution

Liputan6.com, Jakarta Menteri Koordinator Perekonomian, Darmin Nasution mengaku tidak mau ambil pusing terkait dengan perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China. Dampak perang dagang antara kedua negara tersebut tidak terlalu besar ke ekonomi Indonesia.

"Sudahlah kita tidak ikut perang dagang kenapa pusing," kata Darmin di Jakarta, Rabu (26/6/2019).

Dia mengatakan ketimbang memikirkan urusan dampak dari perang dagang, lebih baik fokus terhadap investasi. Karena adanya perang dagang antara AS dan China justru menjadi peluang bagi Indonesia untuk menarik investasi dari negara-negara yang tedampak.

"Yang kita perlukan adalah bagaimana menarik orang agar datang investasi ke sini supaya dia tidak kena urusan perang dagang," jelas dia.

Seperti diketahui, perang dagang antara AS dan China kembali memanas setelah Presiden AS, Donald Trump mengancam untuk meningkatkan lebih dari dua kali lipat tingkat tarif menjadi 25 persen yakni USD 200 miliar barang-barang China.

Reporter: Dwi Aditya Putra

Sumber: Merdeka.com

2 of 3

Ada Perang Dagang Untungkan Produsen Pakaian Calvin Clein

Kinerja Ekspor dan Impor RI
Aktivitas bongkar muat barang ekspor impor di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Dampak perang dagang tak selamanya negatif bagi setiap perusahaan. Salah satu perusahaan garmen yakni PT Golden Flower Tbk.

Perusahaan dengan kode saham POLU ini justru mengklaim raih untung dari perang dagang Amerika Serikat (AS)-China.

"Industri garmen ini tidak akan hilang dari dunia bisnis. Semua orang butuh pakai baju, apalagi dengan adanya trade war ini banyak produksi China yang tidak bisa ekspor ke AS harus lewat Indonesia," tutur Presiden Komisaris Perseroan, Po Sun Kok di Gedung BEI, Rabu (26/6/2019).

Po bahkan menegaskan, untuk tarif bea cukai RI sendiri kini sudah hampir serupa dengan Vietnam. Ini yang kemudian bawa dampak positif ke perusahaan.

"Dan yang menggembirakan kita adalah, tarif impor ke Amerika bea masuknya dinaikan. Sehingga Vietnam bukan lagi negara yang paling murah tapi dia akan sama dengan Indonesia tarif bea cukainya," terangnya.

Oleh karena itu, menurut Po Indonesia bakal unggul dalam perang dagang ini. Apalagi mengingat RI cukup berpengalaman di bidang garmen.

"Tapi kalau dibandingkan Vietnam dan Indonesia, Indonesia jauh lebih lama riwayatnya, tentunya lebih pengalaman untuk memproduksi baju yang high class yang brand bagus-bagus," kata dia.

"Jadi kita penuh keyakinan bahwa tahun yang akan datang ini lebih bagus garmennya," tambahnya.

PT Golden Flower Tbk memproduksi 900.000 potong pakaian mulai dari kemeja, blus, gaun, rok dan seragam per bulan.  Produk itu seluruhnya di ekspor dengan porsi 85 persen ke Amerika Serikat dan 15 persen terbagi ke Eropa, Kanada, Australia, Afrika Selatan, Jepang, dan pasar Asia lainnya.

3 of 3

Bertemu Jokowi, Bank Dunia Ingatkan Dampak Perang Dagang ke RI

Presiden Joko Widodo (Jokowi) menerima Perwakilan Bank Dunia di Indonesia, Rodrigo A Chaves. Pertemuan keduanya dilakukan secara tertutup di Istana Merdeka, Jakarta.

Usai pertemuan, Rodrigo menjelaskan dirinya melaporkan program kerja Bank Dunia di Indonesia selama satu tahun terakhir kepada Jokowi.

"Kami hanya melaporkan program kerja Bank Dunia di Indonesia selama satu tahun terakhir," ucapnya di Istana Kepresidenan Jakarta, Selasa (25/6/2019).

Selain soal program kerja, Rodrigo mengaku menyinggung kucuran pinjaman dana Bank Dunia kepada pemerintah dalam satu tahun terakhir. Dia membantah pertemuan ini membahas tawaran pinjaman dana baru.

"Tidak (menawarkan pinjaman dana baru). Kita hanya mengulas pinjaman-pinjaman yang sudah diberikan selama satu tahun terakhir," tegas Rodrigo.

Kepada pemerintahan Jokowi-Jusuf Kalla, Rodrigo mengingatkan agar memperhatikan betul perkembangan ekonomi global. Dia menyebut perang dagang Amerika Serikat dan China yang masih terjadi hingga kini memberikan ketidakpastian ekonomi dunia. Tidak tertutup kemungkinan, perang dagang tersebut memberikan dampak negatif pada perekonomian Indonesia.

"Ada awan hitam yang menggelantung karena perang dagang. Semoga saja negosiasi antara dua negara kuat (AS-Tiongkok) segera terjadi agar dampak perang dagang tak berdampak semakin buruk untuk semua pihak," kata dia.

Reporter: Titin Supriatin

Sumber: Merdeka.com

Lanjutkan Membaca ↓

Live Streaming

Powered by
Tragedi Kabut Asap