Dibayangi Perang Dagang, IHSG Dibuka Menguat ke 6.195,13

Oleh Arthur Gideon pada 18 Jun 2019, 09:15 WIB
Diperbarui 18 Jun 2019, 10:16 WIB
Pembukaan-Saham

Liputan6.com, Jakarta - Gerak Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berada di zona hijau pada awal sesi perdagangan saham.  Eskalasi perang dagang antara Amerika Serikat (AS)-China masih terus membayangi laju IHSG. 

Pada pra pembukaan perdagangan saham, Selasa (18/6/2019), IHSG naik tipis 4,60 poin atau 0,07 persen ke posisi 6.195,13. Pada pukul 09.00 waktu JATS, IHSG menguat 11,29 poin atau 0,18 persen ke posisi 6.202,02.

Indeks saham LQ45 naik 0,26 persen ke posisi 982,09. Seluruh indeks saham acuan menguat.

Pada awal sesi perdagangan, IHSG sempat berada di level tertinggi 6.206,37 dan terendah 6.195,13. Total frekuensi perdagangan saham 14.692 kali dengan volume perdagangan 1,2 miliar saham. Nilai transaksi harian saham Rp 287 miliar.

Investor asing jual saham Rp 15 miliar di pasar regular. Posisi dolar Amerika Serikat (AS) berada di kisaran Rp 14.335.

Sebagian besar sektor saham menguat kecuali sektor saham pertambangan yang melemah 0,07 persen. Sementara itu, sektor saham industri dasar menguat 0,70 persen, sektor saham manufaktur naik 0,43 persen dan sektor saham baran konsumsi menanjak 0,41 persen.

Saham-saham yang cetak penguatan terbesar di awal sesi antara lain saham BOLA naik 25 persen ke posisi Rp 370 per saham, saham CCSI melonjak 16 persen ke posisi Rp 288, dan saham SMBR mendaki 10,83 persen ke posisi Rp 870 per saham.

Sementara itu, saham-saham yang tertekan antara lain saham YELO merosot 11,67 persen ke posisi Rp 212 per saham, saham FITT susut 10 persen ke posisi Rp 216 per saham, dan saham CEKA melemah 8,50 persen ke posisi Rp 1.400 per saham.

2 of 3

Prediksi Analis

IHSG Menguat 11 Poin di Awal Tahun 2018
Layar indeks harga saham gabungan menunjukkan data di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (2/1). Angka tersebut naik signifikan dibandingkan tahun 2016 yang hanya mencatat penutupan perdagangan pada level 5.296,711 poin. (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Analis PT PT Reliance Sekuritas, Lanjar Nafi Taulat Ibrahimsyah mengatakan, eskalasi perang dagang antara Amerika Serikat (AS)-China masih terus membayangi laju IHSG

Bahkan, kekhwatiran investor asing tentang kepastian tensi perdagangan tidak mereda setelah Sekretaris Perdagangan AS Wilbur Ross menegaskan prospek kesepakatan tidak mungkin muncul dari kemungkinan pertemuan antara Donald Trump dan Presiden Cina Xi Jinping di KTT Kelompok 20 Osaka pada akhir Juni 2019. 

Oleh sebab itu, dirinya menilai IHSG kemungkinan besar masih tersungkur ke zona negatif pada rentang 6.163-6.230.

"Dari dalam negeri, investor mengkhawatirkan pelemahan rupiah akan berlanjut pasca pemotongan suku bunga yang cukup santer terdengar di mana hal tersebut akan memicu peningkatan kembali utang luar negeri Indonesia," terang dia.

Adapun utang luar negeri (ULN) hingga bulan April 2019 terdiri atas utang pemerintah yang ditambah dengan bank sentral sebesar USD 189,7 miliar dan utang swasta termasuk BUMN sebesar USD 199,6 miliar.

Sementara itu, dari sisi teknis, Analis PT Binaartha Parama Sekuritas Muhammad Nafan Aji Gustama menjelaskan candlestick indeks masih tertahan disekitar area resistance moving average.

Kata dia, investor hingga kini masih terlihat wait and see menunggu hasil keputusan suku bunga The Federal Reserve atau bank sentral AS.

"Untuk hari ini, IHSG masih berpeluang terkoreksi wajar di kisaran 6.141-6.287," paparnya.

Dari Binaartha Sekuritas, saham rekomendasi hari ini cukup beragam. Itu seperti saham PT Gudang Garam Tbk (GGRM), PT Delta Dunia Makmur Tbk (DOID), dan PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN).

Kemudian Reliance Sekuritas menyarankan investor untuk membeli saham PT Erajaya Swasembada Tbk (ERAA), dan PT Ramayana Lestari Sentosa Tbk (RALS).

3 of 3

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓

Live Streaming

Powered by