Harga Minyak Tumbang Imbas Sengketa Dagang AS-China

Oleh Nurseffi Dwi Wahyuni pada 11 Jun 2019, 06:15 WIB
Diperbarui 11 Jun 2019, 07:17 WIB
ilustrasi harga minyak

Liputan6.com, New York - Harga minyak turun lebih dari 1 persen pada hari Senin (Selasa pagi WIB) dipicu ketegangan perdagangan AS-China yang terus mengancam permintaan minyak dan karena produsen utama Arab Saudi dan Rusia belum sepakat untuk memperpanjang kesepakatan pemotongan produksi.

Dilansir dari Reuters, Selasa (11/6/2019), harga minyak mentah berjangka Brent turun USD 1 atau 1,6 persen menjadi USD 62,29 per barel. Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS kehilangan USD 73 sen atau 1,4 persen menjadi USD 53,26 per barel.

Presiden AS Donald Trump menyatakan kesiapannya untuk memberlakukan putaran lain dari tarif hukuman pada impor Tiongkok jika dia tidak mencapai kesepakatan perdagangan dengan Presiden China pada KTT G20 akhir bulan ini.

Kementerian luar negeri China mengatakan bahwa China terbuka untuk pembicaraan perdagangan lebih banyak dengan Washington tetapi tidak ada yang mengumumkan tentang kemungkinan pertemuan.

Impor minyak mentah China merosot ke sekitar 40,23 juta ton pada Mei, dari tertinggi sepanjang masa 43,73 juta ton pada April, data bea cukai menunjukkan. Hal ini terjadi karena adanya penurunan impor Iran yang disebabkan sanksi AS dan pemeliharaan kilang.

Barclays Bank dalam sebuah catatan, mengatakan para ekonomnya telah merevisi turun prospek pertumbuhan PDB Amerika Serikat, China, India dan Brasil - negara-negara yang berkontribusi lebih dari tiga perempat dari asumsi pertumbuhan permintaan minyak dunia untuk tahun ini.

"Revisi menyiratkan pengurangan 300.000 barel per hari dari prospek permintaan minyak global tahun ini sebesar 1,3 juta barel per hari," kata Bank asal Inggris tersebut

 

2 of 2

Pemotongan produksi

lustrasi harga minyak
Ilustrasi harga minyak (iStockPhoto)

Di sisi pasokan, Menteri Energi Saudi Khalid al-Falih mengatakan Rusia adalah satu-satunya negara pengekspor minyak yang masih ragu mengenai perlunya memperpanjang kesepakatan pemotongan produksi yang telah disepakati negara produsen minyak terbesar.

Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan beberapa non-anggota, termasuk Rusia, telah menahan pasokan sejak awal tahun untuk menopang harga minyak. Kesepakatan ini akan berakhir bulan ini.

Namun, Menteri Energi Rusia Alexander Novak menilai masih adanya risiko harga turun tajam jika produsen minyak memompa terlalu banyak minyak. Novak mengaku tidak bisa mengesampingkan penurunan harga minyak menjadi USD 30 per barel jika kesepakatan global tidak diperpanjang.

Banyak negara pengekspor minyak telah mengkonfirmasi bahwa mereka siap untuk mengadakan pertemuan OPEC di Wina pada 2-4 Juli, alih-alih tanggal yang dijadwalkan akhir bulan ini, kata Novak.

Di Amerika Serikat, produksi minyak mentah telah melonjak, naik ke rekor mingguan di 12,4 juta barel per hari, sementara stok minyak mentah telah naik mendekati level tertinggi dua tahun, menurut data Administrasi Informasi Energi pekan lalu.

"Pasar telah melihat tekanan selama beberapa minggu terakhir karena kenaikan signifikan dalam persediaan minyak mentah di AS yang telah menekan harga minyak. Kini pasar menunggu hasil pertemuan produsen OPEC dan non-OPEC di Wina," kata Andrew Lipow dari Lipow Oil Associates

Lanjutkan Membaca ↓

Live Streaming

Powered by