Harga Emas Dekati Level Tertinggi karena Harapan Penurunan Bunga

Oleh Arthur Gideon pada 06 Jun 2019, 08:00 WIB
20151109-Ilustrasi-Logam-Mulia

Liputan6.com, Jakarta - Harga emas kembali menguat pada penutupan perdagangan Rabu (Kamis pagi waktu Jakarta), setelah melonjak ke level tertinggi dalam 15 pekan.

Pendorong utama kenaikan harga emas adalah kekhawatiran akan pelemahan pertumbuhan ekonomi global. Selain itu, ekspektasi pemotongan suku bunga Bank Sentral AS atau the Fed juga mendorong investor untuk berbodong-bondong memborong emas.

Mengutip CNBC, Kamis (6/6/2019), harga emas di pasar spot naik 0,4 persen ke level USD 1.329,57 per ounce. Harga logam mulia ini sebelumnya telah melonjak sebanyak 1,4 persen menjadi USD 1.343,86 per ounce, dalam jarak yang sangat dekat dari puncak 10 bulan di USD 1.346,73 per ounce.

Sedangkan harga emas berjangka AS naik 0,4 persen pada USD 1.333,60 per ounce.

"Pidato Powell (Gubernur the Fed) kemarin tentang bagaimana dia akan mengawasi ekonomi untuk potensi menurunkan suku bunga memberikan tawaran yang sangat baik untuk emas," kata Michael Matousek, kepala Perdagangan di U.S. Global Investors.

Pada hari Selasa, Gubernur the Fed Jerome Powell tidak lagi mengatakan akan bersabar dalam menentukan penyesuaian suku bunga. Dlama pidato tersebut, Powell mengatakan bank sentral akan merespons sebagaimana mestinya.

Harga emas naik karena ekspektasi penurunan suku bunga. Jika suku bunga lebih rendah maka akan mengurangi membebani gerak dolar AS sehingga menguntungkan harga emas.

The dollar index jatuh ke level terendah dalam delapan minggu setelah data menunjukkan pengusaha swasta AS menambahkan pekerjaan paling sedikit pada periode mei, sejak 2010,

Data ini memperparah kekhawatiran akan pertumbuhan ekonomi AS dan bisa menjadi mangsa perang dagang yang memanjang.

2 of 3

Perdagangan Sebelumnya

20151109-Ilustrasi-Logam-Mulia
Ilustrasi Logam Mulia (iStockphoto)

Pada perdagangan sebelumnya, harga emas berjangka menguat terbatas seiring bursa saham Amerika Serikat (AS) atau wall street yang melonjak.

Harga emas cenderung menguat pada pekan ini. Penguatan harga emas terbesar didorong ketegangan antara AS dan negara lainnya terkait tarif. Di sisi lain ada harapan suku bunga akan rendah dah mendorong imbal hasil obligas turun tajam.

Harga emas untuk pengiriman Agustus di divisi Comex naik 80 sen atau hampir 0,1 persen ke posisi USD 1.328,70 per ounce.  Harga emas ini tertinggi sejak 25 Februari.

Harga perak untuk pengiriman Juli naik 2,9 sen atau 0,2 persen ke posisi USD 14.769 per ounce usai naik 1,2 persen pada awal pekan ini. 

 

Bursa saham AS atau wall street menguat pada perdagangan saham Selasa. Akan tetapi, investor dibayangi kebijakan negosiasi perdagangan da data manufaktur AS pada Mei yang cenderung melambat dalam 2,5 tahun.

Pada Selasa, Chairman The Federal Reserve atau bank sentral AS Jerome Powell menuturkan, suku bunga dapat dipangkas jika ketegangan perang dagang dapat menekan prospek ekonomi global.

Ia juga menuturkan, the Federal Reserve tidak ketahui bagaimana dan kapan isu perdagangan ini akan diselesaikan.

Analis Senior Oanda, Craig Erlam menuturkan, dolar AS pun berbalik arah ke posisi melemah seiring pelaku pasar merespons pernyataan Powell. Indeks dolar AS pun cenderung mendatar di kisaran 97,16.

"Ada reaksi terhadap komentar Powell, tetapi mereka sulit untuk menyimpulkan sehingga membuat dolar AS melemah dan emas berjuang untuk dipegang. Pandangan pada Juni kalau terbuka kemungkinan pemangkasan suku bunga tetapi sepertinya tidak, komentar Powell belum berubah. Masih ada sentimen pengaruhi lainnya seperti laporan data tenaga kerja," ujar Erlam.

3 of 3

Saksikan video pilihan berikut ini:

Lanjutkan Membaca ↓