Syahrini Jual Mukena Rp 3,5 Juta Kena Pajak, Ini Kata DJP

Oleh Agustina Melani pada 31 Mei 2019, 13:40 WIB
Diperbarui 31 Mei 2019, 14:54 WIB
Pajak

Liputan6.com, Jakarta - Syahrini sukses jual mukena senilai Rp 3,5 juta. Mukena tersebut meski harganya jutaan mampu terjual 5.000 buah.

Hal itu juga menarik Direktorat Jenderal Pajak Kementerian Keuangan (Ditjen Pajak) Kemenkeu. Lewat akun media sosial twitter @DitjenPajak RI, DJP menghitung besaran pajak dari penjualan mukena 5.000 buah dengan harga Rp 3,5 juta per buah.

Penjualan mukena 5.000 buah@ Rp 3,5 juta. Rp 3.500.000x5.000= Rp 17,5 miliar. PPN=Rp 1,75 miliar.

Direktur Penyuluhan, Pelayanan dan Humas Ditjen Pajak, Hestu Yoga Saksama menuturkan, unggahan penghitungan PPN untuk memberikan edukasi kepada masyarakat. "itu memberikan edukasi saja kepada masyarakat," ujar Hestu saat dihubungi Liputan6.com.

Ia menuturkan, kalau ada kewajiban menjadi pengusaha kena pajak (PKP) bagi pengusaha yang peredaran brutonya sudah melebihi Rp 4,8 miliar dalam setahun.

Direktorat Jenderal Pajak (DJP) pun memberikan penjelasan mengenai penerapan pajak pertambahan nilai (PPN) untuk penjualan mukena tersebut.

Lewat laman pajak.go.id, DJP menyebutkan, pada dasarnya mukena tidak termasuk dalam jenis barang yang tidak dikena PPN. Artinya mukena merupakan barang kena pajak, sehingga atas penyerahan atau penjualannya di dalam daerah pabean Indonesia terutang PPN sebesar 10 persen.

PPN akan terutang dalam hal yang melakukan penyerahan atau penjualan mukena itu adalah pengusaha kena pajak (PKP) atau pengusaha yang seharusnya sudah dikukuhkan sebagai PKP.

Pengusaha wajib mengukuhkan diri sebagai PKP apabila dalam suatu tahun buku peredaran bruto dan atau penerimaan brutonya telah melebihi Rp 4.800.000.000.

Dalam hal pengusaha tersebut tidak mengukuhkan diri sebagai PKP, Ditjen Pajak dapat melakukan pengukuhan PKP secara jabatan dan kewajiban perpajakan (PPN) tetap terutang (dapat ditagih) sejak peredaran brutonya melebihi Rp 4.800.000.000.

Dengan demikian, PKP yang melakukan penjualan mukena terutang PPN sebesar 10 persen dari harga jual dan wajib membuat faktur pajak atas penjualan mukena tersebut. PPN adalah pajak tidak langsung, sehingga beban PPN sebesar 10 persen dari harga jual mukena tersebut ditanggung oleh konsumen dan pembeli.

Lalu berapa jumlah PPN yang harus disetor kepada kas negara oleh PKP?

Indonesia mengenal mekanisme pajak keluaran dan pajak masukan dalam sistem pemungutan PPN. PPN yang dipungut oleh PKP atas hasil penjualan mukena disebut sebagai pajak keluaran.

Pada waktu PKP penjual mukena melakukan pembelian mukena dari PKP lain (misalnya pabrikan) dan dikenakan PPN, maka PPN itu disebut sebagai pajak masukan.

Jumlah yang disetor ke kas negara oleh PKP pada setiap bulannya adalah selisih antara pajak keluara dan pajak masukan (dalam hal pajak keluaran lebih besar dari pada pajak  masukan).

Jika pajak keluaran lebih kecil dari pada pajak masukan, maka selisihnya dapat dikompensasi ke masa pajak berikutnya atau dimintakan restitusi (pengembalian). Syarat dan ketentuan berlaku.

Perhitungan PPN ini dituangkan dalam SPT masa PPN yang wajib dilaporkan paling lambat akhir bulan berikutnya juga.

Contoh:

Anton sebagai PKP menjual 5.000 mukena pada Mei 2019. Harga jual satu lembar mukena sebesar Rp 3.500.000. Anton ketika menjual mukena itu wajib memungut PPN. Jika terjual ludes, total PPN yang dipungut Anton adalah sebesar Rp 1,75 miliar (5.000xRp 3.500.000x10 persen).

Anton membeli 5.000 mukenanya dari PKP yang lain (pabrikan) sebesar Rp 2.000.000 per lembar mukena. Pada saat membeli itu, Anton dipungut PPN sebesar 5.000XRp 2.000.000x10 persen=Rp 1 miliar oleh PKP pabrikan.

Jadi, jumlah PPN yang disetor ke kas negara paling lambat akhir bulan berikutnya (sebelum melaporkan SPT Masa PPN) adalah sebesar Rp 750 juta (pajak keluaran sebesar Rp 1,75 miliar dikurangi pajak masukan sebesar Rp 1 miliar).

2 of 4

Syahrini Berjualan Mukena Unik

Syahrini (Foto: Instagram)
Syahrini kenakan hijab dan gamis selama berada di Tanah Suci (Foto: Instagram)

Momen Ramadan, dan Lebaran benar-benar dimanfaatkan Syahrini, untuk melebarkan sayap bisnisnya. Bila sebelumnya, ia hanya menjual jilbab, kini ia mulai menjual kebutuhan muslimah lainnya.

Syahrini mulai mempromosikan busana muslim miliknya. Melalui brand Fatimah Syahrini Scarf, istri Reino Barack melempar sejumlah model busana yang bisa digunakan masyarakat untuk Lebaran.

Produk yang ditawarkan Syahrini meliputi busana muslim, scarf dan asesoris ibadah. Yang menarik, ada asesoris ibadah bagi perempuan seperti mukena yang dirancang Syahrini secara khusus.

Selain memadukan warna dan bahan yang enak dipakai, tampilan mukena yang dipasarkan Syahrini juga menarik mata kaum hawa yang melihatnya.

 

3 of 4

Pin Emas

Gaya Modis Syahrini Saat Berhijab
Syahrini tampil elegan dengan senyum merekah mengenakan gamis merayakan Hari Raya Idul Adha Tahun 2017. (Liputan6.com/Instagram/@princessyahrini)

Pada mukena yang dipasarkan Syahrini terdapat pin bertuliskan inisial namanya, SYR. Namun, bukan Syahrini jika tak memberikan efek cetar pada produk yang dipasarkannya.

Sebab, pin nama SYR yang menempel di mukena yang dijualnya, dibalut emas sebesar 24 karat. Melalui Instagram Stories, Syahrini membenarkan keaslian emas tersebut.

"Pin SYR di mukena Incesss berlapiskan emas 24 karat," tulis Syahrini.

4 of 4

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini

Lanjutkan Membaca ↓

Live Streaming

Powered by