Mendag: Investor Jepang Kian Percaya dengan Indonesia

Oleh Septian Deny pada 29 Mei 2019, 15:06 WIB
20151113-Ilustrasi Investasi

Liputan6.com, Jakarta Menteri Perdagangan (Mendag) Enggartiasto Lukita menyatakan selesainya proses pemilihan umum (Pemilu) di Indonesia membuat investor semakin yakin untuk menanamkan modal ke Indonesia. Salah satunya investor asal Jepang.

Hal tersebut diungkapkan Enggar usai menggelar pertemuan dengan Menteri Ekonomi, Perdagangan, dan Industri (METI) Jepang Hiroshige Seko.

Enggar mengatakan, sejauh ini para pengusaha dan investor asal Negeri Sakura tersebut merespon positif jalannya pesta demokrasi di Indonesia. Meski, pasca pengumuman Komisi Pemilihan Umum (KPU) terjadi gejolak dengan adanya aksi unjuk rasa 22 Mei.

"Enggak (bicara) sedetail itu. Tapi dengan respon itu menunjukkan indikasi yang sangat postif mengenai kerjasama ekonomi, perdagangan, ekspor-impor, investasi. Ada trust yang kelihatan sekali dan mereka menyambut dengan sangat baik," ujar dia di Kantor Kementerian Perdagangan, Jakarta, Rabu (29/5/2019).

Selain itu, lanjut dia, Indonesia dan Jepang juga selama ini telah memiliki hubungan bilateral yang baik. Hal ini dinilai akan membuat kerja sama antar kedua negara berjalan lebih lancar.

"Dengan hubungan-hubungan yang ini dan tadi juga disampaikan kita memunyai hubungan pribadi antara kepala negara, antara para menteri. Saya harus undang dia jalan-jalan di Indonesia," tandas dia.

2 of 3

Jepang Bakal Minta Dukungan Keterbukaan Data Informasi di G20

Gaya Mendag Enggartiasto Lukita Saat Pemotretan
Mendag Enggartiasto Lukita saat pemotretan dalam kunjungannya ke Kantor Liputan6 di SCTV Tower, Jakarta (4/5). Enggartiasto tercatat pernah memegang jabatan antara lain Ketum Real Estate Indonesia (REI), periode 1992-1995. (Liputan6.com/Herman Zakharia)

Menteri Perdagangan, Enggartiasto Lukita mengadakan pertemuan khusus dengan Menteri Ekonomi, Perdagangan, dan Industri (METI) Jepang Hiroshige Seko, membahas mengenai masalah sektor perdagangan yang akan dibawa dalam pertemuan tingkat tinggi negara-negara G20 di Osaka, Jepang akhir Juni mendatang.

Salah satunya mengenai multilateral trading system terkait reformasi WTO (World Trade Organization).

"Persiapan nanti dia (Jepang) sebagai tuan rumah dia melobi negara-negara dan meminta dukungan agar mendapatkan sikap yang sama mengenai multilateral trading system mengenai reformasi WTO," ujar Enggartiasto saat ditemui di Kantor Kementerian Perdagangan, Rabu (29/5/2019).

Enggartiasto melanjutkan, dalam pertemuan yang digelar bersama 20 negara tersebut, Jepang ingin mengajak negara lain ikut mendukung keterbukaan data informasi yang dikenal dengan nama data free flow with trust.

"Jepang mengharapkan bisa mencapai kesepakatan, secara umum Jepang mengharapkan mendukung sampai menghasilkan satu kesepakatan bersama tingkat menteri. Hal yang Jepang usulan karena ini praksasa Jepang data free flow with trust," ujar dia.

Tawaran tersebut pun telah diskusikan dengan Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara. Hal itu pun telah disepakati namun dengan beberapa catatan.

"Jadi dari minilogi saja sudah ada perbedaan di berbagai negara. Tetapi kami sudah dengan menkominfo, Indonesia bisa menerima dengan beberapa catatan," ujar Enggartiasto.

Kesepakatan tersebut diperlukan mengingat ketertutupan data di dunia semakin meningkat. "Kita sampaikan dan Jepang bisa melihat, beberapa bahasan data strategis harus di kita. Kita juga sampaikan G20 dalam kesepakatan itu memiliki kesamaan sikap mengenai proteksionisme di dunia semakin meningkat," tandasnya.

 

Reporter: Anggun P.Situmorang

Sumber: Merdeka.com

 

3 of 3

Indonesia dan Rusia Bahas Kerja Sama Siber dan Turisme

Sebelumnya, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Republik Indonesia/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) Bambang Brodjonegoro bertemu dengan Menteri Industri dan Perdagangan Rusia, Danis Manturov.

Pertemuan keduanya untuk membahas sejumlah kerja sama, antara lain bidang siber, turisme, dan sumber daya alam (SDA).

Menteri Bambang berkata pada tahun 2020-2024, kerja sama potensial Indonesia-Rusia adalah SDA. Ini seperti minyak sawit mentah, batubara, dan gas, kemudian Energi Baru Terbarukan (EBT), penerbangan, dan industri Maintenance, Repair, and Overhaul (MRO).

"Minyak sawit mentah (CPO), kopra, dan margarin adalah komoditas ekspor utama Indonesia ke Federasi Rusia. Sementara produk setengah jadi dari besi atau baja adalah komoditas impor terbesar Indonesia dari Federasi Rusia," jelas Menteri Bambang, seperti dikutip dalam rilis resminya, Jumat, 24 Mei 2019.

Selain sektor SDA, Rusia juga tertarik pada kerja sama di bidang keamanan siber yang hanya diberikan ke negara mitra terpilih. Rusia juga sangat berminat untuk bekerja sama di bidang kota pintar, shipbuilding, pharmaceuticals.

Pada pertemuan yang berlangsung di rangkaian The Second Stolypin Forum ini, sektor turisme juga ikut disorot Rusia. Hal tersebut mengingat arus wisata warga Rusia ke Indonesia masih jauh tertinggal ketimbang yang pergi ke Thailand.

 

Lanjutkan Membaca ↓