Perusahaan Arab Saudi Gugat Multistrada dan Pieter Tanuri

Oleh Agustina Melani pada 27 Mei 2019, 19:30 WIB
Palu hakim

Liputan6.com, Jakarta - Perusahaan ritel ban Arab Saudi, Tire Technology Est menggugat PT Multistrada Arah Sarana Tbk (MASA) dan Pieter Tanuri.

Mengutip laman SIPP Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Senin (27/5/2019), surat gugatan tersebut pada Senin, 13 Mei 2019. Pendaftaran gugatan dilakukan pada Kamis, 16 Mei 2019 dengan klasifikasi perkara perbuatan melakukan hukum. Nomor perkara 299/Pdt.G/2019/PN Jkt.Pst.

Adapun Tire Technology Est bertindak sebagai penggugat.Sedangkan PT Multistrada Arah Sarana Tbk sebagai tergugat I dan Pieter Tanuri sebagai tergugat II.

Untuk pokok perkara tersebut antara lain:

1.Menerima dan mengabulkan gugatan penggugat untuk seluruhnya.

2.Memerintahkan peletakan sita jaminan (conservatoir beslag) atas harta benda milik tergugat I dan tergugat II.

3. Menyatakan sita jaminan atas harta benda milik tergugat I dan tergugat II adalah sah dan berharga

4. Menyatakan tergugat I dan tergugat II telah melakukan perbuatan melawan hukum terhadap penggugat

5. Menyatakan batal dan tidak memiliki kekuatan hukum notification letter pada 7 April 2015.

6. Menghukum tergugat I dan tergugat II secara tanggung renteng untuk mengganti kerugian akibat perbuatan melawan hukum kepada penggugat yaitu:

a. Kerugian materiil sebesar USD 1.927.647,65 (USD 1,92 juta) atau sekitar Rp 27,74 miliar (asumsi kurs Rp 14.393 per dolar AS).

b. Kerugian immaterial sebesar Rp 10 miliar.

Tire Technology Est merupakan agen global eksklusif di Arab Saudi untuk ban Indonesia antara lain Swallow, Spectra, Delium dan Achilles.

Adapun Pieter Tanuri merupakan pemilik lama PT Multistrada Arah Sarana Tbk sebelum diakuisisi perusahaan Prancis, Compagnie Generale Des Etablissements Michelin (Michelin). Michelin akuisisi 80 persen saham MASA atau sekitar 7.346.357.556 saham termasuk saham-saham yang dimiliki pengendali perseroan Pieter Tanuri.

Saat dikonfirmasi mengenai gugatan tersebut, Pieter Tanuri belum menjawab pesan singkat dari Liputan6.com.

2 of 4

Michelin Akuisisi Saham Multistrada

Pasar saham Indonesia naik 23,09 poin
Pekerja mengamati pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di salah satu perusahaan Sekuritas, Jakarta, Rabu (14/11). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil bertahan di zona hijau pada penutupan perdagangan hari ini. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Sebelumnya, Perusahaan Prancis, Compagnie Generale Des Etablissements Michelin (Michelin) akan mengakuisisi atau mengambilalih 80 persen saham PT Multistrada Arah Sarana Tbk (MASA) senilai USD 439 juta atau Rp 6,22 triliun.

80 persen saham itu setara 7.346.357.556 saham perseroan termasuk saham-saham yang dimiliki pengendali perseroan Pieter Tanuri.

Berdasarkan data RTI, per 31 Desember 2018, pemegang saham PT Multistrada Arah Sarana Tbk antara lain Pieter Tanuri sebesar 20,60 persen, PT Central Sole Agency sebesar 16,67 persen, Lunar Crescent International Inc sebesar 14,91 persen dan publik kurang dari lima persen sebesar 47,83 persen.

Mengutip keterbukaan informasi ke Bursa Efek Indonesia (BEI), seperti ditulis Rabu, 23 Januari 2019, nilai perusahaan tersebut sebesar USD 700 juta atau sekitar Rp 9,93 triliun (asumsi kurs Rp 14.187 per dolar Amerika Serikat).

Untuk penyesuaian penyelesaian tertentu dalam perjanjian jual beli saham, Michelin akan membayar kepada para penjual senilai USD 439 juta atau sekitar Rp 6,22 triliun.Penandatangan perjanjian jual beli saham itu dilakukan pada 22 Januari 2019.

Lewat transaksi ini, Michelin akan memperkuat kehadirannya di pasar Indonesia yang sangat menjanjikan tetapi didominasi produk lokal dengan mengambil alih pabrik lokal yang sangat kompetitif. Hal itu dengan fasilitas berkualitas baik serta kapasitas produksi yang tersedia dengan segera.

PT Multistrada Arah Sarana mencatatkan kapasitas produksi lebih dari 180 KT berupa 11 juta ban mobil penumpang, 9 juta ban kendaraan roda dua dan 250 ribu ban truk. Perseroan menghasilkan penjualan bersih sebesar USD 281 juta pada 2017.

Melalui transaksi tersebut, Michelin juga akan mengambilalih 20 persen saham di perusahaan ritel PT Penta Artha Impressi (Penta) dalam kemitraan dengan Indomobil dan investor swasta yang akan meningkatkan pemasaran dan penjualan merek grup Michelin.

Ini memungkinkan Michelin untuk mendapatkan akses signifikan ke pasar utama dan berada dalam posisi tepat untuk mendapatkan keuntungan dari pertumbuhan dan perluasan pasar di masa depan.

"Pengambilalihan Multistrada merupakan suatu peluang yang bagus bagi Michelin untuk memperluas operasinya di Indonesia. Negara dengan populasi terpadat di Asia Tenggara dan dengan segera mendapatkan kapasitas produksi yang kompetitif dan berkualitas baik tanpa harus membangun fasilitas manufaktur baru," tutur  Chief Executive Officer Grup Michelin, Jean-Dominique Senard, seperti dikutip dari keterangan tertulis.

Sementara itu, Presiden Direktur Multisrada Arah Sarana Pieter Tanuri menuturkan, pihaknya mengapresiasi apa yang diraih bersama Multistrada.

Perseroan percaya Michelin merupakan mitra ideal untuk membawa Multistrada maju ke era pertumbuhan dan kesuksesan yang baru untuk kepentingan seluruh pemangku kepentingan dan para karyawan.

 

3 of 4

Rencana Michelin ke Depan

Ban Michelin
Pemasok ban MotoGP 2017, Michelin, yakin produknya akan sesuai dengan karakter aspal baru di Sirkuit Sachsenring pada MotoGP Jerman, Minggu (2/7/2017). (gpone.com)

Selanjutnya, Michelin akan secara bertahap mengubah produksi dari ban mobil penumpang Tier 3 menjadi merek grup Michelin Tier 2 sehingga memungkinkan lebih banyak produksi Tier 1 di pabrik Asia lainnya. Selain itu mendukung pertumbuhan permintaan volume Tier 2 di Eropa, Amerika Utara dan Asia.

Adapun sinergi potensial di bidang manufaktur, penjualan dan pembelian untuk grup Michelin diperkirakan mencapai USD 70 juta per tahun dalam waktu tiga tahun sejak pengambilalihan saham.

Hal itu termasuk kepemilikan 20 persen di ritel Penta dan 50 hektar tanah yang tersedia dinyatakan memiliki nilai perusahaan sebesar USD 700 juta yang mewakili 6,3 kali earning before interest, tax, depreciation and amortization (ebitda) akhir September 2018 (12 bulan terakhir) setelah sinergi.

 

4 of 4

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini

Lanjutkan Membaca ↓