Kemenperin Genjot IKM Komponen Otomotif Terapkan Industri 4.0

Oleh Septian Deny pada 14 Mei 2019, 12:36 WIB
Diperbarui 14 Mei 2019, 13:17 WIB
(Foto: Liputan6.com/Septian Deny)

Liputan6.com, Jakarta - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mengajak pelaku industri kecil dan menengah (IKM) di sektor industri komponen otomotif lokal untuk mulai mengimplementasikan industri 4.0.

Hal ini guna mendorong produk komponen otomotif Indonesia menembus pasar ekspor. Direktur Jenderal IKM dan Aneka (IKMA) Kemenperin, Gati Wibawaningsih mengatakan, pihaknya berupaya meningkatkan daya saing IKM di era industri 4.0 khususnya IKM komponen otomotif melalui program pembinaan dan pengembangan SDM dan teknologi.

"Kami kenalkan lebih dalam terkait tools Internet of Things (IOT) dan Enterprise Resource Planning (ERP) serta akan dibantu dalam menentukan tools yang tepat sebagai prioritas untuk diterapkan dalam proses produksinya," ujar dia di Kantor Kemenperin, Jakarta, Selasa (14/5/2019).

Gati menuturkan, keberadaan IKM komponen otomotif dalam rantai pasok industri otomotif nasional memiliki peran strategis ebagai suplier yang memproduksi komponen maupun aksesoris mobil dan motor. Produk dari IKM ini juga telah memenuhi standar kualitas APM. 

"IKM juga telah membuktikan kemampuannya dalam berinovasi dan melakukan pengembangan produk untuk dapat diserap APM," kata dia.

Kemenperin mencatat, pada 2018, produksi kendaraan roda empat atau lebih mencapai angka 1,34 juta unit, dengan total unit penjualan di dalam negeri sebesar 1,15 juta unit. 

Saat ini, tercatat jumlah IKM Komponen Otomotif sebanyak 450 unit usaha yang tersebar di 3 sentra produksi IKM Logam yaitu Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur. 

"Agar industri otomotif semakin kompetitif, maka tingkat komponen dalam negeri perlu ditingkatkan. Hal ini akan membuka peluang lebih luas bagi IKM untuk mengisinya, terlebih apabila didukung dengan peningkatan produktivitas melalui implementasi industri 4.0 dalam menunjang proses produksi," ‎tandas dia.

 

2 of 4

Sektor Otomotif Jadi Andalan Wujudkan Industri 4.0

IIMS 2019
Pengunjung memadati ruang pamer pada pembukaan The 19th Indonesia International Motor Show (IIMS) 2019 pada hari pertama pembukaan di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Kamis (25/4). Pameran industri otomotif tersebut berlangsung 25 April - 5 Mei 2019. (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Sebelumnya, Menteri Perindustrian (Menperin), Airlangga Hartarto mengatakan industri otomotif nasional saat ini jadi sektor andalan dalam roadmap Making Indonesia 4.0.

Dia menargetkan, pada 2030, Indonesia dapat menjadi basis produksi kendaraan bermotor Internal Combustion Engine (ICE) maupun Electrified Vehicle untuk pasar domestik maupun ekspor.

"Tentunya dengan didukung oleh kemampuan industri dalam negeri dalam memproduksi bahan baku dan komponen utama serta optimalisasi produktivitas sepanjang rantai nilai industri tersebut," kata Airlangga dalam pembukaan IIMS 2019, di Jiexpo Kemayoran, Jakarta, Kamis, 25 April 2019.

Dia mengungkapkan, dalam roadmap pengembangan industri kendaraan bermotor, pemerintah menargetkan pada 2025 sebesar 20 persen dari total produksi kendaraan baru di Indonesia sudah berteknologi ramah lingkungan.

"Sehingga dapat mendukung komitmen Pemerintah Indonesia untuk dapat menurunkan emisi gas rumah kaca (CO2) sebesar 29 persen pada tahun 2030 tanpa bantuan internasional, sekaligus menjaga kemandirian energi nasional," ujar dia.

Sesuai dengan roadmap tersebut, Menperin mengatakan pemerintah juga telah mempersiapkan program pengembangan kendaraan emisi karbon rendah atau Program Low Carbon Emission Vehicle (LCEV).

"Program ini terdiri dari 3 sub program yaitu Kendaran Hemat Energi Harga Terjangkau (LCGC), Electrified Vehicle dan Flexy Engine," ujar dia.

 

3 of 4

Penerapan Industri 4.0 Tekan Biaya Produksi hingga 40 Persen

Revolusi Industri 4.0
Revolusi Industri 4.0. Dok: engineersjournal.ie

Sebelumnya, Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi), Adhi S Lukman mengatakan bahwa penggunaan teknologi 4.0 bakal memberikan sejumlah manfaat, termasuk menekan biaya produksi.

"Mereka (para pelaku usaha Mamin) bilang biaya produksi bisa turun 30-40 persen dengan menerapkan industri 4.0," kata dia, di acara acara Indonesia Industrial Summit 2019 di ICE BSD, Tangerang Selatan, Banten, Selasa, 16 April 2019.

Sejauh ini, kata Adhi, sejumlah industri mamin, terutama industri berskala besar sudah mulai memanfaatkan teknologi 4.0. "Untuk perusahaan besar tidak masalah, tapi perusahaan yang kecil menengah. Untuk itu saya mendorong pemerintah ikut membantu bagaimana memikirkan modal, karena ujung-ujungnya daya saing kita harus meningkat. Itu yang paling penting," urai Adhi.

"Industri mamin besar memang lebih mudah tapi saya mendorong yang kecil pun juga ikut. Karena 4.0 ini bukan monopoli industri besar, jadi industri kecil pun bisa menerapkan ini asal ada kemauan," imbuh dia.

Dia pun menyebutkan bahwa selama ini industri-industri besar pun turut melaksanakan pelatihan bagi industri kecil menengah untuk memanfaatkan teknologi dalam menjalankan usaha.

"Industri besar ternyata membuka diri, kita sudah banyak membuka training-training di lokasi industri besar. Itu kita apresiasi karena mereka bukan hanya jalan sendiri, tapi terbuka bagaimama yang menengah dan kecil ini mau belajar ke sana," tandasnya.

 

4 of 4

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini

Lanjutkan Membaca ↓

Live Streaming

Powered by