Harga Minyak Jatuh Akibat Perang Dagang

Oleh Arthur Gideon pada 14 Mei 2019, 06:15 WIB
Diperbarui 14 Mei 2019, 07:16 WIB
lustrasi tambang migas

Liputan6.com, Jakarta - Harga minyak turun pada penutupan perdagangan Senin (Selasa pagi waktu Jakarta), menyusul pelemahan di bursa saham. Penurunan harga minyak ini karena semakin memanasnya perang dagang yang diperkirakan akan memperlambat ekonomi dunia sehingga berdampak kepada permintaan minyak.

Di awal perdagangan, sebenarnya harga minyak sempat menguat karena adanya kekhawatiran kekurangan pasokan akibat adanya laporan serangan sabotase terhadap kanker di Timur Tengah. Sedangan tersebut diperkirakan akan dapat mengganggu persediaan.

Mengutip Reuters, Selasa (14/5/2019), harga minyak Brent untuk pengiriman Juli turun 39 sen menjadi USD 70,23 per barel. Harga patokan minyak global ini sebelumnya sempat mencapai level tertinggi di USD 72,58 per barel.

Sedangkan harga minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS turun 62 sen menjadi USD 61,04 per barel, setelah sebelumnya mencapai level USD 63,33 per barel.

Harga minyak ditekan oleh penurunan saham dan aset berisiko lainnya karena investor pindah ke instrumen safe havens seperti obligasi dan emas sebagai respons terhadap perang perdagangan AS-China yang semakin intensif.

China menentang peringatan dari Presiden AS Donald Trump dan bergerak untuk mengenakan tarif lebih tinggi pada berbagai barang AS termasuk sayuran beku dan gas alam cair. Tindakan itu secara luas diperkirakan setelah Washington pekan lalu menaikkan tarif impor China sebesar USD 200 miliar.

Investor khawatir perang perdagangan antara dua negara dengan kekuatan ekonomi terbesar di dunia ini dapat meningkat lebih lanjut dan menggagalkan ekonomi global.

"Aksi jual signifikan di pasar ekuitas telah menyeret minyak mentah turun," kata Andrew Lipow, presiden Lipow Oil Associates di Houston.

"Harga minyak mentah akan jauh lebih rendah seandainya tidak ada sabotase pada tanker di Timur Tengah." lanjut dia.

 

2 of 3

Serangan Kapal Tanker

Ilustrasi tambang migas
Ilustrasi tambang migas (iStockPhoto)

Harga minyak sebelumnya atau di awal perdagangan telah naik lebih dari USD 1 per barel setelah Arab Saudi mengatakan dua kapal tanker minyak mereka termasuk di antara kapal yang diserang di lepas pantai Uni Emirat Arab. Tidak jelas bagaimana serangan itu bisa terjadi.

Pada hari Minggu, Uni Emirat Arab mengumumkan bahwa 4 kapal komersial diserang di dekat Fujairah, salah satu pusat bunkering terbesar di dunia. Pelabuhan itu terletak di dekat Selat Hormuz yang merupakan jalur minyak yang vital.

Kementerian Luar Negeri Iran menggambarkan insiden itu sebagai serangan yang mengkhawatirkan dan mengerikan dan menyerukan untuk diadakan penyelidikan lebih mendalam.

Departemen Energi AS mengatakan pada hari Senin, setelah adanya sabotase dari empat kapal tanker tersebut, mereka tetap yakin bahwa pasar minyak global masih akan dipasok dengan baik.

Untuk diketahui, Arab Saudi adalah produsen minyak terbesar di Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan UEA adalah terbesar ketiga.

Harga minyak telah naik sekitar 30 persen tahun ini, didukung oleh kekhawatiran pasokan karena Amerika Serikat menjatuhkan sanksi kepada Iran dan Venezuela.

3 of 3

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓