Wawancara Khusus Menhub: Bandara Baru Yogyakarta Gerbang Menuju Bali Baru

Oleh Ilyas Istianur Praditya pada 02 Mei 2019, 18:00 WIB
Diperbarui 08 Mei 2019, 14:45 WIB
Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi.

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi telah melakukan inspeksi kesiapan New Yogyakarta International Airport (NYIA) atau Bandara Baru Yogyakarta belum lama ini. Dari inspeksi tersebut, Budi merasa puas dengan apa yang telah dikerjakan oleh semua pihak baik PT Angkasa Pura I, PT Kereta Api Indonesia, Airnav Indonesia dan juga dukungan dari Pemerintah Daerah Yogyakarta. 

Budi Karya melihat bahwa dengan adanya bandara baru ini bisa mewujudkan program pemerintah untuk menciptakan Bali baru. Dampak yang lebih besar tentu saja akan mendorong pertumbuhan ekonomi baik di wilayah tersebut maupun secara nasional. 

Ia melanjutkan, saat ini Bandara Baru Yogyakarta sudah bisa beroperasi. Bahkan saat Lebaran nanti sudah bisa digunakan untuk melayani arus mudik. 

Lengkapnya, berikut petikan wawancara khusus Liputan6.com dengan Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi: 

Terminal Internasional Bandara Baru Yogyakarta sudah siap digunakan. Apakah Anda puas dengan pembangunan infrastruktur transportasi yang cukup cepat ini?

Saya bahagia, senang, dengan spirit teman-teman di Angkasa Pura I, di Kereta Api Indonesia, Airnav Indonesia dan sebagainya, mempersiapkan ini karena memang teman-teman begitu bertanggung jawab dan eager (bersemangat) untuk membangun ini. Karena modal semangat-semangat itulah kita bisa membangun semua sisi yang ada di Indonesia ini.

Apalagi pembangunan ini sangat didukung oleh pemerintah daerah (Pemda) Yogyakarta sehingga bagaimana kita membangun airport, satu gerbang bagi satu daerah, itu pemda dilibatkan dalam satu dialog, bahkan dalam perencanaan, dalam pembebasan tanah ini berjalan baik.

Ini bisa menjadi contoh, apalagi kita akan membangun Bali kedua. Akan ada 4 Bali baru, yaitu ada Joglosemar, ada Toba, ada Mandalika, ada Labuhan Bajo. Ini Bali kedua yang kita harus ekspos. Jadi pemikiran ini adalah pemikiran bagaimana kita meningkatkan kemampuan titik-titik wisata di Indonesia.

Kita tahu kalau wisata itu melibatkan banyak orang, kesempatan bekerja yang tidak akan habis-habisnya. oleh karenanya kami teliti, bahwa satu bandara ini tidak bisa berdiri sendiri. Bandara harus ada integrasi ke kota-kota yang lain. Bandara juga harus kita koneksikan dengan kota yang lain.

Sekarang kereta api kita khusus adakan karena tanpa kereta api terlalu lama, ke Jogja bisa sampai dengan satu setengah jam, dengan kereta ini cukup dengan 45 menit.

Oleh karenanya saya minta kepada teman-teman persiapkan dengan baik. Insya Allah minggu depan Bapak Presiden akan menggunakan pesawat khusus landing di Yogyakarta International Airport.

 

2 of 3

Seberapa pentingkah kehadiran Bandara Baru Yogyakarta Ini?

Menhub, Budi Karya Sumadi
Menhub, Budi Karya Sumadi (kelima kiri) saat meninjau Bandara Internasional Yogyakarta, Kulon Progo, Rabu (24/4). Progres pembangunan Bandara Internasional Yogyakarta hampir 100 persen, sementara progres pembangunan keseluruhannya termasuk domestik mencapai 47 persen. (Liputan6.com/Helmi Fithriansya

Kalau konteks kehadiran bandara ini urgent sekali karena Bandara Adi Sucipto kapasitasnya terbatas, apalagi juga digunakan oleh militer. Kedua secara teknis lapangan terbang Adi Sucipto juga pendek sekali sehingga berisiko. Di sisi lain, Yogyakarta ini potensi wisatanya luar biasa.

Jadi ada situasi yang berbalik, kapasitasnya terbatas tetapi potensinya luar biasa. Jadi kehadiran Yogyakarta International Airport ini satu keharusan.

Bahwa beroperasi April akan lebih baik karena menyongsong Lebaran jadi Lebaran nanti tidak akan penuh seperti kemarin, ini bisa berkurang sedikit. Oleh karenanya ini menjadi suatu semangat kita bersama untuk membuat suatu interkoneksi dari kota-kota lain.

Bahkan karena ini dengan suatu spesifikasi yang sangat baik. Dengan panjang 3250 meter dan lebar 75 meter, itu memungkinkan pesawat apapun bisa landing dan take off di sini. Ini satu kekuatan dan ini kita harapkan menjadi sesuatu pola dalam kita membangun bandara-bandara kita.

Apa keistimewaan Bandara Baru Yogyakarta Ini? 

Arsitektur secara besar karena bangunan modern tidak ada satu yang terlalu lain. Tetapi detail-detailnya, konsep ruangnya itu mengakomodasi kearifan lokal.

Contohnya ada lantai dan ada satu tempat di garbarata itu motifnya kawung. Itu contohnya.

Sebenarnya yang namanya bandara itu adalah showcase jadi bisa dikatakan ini adalah art galery Yogyakarta. Saya minta ini dimanfaatkan dengan lukisan-lukisan yang bagus, patung-patung yang bagus, dimana satu sisi tempatnya menjadi indah, yang kedua ada kesempatan dari para artis untuk menjual barangnya jadi ini memungkinkan mereka mendapat pendapatan dan bagi turis melihat seperti itu pasti senang.

3 of 3

Bagaimana integrasi antar moda transportasi?

Menhub, Budi Karya Sumadi
Menhub, Budi Karya Sumadi (tengah) saat meninjau Bandara Internasional Yogyakarta, Kulon Progo, Rabu (24/4). Progres pembangunan Bandara Internasional Yogyakarta hampir 100 persen, sementara progres pembangunan keseluruhannya termasuk domestik mencapai 47 persen. (Liputan6.com/Helmi Fithriansyah)

Pada 2020 kita akan ada kereta api langsung ke Yogyakarta dari airport. itu kira-kira kalau ke stasiun Yogyakarta nanti kita bikin stasiun khusus di Lempuyangan, itu kira-kira 35 menit. Selain itu juga kita akan sediakan Damri yang dia akhirnya ke Terminal Giwangan.

Sebenarnya ada satu pemikiran yang harus kita jalankan bahwa airport terlebih international airport dia itu tidak boleh lonely. Interconnections harus dipikirkan dan dilaksanakan. Jadi seperti yang telah disampaikan oleh Sri Sultan itu konsepnya tidak boleh Jogja saja tetapi Joglosemar. Jogja, Solo, dan Semarang dengan ikonnya Borobudur.

Jadi nanti ada jalan tol, ke Purworejo, Magelang, Jogja, Semarang itu terkoneksi. Jadi kalau nanti turis datang ke sini, mereka bisa dua hari, tiga hari bahkan empat hari.

Apakah Bandara Baru Yogyakarya akan digunakan untuk arus mudik?

Kalau dengan terminal yang ada sekarang ini baru 20 persen, kira-kira 12 ribu orang, kalau nanti semuanya kira-kira 75 ribu orang. Saat ini mampu menampung penumpang 5.000 sampai 6.000 penumpang atau kalau diterjemahkan dalam jumlah penerbangan sampai 50 penerbangan. Jadi bisa sampai 5 maskapai.

Dengan itu pertama kali kita rencanakan penerbangan domestik tapi untuk tujuan di luar Jawa. Seperti Kalau di Sumatera itu Palembang, Pekanbaru dan Medan. Kalau di Kalimatan seperti Balikpapan, Samarinda dan Pontianak. Juga ke Sulawesi itu Makassar dan Manado. Tapi internasional juga dalam 2 minggu akan berfungsi itu bisa Singapura dan Malaysia.

Lanjutkan Membaca ↓