Alasan Aliran Dana Investor Asing Masih Seret Usai Pemilu 2019

Oleh Liputan6.com pada 02 Mei 2019, 15:28 WIB
20151113-Ilustrasi Investasi

Liputan6.com, Jakarta - Chief Economist & Investment Strategist Manulife Aset Manajemen Indonesia, Katarina Setiawan mengatakan, kegaduhan situasi politik yang masih berlangsung pasca pemilihan umum (Pemilu) 2019, secara tidak langsung cukup mempengaruhi investor asing yang ingin masuk ke Indonesia.

Khususnya berkaitan dengan investor lokal yang masih tidak nyaman dengan kondisi saat ini. Katarina menuturkan, sesungguhnya investor asing sudah percaya pemilu di Indonesia akan berlangsung aman dan tidak mempengaruhi perekonomian. Hal itu ditandai dengan terjadinya aliran modal masuk (inflow) jelang Pemilu.

"Justru seminggu sebelum kita nyoblos, asing masuk ke pasar saham dalam jumlah besar. Kelihatannya mereka optimis Pemilu aman," kata dia, di Gedung Sampoerna Strategic Square, Jakarta, Kamis (2/5/2019).

Sebaliknya, yang justru masih ragu atas perhelatan pemilu adalah investor lokal. Nah, hal tersebut kemudian mempengaruhi psikologis investor asing yang ingin menanamkan portofolionya di Indonesia.

"Padahal ternyata memang aman dan lancar. Asing mau masuk, tapi lihat lokal adem ayem saja, mereka tidak jadi masuk dalam jumlah besar, tidak jadi digeber," ungkapnya.

Menurut Katarina, saat ini para investor di pasar modal baik investor lokal maupun investor asing tengah menunggu pengumuman hasil real count atau hasil penghitungan resmi KPU pada 22 Mei 2019. Hingga saat itu, dia memperkirakan pasar modal akan tetap flat.

"Tinggal 20 hari lagi. Jadi walaupun wait and see tapi tidak akan jual dulu," tandasnya.

 

Reporter: Wilfridus Setu Embu

Sumber: Merdeka.com

2 of 4

Investasi Bakal Mengalir Deras ke RI Pascapemilu

20151113-Ilustrasi Investasi
lustrasi Investasi Penanaman Uang atau Modal (iStockphoto)

Sebelumnya, investasi diyakini akan mulai mengalir masuk ke Indonesia pasca berlangsungnya pemilihan umum (pemilu).

Selama ini banyak investor yang menunggu kondisi pasca pesta demokrasi dan kandidat calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres) yang akan terpilih.

Ekonom Asia Development Bank Institute, Eric Suganti mengatakan berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, pada 2019 ini investor menyoroti pelaksanaan dan hasil dari pemilu. Banyak yang masih menunggu kondisi di dalam negeri pasca pemilu.

"Ada fenomena bahwa investor di sektor riil dalam posisi wait and see menunggu hasil pemilu 2019," ujar dia di Jakarta, Jumat, 19 April 2019.

Pengamat Kebijakan Publik, Sidik Pramono menyatakan, meski pemilu berlangsung relatif aman dan kondusif, namun masih ada satu hal lagi yang harus dipenuhi jika ingin investasi nasional segera tumbuh, yaitu soal kepastian investasi.

Menurut dia, tingginya tingkat ketidakpastian berinvestasi di Indonesia disebabkan oleh kebijakan sering berubah-ubah. Hal ini yang kerap dikeluhkan oleh para investor.‎

“Banyak faktor yang dapat mengubah suatu kebijakan, namun di Indonesia saya melihat seringkali dikarenakan adanya pergantian pimpinan atau adanya kepentingan lain,” ungkap dia.‎

Hal tersebut, lanjut Sidik, membuat investor yang merujuk pada suatu kebijakan untuk menjalankan bisnisnya harus mengalami kerugian karena kebijakannya berubah dan tidak sejalan dengan rencana bisnis yang sudah disusun oleh investor.

 

 

3 of 4

Tarik Investasi, Presiden Terpilih Harus Benahi Birokrasi

Penyelesaian Double-Double Track Dipercepat
Pekerja melakukan proses pembangunan kontruksi jalur rel dwi ganda di Jakarta, Jumat (13/4). Penyelesaian proyek infrastruktur jalur DDT Manggarai- Cikarang ini ditargetkan lebih cepat dari target awal tahun 2022. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Sebelumnya, Panel Ahli Katadata Insight Center, Wahyu Prasetyawan berharap, siapapun presiden terpilih nanti dapat memberikan angin segar terhadap ekonomi Indonesia.

Dia menuturkan, pembangunan infrastruktur dan tata kelola dalam birokrasi pun harus dijalankan dan diperbaiki  guna menarik investasi masuk ke Tanah Air.

"Ke depannya kita berharap perbaikan-perbaikan yang sifatnya infrastruktur juga diikuti oleh sifatnya bidang birokrasi. Jadi kemudahan kita investor untuk berinvestasi di Indonesia itu misal surat-surat dibutuhkan itu bisa lebih dipercepat lagi hambatan-hambatan terkait birokrasi bisa diperbaiki lagi," kata dia saat dihubungi merdeka.com. Kamis, 18 April 2019.

Wahyu memandang, pembangunan infrastruktur seperti jalan tol menjadi bagian penting di mata investor.

Sebab, ada lintasan jalan yang menyambungkan ke berbagai provinsi tersebut akan memangkas biaya logistik bagi industri-industri besar di Tanah Air.

"Infrastruktur bagian penting bagi investor untuk menanamkan modalnya kalau kita bicara investor di luar pasar modal misalnya manufaktur dan segala macam itu mereka mempertimbangkan infrastruktur," kata dia.

Wahyu mengakui, upaya pemerintah saat ini pun sudah berjalan baik dengan fokus terhadap pembangunan infrastruktur.

Hanya saja ke depan dirinya menginginkan tidak hanya fokus terhadap infrastruktur saja melainkan sumber daya manusia (SDM) juga.

"Jadi ini tracknya sudah betul infrastruktur harus tetap ada. Infrastruktur sudah digenjot dipemerintahan kemarin dan selanjutnya harus ada prioritas lain, cuma mungkin prioritas bisa dipindahkan ke lain misalnya SDM,” ujar dia.

Sementara itu, sistem birokrasi tetap menjadi perhatian khusus bagi pemerintahan selanjutnya.

Sebab, kata dia, izin dan kemudahan berinvestasi di Indonesia kerap kali masih ditemui kesulitan-kesulitan. Padahal, pemerintah tengah menerapkan perizinan berusaha terintegrasi secara elektronik atau Online Single Submission (OSS). 

"Anda bisa bayangin kalau ada perusahan ngurus surat-surat dalam 1 tahun itu bisa sampai 100 hari tidak bener," ujar dia.

 

 

4 of 4

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini

Lanjutkan Membaca ↓