Harga Minyak Bervariasi Dipicu OPEC Potong Produksi dan Stok AS Naik

Oleh Nurseffi Dwi Wahyuni pada 02 Mei 2019, 06:15 WIB
Diperbarui 02 Mei 2019, 07:17 WIB
20151007-Ilustrasi Tambang Minyak

Liputan6.com, New York - Harga minyak berjangka sedikit berubah pada penutupan perdagangan Rabu (Kamis pagi WIB) setelah keputusan pembatasan pasokan, termasuk pembicaraan lebih lanjut tentang perpanjangan pemotongan yang dipimpin OPEC, mengimbangi kenaikan persediaan minyak mentah AS dan rekor produksi.

Dilansir dari Reuters, Kamis (2/5/2019), harga minyak mentah Brent ditutup pada USD 72,18 per barel, naik USD 12 sen, atau 0,2 persen, setelah jatuh ke level USD 71,3 per barel.

Sementara, harga minyak mentah Intermediate West Texas Intermediate (WTI) AS berakhir turun USD 31 sen atau 0,5 persen menjadi USD 63,6 per barel, naik dari USD 62,77 sesi rendah

Persediaan minyak mentah AS melonjak 9,9 juta barel minggu lalu menjadi 470,6 juta barel ke level tertinggi sejak September 2017 karena impor tumbuh ke level tertinggi sejak Januari dan tingkat pengilangan turun di bawah 90 persen dari total kapasitas, kata Administrasi Informasi Energi.

Produksi minyak mentah di Amerika Serikat, produsen utama dunia, naik ke rekor tertinggi 12,3 juta barel per hari pekan lalu.

"Penurunan aktivitas penyulingan dan kenaikan impor telah membantu mendorong persediaan minyak mentah ke level tertinggi lainnya," kata Matt Smith, Direktur Riset komoditas dari ClipperData.

Namun, Brent membalikkan arah penurunannya setelah Menteri Energi Oman, Mohammed bin Hamad al-Rumhy mengatakan bahwa Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) berniat untuk memperpanjang pengurangan pasokan pada pertemuan Juni.

Harga minyak mentah telah meningkat lebih dari 30 persen sepanjang tahun ini, didukung terutama oleh kesepakatan yang dipimpin OPEC untuk memotong 1,2 juta barel per hari pasokan selama enam bulan. Pada bulan April, Brent meningkat sekitar 6,5 persen dan WTI naik 6,3 persen, bulan keempat berturut-turut.

2 of 2

Tuntutan AS

Ilustrasi tambang migas
Ilustrasi tambang migas (iStockPhoto)

Sementara AS telah menuntut OPEC untuk menaikkan produksi untuk menebus kekurangan dari Iran, pemimpin de facto OPEC Arab Saudi mengatakan pada hari Selasa bahwa mereka tidak memiliki rencana untuk segera melakukannya, dan bahwa pakta tersebut dapat diperpanjang hingga akhir 2019

Pasar juga mengamati perkembangan di Venezuela, di mana ribuan demonstran bersatu dengan seruan pemimpin oposisi Juan Guaido untuk pemberontakan 1 Mei melawan Presiden Nicolas Maduro.

Banyak pengamat khawatir protes itu dapat menyebabkan meningkatnya kekerasan dan gangguan lebih lanjut pada pasokan minyak mentah, meskipun daerah penghasil minyak negara anggota OPEC itu jauh dari ibu kota Caracas.

Keresahan menambah sejumlah faktor geopolitik yang cair, termasuk sanksi AS terhadap Caracas dan Teheran, yang telah mengguncang pasar minyak dalam beberapa bulan terakhir.

Washington pekan lalu mengatakan tidak ada keringanan terhadap sanksi minyak Iran yang akan diberikan setelah Rabu, tetapi masih belum jelas apakah pelanggan minyak Iran Iran akan mematuhinya.

Lanjutkan Membaca ↓