Harga Minyak Brent Meroket, Tembus USD 75 per Barel

Oleh Nurseffi Dwi Wahyuni pada 26 Apr 2019, 06:16 WIB
Diperbarui 27 Apr 2019, 04:15 WIB
20151007-Ilustrasi Tambang Minyak

Liputan6.com, New York - Harga minyak mentah Brent menembus USD 75 per barel pada hari Kamis (Jumat pagi WIB) untuk pertama kalinya dalam hampir enam bulan setelah kekhawatiran tertundanya beberapa ekspor minyak mentah Rusia ke Eropa, sementara Amerika Serikat (AS) bersiap untuk memperketat sanksi terhadap Iran.

Dilansir dari Reuters, Jumat (26/4/2019), Polandia dan Jerman menghentikan sementara impor minyak mentah Rusia melalui pipa Druzhba, dengan alasan kontaminasi. Pipa itu dapat mengirimkan hingga 1 juta barel per hari, atau 1 persen dari permintaan minyak mentah global, dan sekitar 700.000 barel per hari alirannya ditangguhkan, menurut sumber perdagangan dan perhitungan Reuters.

Rusia, pengekspor minyak mentah terbesar kedua di dunia, berencana untuk mulai memompa bahan bakar bersih ke Eropa melalui pipa pada 29 April.

Harga minyak mentah Brent berjangka naik USD 43 sen menjadi USD 75,00 per barel setelah reli ke tertinggi USD 75,6 per barel, tertinggi sejak 31 Oktober.

Harga minyak mentah antara West Texas Intermediate (WTI) diperdagangkan USD 8 sen lebih rendah menjadi USD 65,81 per barel, setelah mencapai sesi tinggi USD 66,28.

Persediaan minyak mentah AS pekan lalu naik 5,5 juta barel ke level tertinggi sejak Oktober 2017 di 460,6 juta barel, karena stok di Cushing, Oklahoma, pusat pengiriman untuk WTI naik 463.000 barel, data pemerintah AS menunjukkan pada hari Rabu.

Amerika Serikat minggu ini mengatakan akan mengakhiri semua pengecualian untuk pembeli minyak Iran. Produsen terbesar ketiga OPEC telah berada di bawah sanksi AS selama lebih dari enam bulan, tetapi beberapa pembeli utama, termasuk China dan India, diberikan pengecualian sementara sampai minggu ini. Mulai Mei, negara-negara itu harus menghentikan impor minyak dari Teheran atau menghadapi sanksi AS.

Keputusan tersebut mengikuti pemotongan pasokan oleh Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan produsen non-anggota, termasuk Rusia, sejak awal tahun yang bertujuan menopang harga minyak.

Namun, Brian Hook, perwakilan khusus AS untuk Iran dan penasihat kebijakan senior untuk sekretaris negara, mengatakan pada hari Kamis "Ada banyak pasokan di pasar untuk memudahkan transisi itu dan menjaga harga stabil".

Konsultan Rystad Energy mengatakan, Arab Saudi dan sekutu utamanya dapat menggantikan minyak Iran yang hilang.

Pemotongan yang dipimpin OPEC sebagian merupakan respons terhadap peningkatan produksi minyak mentah AS, saat ini pada rekor 12,2 juta barel per hari, menjadikan AS produsen terbesar di dunia.