Pemilu 2019 Tak Berdampak Besar ke Pasar Modal

Oleh Septian Deny pada 22 Apr 2019, 18:32 WIB
Perdagangan Saham dan Bursa

Liputan6.com, Jakarta - Dampak pemilihan umum (pemilu) 2019 terhadap pasar modal diperkirakan tidak akan sekuat dibanding pemilu sebelumnya sejak era reformasi.

Kepala Makro Ekonomi dan Direktur Strategi Investasi PT Bahana TCW Investment Management (BTIM) Budi Hikmat mengungkapkan berakhirnya era super commodity booming yang memicu defisit neraca berjalan selama lima tahun terakhir menjadi faktor pembeda secara fundamental dampak dari pemilu tersebut.

Dia menjelaskan, pada pemilu sebelumnya, era super commodity booming ini menopang surplus neraca berjalan yang memperkuat daya beli masyarakat seperti tercermin pada peningkatan uang beredar M1. Penjualan produk-produk seperti kendaraan bermotor, properti dan semen pun cenderung meningkat yang turut meningkatkan laba emiten.

"Itu sebabnya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melambung naik setiap tahun pemilu. Namun pemilu kali ini ditandai dengan pelemahan pertumbuhan M1 yang sejalan dengan defisit neraca berjalan yang berisiko membatasi kenaikan IHSG,” ujar dia dalam keterangan tertulis di Jakarta, Senin (22/4/2019).

Menghadapi kondisi ekonomi usai pemilu, lanjut Budi, sebagai perusahaan manajer investasi plat merah, BTIM menggunakan panduan ringkas untuk memahami prospek investasi di pasar modal.

“Dalam keadaan normal, kami mencermati lima faktor utama yang disingkat sebagai ELVIS. Di mana earning sebagai faktor utama untuk menarik investor saham. Kedua, liquidity terutama dari luar negeri. Selanjutnya faktor valuation seperti price to earning ratio.

Lalu faktor interest rate terutama kebijakan bank sentral, dan terakhir faktor sentimen yang bisa diukur berdasarkan angka credit default swap (CDS) Indonesia. Mencermati dinamika global dan fundamental domestik, panduan itu kami atur ulang sebagai SLIVE,” jelas Budi.

 

2 of 2

Faktor Utama

Menurut dia, sentimen menjadi faktor utama terutama sebagai dampak perubahan drastis kebijakan Bank Sentral Amerika Serikat (the Fed) yang mengakhiri pengetatan likuiditas dan berakhirnya stimulus pajak Presiden Donald Trump. Berbeda dibandingkan 2018, arus modal asing mulai kembali menuju negara berkembang.

"Indonesia mendapat apresiasi khusus tidak hanya pemilu yang berlangsung lancar, namun kesigapan dan independensi kebijakan moneter dan fiskal dalam menghadapi gejolak global selama tahun 2018. Angka CDS Indonesia cenderung menurun yang menunjukkan kepercayaan investor asing bahwa risiko gagal bayar negara Indonesia terbilang rendah," ungkap dia.

Budi juga menyoroti perbedaan antara suku bunga Bank Indonesia (BI), baik terhadap proyeksi inflasi dan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang terbilang tebal setelah kenaikan pesat bunga selama 2018 lalu.

Berdasarkan panduan SLIVE, Budi melihat alokasi arus modal asing di pasar surat berharga negara (SBN) akan lebih besar ketimbang pasar modal. Investor asing memanfaatkan imbal hasil SBN yang masih relatif tinggi sejalan dengan penurunan yield T-bond dan peluang penguatan rupiah hingga akhir tahun.

Terlebih lagi risiko kelebihan penawaran SBN relatif terbatas mengingat pemerintah telah lebih awal menerbitkan (front-loading) jelang akhir tahun lalu.

“Semarak pada pasar SBN menjadi semacam prasyarat peluang kenaikan di pasar saham yang juga menunggu penguatan daya beli sekira pemerintah mampu memacu kinerja ekspor manufaktur dan pariwisata sebagai mesin penghasil valas selain komoditas primer,” jelas dia.

Budi memproyeksikan imbal hasil saham selama 2019 ini sejalan dengan pertumbuhan laba perusahaan sebesar 10 persen-12 persen sehingga IHSG berpeluang ditutup pada 6.800-6.900 pada akhir tahun. Imbal hasil ini menarik dibandingkan inflasi yang diproyeksikan sekitar 3 persen hingga 4 persen.

Saat ini arus modal asing yang masuk ke pasar modal telah mencapai Rp 15,21 triliun sejak awal tahun. Sementara, total dana asing yang masuk di pasar modal dan obligasi telah mencapai USD 6 miliar, jauh lebih besar dari 2018.

Lanjutkan Membaca ↓