Medan yang Keras Bikin Penyelesaian Trans Papua Molor

Oleh Maulandy Rizky Bayu Kencana pada 18 Apr 2019, 17:30 WIB
Jalan Trans Papua (Foto: Dok Ditjen Bina Marga Kementerian PUPR)

Liputan6.com, Jakarta - Pengerjaan proyek Jalan Trans Papua dan jalan perbatasan di Bumi Cendrawasih nampaknya sulit dirampungkan pada tahun ini. Medan yang sulit dan berbukit-bukit membuat penyelesaiannya diperkirakan mundur satu tahun.

Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono memperkirakan, Jalan Trans Papua yang membentang dari Sorong hingga Merauke baru bisa tersambung sepenuhnya pada 2020 mendatang.

"2020 itu (Trans Papua tersambung). Itu 2019 belum bisa tembus, karena sangat keras sekali medannya," ujar dia, seperti dikutip Kamis (18/4/2019).

Sebagai informasi, proyek Trans Papua ini memiliki total panjang sekitar 4.330,07 km. Pengerjaannya terbagi dalam dua provinsi, yakni di Papua Barat sepanjang 1.070,62 km, dan di Papua dengan panjang total 3.259,46 km.

Saat ini, Jalan Trans Papua di Papua Barat telah tembus seluruhnya. Sedangkan yang terletak di Provinsi Papua hingga akhir 2017 lalu baru tersambung sekitar 2.907 km.

Lebih lanjut, Menteri Basuki meneruskan, pengerjaan jalan perbatasan di Papua pun terhambat oleh persoalan serupa, yakni sulitnya medan di lokasi pembangunan. Seperti pada segmen Oksibil ke Tanah Merah yang harus menembus perbukitan.

"Medannya tinggal sedikit, tapi kan itu karena medannya pegunungan di tengah itu jadi sangat berat. Yang lainnya dari Merauke ke Boven Digoel sudah nyambung. Tinggal antara Oksibil itu yang belum," terangnya.

Proyek jalan perbatasan di Papua sendiri memiliki total panjang 1.098,24 km yang terhubung dari Jayapura hingga Merauke. Pengerjaannya dibagi dalam tiga segmen, yakni Segmen I Jayapura-Yarso-Waris-Yetti sepanjang 128,18 km, Segmen II Yetti-Ubrub-Oksibil sejauh 301,74 km, serta Segmen III Oksibil-Tanah Metah-Muting-Merauke sepanjang 668,32 km.

2 of 4

Jejak Jokowi Membelah Gunung hingga Menyusuri Teluk di Papua

Pembangunan jalan Trans Papua. Dok Kementerian PUPR.
Pembangunan jalan Trans Papua. Dok Kementerian PUPR.

Sebelumnya, Anis Wayag (30), warga Kampung Walarek yang terletak di antara Kabupaten Yalimo dan Jayawijaya, tak henti-hentinya menyebutkan nama Jokowi. Walau begitu, ia mengaku belum pernah bertemu dengan Jokowi.

"Ini jalan Jokowi. Jokowi kasih uang, terus jalan ini ada," begitu kata Anis yang lebih senang menyebut jalan Trans Papua yang menghubungkan Jayapura dan Wamena dengan Jalan Jokowi.

Bukan tanpa alasan, Anis yang berasal dari Kampung Walarek, Kabupaten Yalimo, berkisah tentang kondisi jalan di daerahnya.

Dulunya, sebelum jalan ini ada, untuk menghubungkan jalan dari kampungnya ke Elelim, ibu kota Yalimo membutuhkan waktu hingga satu bulan lamanya berjalan kaki menembus lebatnya hutan. 

"Tapi setelah jalan trans ada, hanya dibutuhkan waktu satu hari satu malam dengan berjalan kaki. Kondisi jalan sudah bagus dan terhubung. Terima kasih Pak Jokowi," kata Anis.

Jalan Trans Papua yang menghubungkan Jayapura–Wamena terbentang sepanjang 575 kilometer. Jalan ini membelah gunung, menyisiri bukit hingga melewati sungai-sungai lebar. Walaupun masih dalam tahap pengerjaan, antusiasme warga dan sopir pembawa sembako dan kebutuhan pokok dari Jayapura ke Wamena tak bisa lagi terbendung untuk melewati jalan ini.

 

3 of 4

Animo Tinggi

(Foto: Dok Kementerian PUPR)
Pemerintah terus berupaya selesaikan proyek Trans Papua (Foto: Dok Kementerian PUPR)

Kepala Balai Besar Pembangunan Jalan Nasional Wilayah XVIII, Osman Marbun, menyebutkan animo masyarakat untuk menjangkau wilayah satu dengan wilayah lain di Papua melalui jalan darat sangat tinggi, terutama dari wilayah pesisir ke pegunungan seperti jalan dari Jayapura-Wamena.

"Semangat warga memang luar biasa untuk mengirim sembako ke Wamena atau sebaliknya lewat jalan darat. Tapi, jika ini terus dilakukan akan mengganggu pengerjaan jalan, sebab Jalan Wamena-Jayapura belum layak digunakan, karena masih dalam pengerjaan," kata Osman.

Hebatnya lagi Jalan Trans Papua Wamena-Jayapura yang dibangun saat pemerintahan periode pertama Jokowi, menghubungkan delapan kabupaten di pegunungan tengah Papua yakni Kabupaten Jayawijaya, Yalimo, Tolikara, Puncak Jaya, Ilaga, sampai tembus ke Sinak, Lanny Jaya, Kobakma, Nduga, dan Mbua.

4 of 4

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓