Prabowo: Jadi Benteng Terakhir Ekonomi, BUMN Kita Justru Goyah

Oleh Pebrianto Eko Wicaksono pada 13 Apr 2019, 22:23 WIB
Kehangatan Jokowi - Prabowo Awali Debat Keempat Pilpres 2019

Liputan6.com, Jakarta - Calon Presiden Nomor Urut 02 Prabowo Subianto mengatakan bahwa Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang menjadi benteng terakhir perekonomian nasional justru saat ini malah goyah.

Dalam Debat Capres Kelima yang berlangsung di Hotel Sultan, Jakarta, Sabtu (13/4/2019), Prabowo bercerita bahwa Bloomberg telah mengeluarkan studi mengenai industri penerbangan. 

Dalam studi tersebut memaparkan mengenai jumlah kursi yang harus diduduki oleh penumpang agar sebuah maskapai bisa untung.

"Untuk penerbangan ke Jepang tingkat keterisian harus 60 persen. Untuk Garuda menurut Bloomberg jumlah penumpang harus 120 persen," kata dia.

"Jadi Bapak (Jokowi) jangan bilang holding tetapi yang ada sekarang tidak dikelola dengan baik," tambah dia.

Prabowo mengatakan bahwa dirinya risau BUMN yang menjadi kebanggaan nasional justru malah jatuh ke depannya.

2 of 2

Jokowi Bakal Bangun Superholding BUMN

Jokowi-Ma'ruf Tunjukkan Kartu Sakti Andalan di Debat Kelima Pilpres
Capres nomor urut 01 Joko Widodo dan Cawapres Ma'ruf Amin menunjukkan kartu andalan saat Debat Pilpres 2019 kelima di Jakarta, Sabtu (13/4). Debat kelima merupakan debat terakhir dalam masa kampanye dan mengambil tema Ekonomi, Kesejahteraan Sosial, Keuangan dan Investasi. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Calon presiden (capres) nomor urut 01 Joko Widodo (Jokowi) menyatakan akan membangun superholding sehingga menciptakan BUMN kelas dunia.

Hal ini disampaikan Jokowi untuk menjawab pertanyaan calon wakil presiden (cawapres) nomor urut 02 Sandiaga Uno dalam debat final, Sabtu (13/4/2019).

Jokowi menuturkan, pihaknya akan membangun holding-holding BUMN ke depan. Holding itu berkaitan dengan konstruksi, migas, dan berkaitan dengan pertanian, perkebunan serta perdagangan. Dengan membentuk holding BUMN itu nanti dibangun super holding.

"Saya kira ke depan kita akan membangun holding-holding BUMN baik holding yang berkaitan dengan konstruksi, karya berkaitan dengan migas. Holding berkaitan dengan pertanian, perkebunan, berkaitan dengan perdagangan lainnya. Akan ada holding di atasnya ada super holding," ujar dia.

Lebih lanjut ia menuturkan, BUMN juga harus berani keluar sehingga dapat mengembangkan usahanya di luar negeri. Hal ini dengan membuka pasar, jaringan. Dengan begitu diharapkan swasta juga dapat ikuti BUMN. Selain itu ada holding diharapkan dapat lebih mudah mencari modal.

Jokowi menambahkan, saat ini BUMN juga sudah mengembangkan bisnis ke luar negeri dengan ekspor. Salah satunya dilakukan PT INKA, selain itu BUMN karya.

"Kita tahu sudah mulai perusahaan karya melakukan pekerjaan besar di Timur Tengah dengan kerjakan infrastruktur, perumahan. Dan juga pabrik INKA kita sudah ekspor kereta api ke Bangladesh tidak dalam jumlah sedikit," kata dia.

Dengan begitu diharapkan juga dapat mendorong perusahaan lain termasuk swasta untuk mengembangkan usahanya di luar negeri. "Swasta ikut, namanya Indonesia in corporation dan itu kecil-kecil akan ikut belakangnya. Ekonomi kita jadi besar dengan apa yang disampaikan," tutur dia.

Lanjutkan Membaca ↓