Capres Harus Paparkan Strategi Tumbuhkan Ekonomi RI di Atas 6 Persen

Oleh Ilyas Istianur Praditya pada 13 Apr 2019, 14:14 WIB
Diperbarui 13 Apr 2019, 14:14 WIB
Ilustrasi Pertumbuhan Ekonomi dunia

Liputan6.com, Jakarta Dalam debat pamungkas yang berlangsung pada Sabtu (13/4/2019) ini, kedua calon presiden (capres) diminta memaparkan strategi untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi. 

Adapun rata-rata laju pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam dua dasawarsa ini sebesar 5,27 persen per tahun.

Realisasi laju pertumbuhan ekonomi selama era reformasi ini dinilai belum mampu menyamai capaian era Orde Baru.

"Jika pertumbuhan lima persenan yang sudah terjadi dalam 6 tahun ini tidak segera diakselerasi, maka akan sulit bagi Indonesia keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah sehingga Indonesia bisa menjadi negara maju," kata Pengamat Ekonomi dari Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Bima Yudhistira kepada Liputan6.com, Sabtu (13/4/2019).

Di sisi lain, mengingat perekonomian Indonesia dinilai Bima cepat panas atau overheating, maka target-target akselerasi pertumbuhan ekonomi harus tetap mempertimbangkan aspek stabilitas.

Selain masalah kuantitas pertumbuhan ekonomi, dari sisi kualitas juga perlu diperbaiki. Dukungan anggaran negara meningkat, kebijakan stimulus perekonomian tidak kekurangan, posisi sebagai negara layak investasi diperoleh.

Namun sayang, semua itu dinilai belum cukup untuk menjawab tantangan peningkatan angkatan kerja, menurunkan kemiskinan secara lebih signifikan, serta mengurangi ketimpangan.

Di sisi lain, Bima berpendapat, pemerataan pembangunan ekonomi dinilai selama ini belum efektif. Hal ini tercermin dari bergemingnya pulau Jawa terhadap pembentukan PDB (Produk Domestik Bruto).

Lima tahun lalu (2014) porsi Jawa sudah mencapai 57,4 persen, saat ini (2018) porsi Pulau Jawa justru naik menjadi 58,48 persen dalam pembentukan PDB nasional. "Ini menggambarkan bahwa pembangunan masih Jawa sentris," pungkas Bima. 

2 dari 3 halaman

Target Pertumbuhan Ekonomi Double Digit, Realistiskah?

Peluk Hangat Jokowi - Prabowo Akhiri Debat Perdana Pilpres 2019
Capres dan cawapres nomor urut 01 Joko Widodo atau Jokowi-Ma'ruf Amin bersalaman dengan capres dan cawapres nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno usai debat perdana Pilpres 2019 di Hotel Bidakara, Jakarta, Kamis (17/1). (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Capres nomor urut 02 Prabowo Subianto dalam pidato kebangsaannya di Surabaya, Jawa Timur menyatakan ingin meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional sampai double digit bila terpilih menjadi orang nomor satu di Indonesia.

"Mereka mungkin puas dengan pertumbuhan 5 persen. Kita tidak puas. Kita mau pertumbuhan double digit," serunya. Pernyataan ini melampaui proyeksi pertumbuhan ekonomi yang ditetapkan sang Cawapres, Sandiaga Uno, yakni 6,5 persen.

Sebagai perbandingan, APBN 2019 memproyeksikan pertumbuhan ekonomi negara pada 2019 hanya mencapai 5,3 persen. Lantas, realistiskah pertumbuhan double digit tersebut?

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Bhima Yudhistira menyebutkan, target itu terkesan sulit ditakar bila tak diikuti strategi yang tepat untuk bisa mencapainya.

"Kalau misalkan 6,5 persen saja mimpi di siang bolong, apalagi double digit? Menurut saya bukan set target pertumbuhan yang tinggi, tapi adalah langkah konkrit dan terukur," imbuh dia saat berbincang dengan Liputan6.com, Sabtu (13/4/2019).

Bhima kemudian membandingkan pertumbuhan ekonomi negara berkembang lain, yang secara angka tertinggi pun hanya berada pada kisaran 6-6,5 persen.

"Negara berkembang yang paling tinggi pertumbuhan ekonominya itu antara Tiongkok atau india, dia 6-6,5 persen," tutur dia.

 

3 dari 3 halaman

Harus Paparkan Strategi

Pernyataan sedikit berbeda dikeluarkan Direktur Riset Center of Reform on Economics (CORE) Piter Abdullah Redjalam, yang mengatakan pertumbuhan ekonomi double digit sangat memungkinkan dengan mempertimbangkan potensi yang dimiliki Indonesia.

Namun, ia menambahkan, itu dibutuhkan rencana strategis serta program yang tepat dan implementatif.

"Masalahnya Paslon 02 tidak pernah menyampaikan secara tuntas apa strategi dan programnya yang bisa meyakinkan bahwa rencana pertumbuhan bisa dicapai," ungkapnya saat ditanyai Liputan6.com.

Oleh karena itu, ia beranggapan itu menjadi pekerjaan rumah dari masing-masing pasangan calon untuk menjabarkan strategi meningkatkan pertumbuhan ekonomi negara ke depan.

"Potensi kita banyak sekali, hampir semua kita punya. Tapi kita kurang bisa mengelola sehingga tidak optimal. Tugas paslon menjelaskan masalahnya apa sehingga (pertumbuhan ekonomi Indonesia) tidak optimal, lalu solusinya apa," tutur Piter.

 

Lanjutkan Membaca ↓