Tarif Kargo Udara Naik Beri Peluang bagi Angkutan Logistik Darat

Oleh Liputan6.com pada 12 Apr 2019, 21:30 WIB
Lima ruas bagian dari Tol Trans Jawa yang dikerjakan oleh Jasa Marga dan Waskita Karya siap diresmikan oleh Presiden RI Joko Widodo (Jokowi). (Dok Kementerian BUMN)

Liputan6.com, Jakarta - Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (Aptrindo) mengungkapkan kenaikan tarif kargo udara dapat memberikan peluang untuk logistik darat.

Salah satu peluang logistik yang dapat dimaksimalkan yaitu keberadaan jalan Tol Trans Jawa.

"Tol ini bisa menjadi peluang  karena dulu 36 jam sekarang kalau truk besar 24 jam sekitar mungkin 12 jam kalau ukuran mobilnya lebih kecil," kata Wakil Ketua Aptrindo, Kyatmaja Lukman saat ditemui, di Jakarta, Jumat (12/4/2019).

Meski demikian, kata dia, saat ini sekitar 10 persen truk angkutan logistik yang  melewati Tol Trans Jawa, sementara sisanya, 90 persen masih lewat jalan pantura. "Karena gratis kalau lewat pantura," ujar Kyatmaja.

Dia menekankan, pembangunan infrastruktur tol yang dilakukan pemerintah sudah tepat. Namun, untuk dapat mendukung efisiensi logistik, ada beberapa hal yang perlu dibangun khususnya terkait kluster di kawasan tol

"Kalau kluster lebih efesien bisa menekan 3 sampai 4 persen biaya operasional. Nah ke depan pemerintah perlu menerapkan infrastruktur untuk mendukung kluster di kawasan tol," urai dia.

Selain itu, dia pun menekankan pentingnya kesadaran masyarakat terkait adanya pola perubahan infrastrukur. Sebab, dibutuhkan waktu yang tidak sebentar untuk mengubah perilaku masyarakat pasca kehadiran sarana infrastruktur baru.

 

Reporter: Wilfridus Setu Embu

Sumber: Merdeka.com

 

2 of 4

Alasan Tingginya Biaya Logistik

Mulai 18 Agustus, Truk Dibatasi Lewat Tol
Sejumlah truk melintas di ruas Tol Dalam Kota Cawang-Pluit, Jakarta, Rabu (8/8). Mulai 18 Agustus-2 September 2018 atau selama perhelatan Asian Games, Pemprov DKI menerapkan pembatasan truk golongan III, IV, dan V. (Merdeka.com/Iqbal S. Nugroho)

Sebelumnya, Wakil Ketua Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (Aptrindo), Kyatmaja Lukman membeberkan sejumlah alasan yang menyebabkan tingginya biaya logistik di Indonesia.

Penyebab pertama, kata dia, adalah pola permukiman yang belum terkluster. Saat ini pengiriman logistik masih bergerak dari point to point sepanjang jalan.

"Pengiriman kita lakukan dengan sistem point to point belum terorkestra dengan baik. Pemukiman sepanjang jalan Pantura dan Sumatra. Metode itu bikin ongkos logistik kita sangat tinggi," kata dia, dalam peluncuran buku 'Memadu Fungsi Tol Darat dan Laut' tulisan Ansel Alaman, di Jakarta, Jumat, 12 April 2019.

"Kalau di Eropa. Di keluar-keluar pintu high way itu ada kluster-kluster pemukiman. Kalau sepanjang jalan nanti disini murah, makin mahal, makin mahal," lanjut dia.

Menurut dia, kehadiran tol yang selama ini telah dibangun pemerintah akan mendukung terbentuknya kluster-kluster permukiman. Hal ini akan sangat membantu dalam menekan biaya logistik.

"Dengan adanya tol dengan exit-exit jadi fondasi untuk membangun sebuah kota. Selama ini, ke kota A misalnya, tentu ke ujung akan makin mahal. Tapi kalau terkluster kita taruh di tengah dia akan main di satu kota itu dan secara volume juga dapat," ungkapnya.

Selain itu, kata dia, selama ini pengiriman logistik masih dilakukan dengan kendaraan-kendaraan kecil. Hal tersebut juga membuat biaya logistik tinggi.

"Mayoritas pengiriman itu kan pakai truk yang kecil. 8 sampai 10 ton ke bawah. Padahal kalau kita bisa konsolidasikan dari 6 truk menjadi 1 truk, atau kereta cost per unit akan makin kecil," tutur dia.

"Tol peranannya akan makin penting nantinya, karena tol darat memungkinkan kendaraan yang lebih besar," tandasnya.

 

3 of 4

Produk Ekspor Tak Kompetitif Imbas Biaya Logistik

Mulai 18 Agustus, Truk Dibatasi Lewat Tol
Sejumlah truk melintas di ruas Tol Dalam Kota Cawang-Pluit, Jakarta, Rabu (8/8). Pembatasan truk tersebut guna mendukung kelancaran transportasi saat perhelatan olahraga terbesar se-Asia tersebut berlangsung. (Merdeka.com/Iqbal S. Nugroho)

Sebelumnya, biaya logistik yang tinggi membuat produk ekspor Indonesia tidak kompetitif. Hal ini perlu menjadi perhatian pemerintah agar produk nasional lebih berdaya saing.

Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Rosan P Roeslani mengatakan,  porsi biaya logistik menyumbang sekitar 40 persen dari harga produk di Indonesia. Kemudian komponen terbesar dari logistik tersebut yaitu 72 persen merupakan ongkos transportasi.

"Biaya logistik masih tinggi. Tetapi Kadin tentu menyambut baik upaya pemerintah melakukan perbaikan sistem logistik nasional untuk mempercepat pengembangan usaha dan daya saing penyedia jasa logistik," ujar dia dalam Seminar Perdagangan Nasional di Jakarta, Kamis, 28 Februari 2019.

Tingginya biaya logistik di Indonesia juga diakui Kementerian Perindustrian (Kemenperin).

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) Ngakan Timur Antara mengatakan, berdasarkan Logistic Performance Index 2018, Indonesia berada di posisi 46. Indonesia berada di bawah negara tetangga seperti Singapura, Thailand, Vietnam dan Malaysia

"Indonesia berada pada posisi 46 ‎ di dunia‎. Singapura nomor 7, Jerman nomor 1, kemudian Swedia, Belgia, Austria, Jepang, Belanda, Singapura, Denmark, Inggris, Finlandia. Dibandingkan Thailand, Vietnam dan Malaysia juga kalah‎. Thailand di 32, Vietnam di posisi 39, Malaysia di 41," kata dia.

Meski demikian, lanjut Ngakan, dengan beragam pembangunan yang dilakukan pemerintah saat ini diharapkan mampu memperbaiki posisi Indonesia dalam hal logistik ini.‎

"Ranking logistik kita memang up and down. Tapi dengan dibangun infrastruktur seperti tol itu sudah dilihat dampaknya. Ini juga sebagai langkah antisipasi ke depan, sehingga logistik bisa meningkat dari tahun ke tahun," tandas dia.

 

4 of 4

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini

Lanjutkan Membaca ↓