Warga Jabodetabek bakal Habiskan Rp 10,3 Triliun saat Mudik Lebaran

Oleh Ilyas Istianur Praditya pada 09 Apr 2019, 16:40 WIB
Arus Mudik 2018

Liputan6.com, Jakarta Badan Penelitian dan Pengembangan Perhubungan melakukan analisa mengenai berbagai kemungkinan yang terjadi saat mudik Lebaran 2019. Salah satunya biaya yang akan dikeluarkan warga Jabodetabek saat mudik nanti.

Kepala Badan Litbang Perhubungan Sugihardjo menyebutkan jika pada mudik tahun ini, diperkirakan sekitar 20,9 persen pemudik akan menghabiskan dana di lokasi mudik. Nilainya berkisar Rp 500 ribu sampai Rp 1,5 juta. Kemudian sebesar 20,1 persen menghabiskan dana sekitar Rp 1,5 juta sampai dengan Rp 2,5 juta.

"Total dana pemudik Jabodetabek yang dihabiskan di lokasi mudik sebesar Rp 10,3 triliun," kata Sugihardjo di kantornya, Selasa (9/4/2019).

Dari angka itu, dana terbanyak mengalir di wilayah Jawa Tengah sebesar Rp 3,8 triliun, kemudian Jawa Barat sebesar Rp 2,05 triliun, dan Jawa Timur sebesar Rp 1,3 triliun serta sisanya mengalir tersebar ke wilayah lain di Indonesia.

Sedangkan total biaya transportasi yang dibutuhkan pemudik dari Jabodetabek ke tujuan mudik sebesar Rp 6 triliun. Dengan biaya terbanyak adalah ke Jawa Barat yaitu Rp 945 miliar dan ke Jawa Timur Rp 791 miliar.

Sementara itu Sugihardjo menambahkan, untuk program mudik gratis yang diselenggarakan oleh Kementerian Perhubungan, 61 persen responden pengguna angkutan mudik gratis berminat mengikuti program tersebut.

Program mudik gratis Kementerian Perhubungan yang paling diminati adalah menggunakan bus (56 persen) dengan potensi sebanyak 78.957 orang dan 26.319 sepeda motor.

Kemudian peminat angkutan kereta api (39,2 persen) dengan potensi sebanyak 55.208 orang dan 18.403 sepeda motor, serta peminat mudik gratis angkutan laut (4,8 persen) sebanyak 6.729 orang dan 2.243 sepeda motor.

2 of 3

14,9 Juta Warga Jabodetabek Bakal Mudik di Lebaran Tahun Ini

Puncak Arus Balik di Pelabuhan Tanjung Priok Diperkirakan H+7 Lebaran
Petugas membantu pemudik motor gratis turun dari kapal Perintis KM. Sabuk Nusatara di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Rabu (20/6). Puncak arus balik pemudik di Pelabuhan tersebut diperkirakan akan terjadi H+7 Lebaran. (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Badan Penelitian dan Pengembangan Perhubungan melalui Pusat Penelitian dan Pengembangan Transportasi Jalan dan Perkeretaapian menggelar Survei Potensi Pemudik Angkutan Lebaran Tahun 2019 di wilayah Jabodetabek.

Survei ini bertujuan untuk mengetahui potensi jumlah pemudik, penggunaan moda, pola perjalanan, biaya yang dihabiskan, preferensi tentang mudik gratis, serta persepsi tentang pelayanan angkutan lebaran tahun sebelumnya.

"Metode yang digunakan adalah wawancara langsung dari rumah ke rumah kepada masyarakat (home interview) dan sebagai pelengkap juga dilakukan online survey," kata Kepala Badan Litbang Perhubungan Sugihardjo di kantornya, Selasa (9/4/2019).

Berdasarkan survei yang telah dilakukan terhadap 7.762 responden rumah tangga, diprediksi bahwa jumlah masyarakat yang akan mudik pada tahun ini, di wilayah Jabodetabek sebanyak 3.465.458 rumah tangga.

Dengan total populasi pemudik sebanyak 14.901.468 orang atau 44,1 persen dari total penduduk Jabodetabek tahun 2018 sebanyak 33.759.549 orang.

 

3 of 3

Daerah Tujuan

Pemudik Mulai Padati Tol Cipali
Kepadatan terjadi di Jalan Tol Cipali, Jawa Barat mengarah ke Jakarta, Kamis (29/6). Memasuki H+4 Lebaran, arus balik dari Jawa Tengah menuju Jakarta masih terpantau ramai lancar. (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Berdasarkan hasil survei tersebut, daerah tujuan terbanyak pemudik dari Jabodetabek adalah ke wilayah Jawa Tengah sebanyak 5.615.408 orang (37,68 persen), kemudian ke Jawa Barat sebanyak 3.709.049 orang (24,89 persen) dan ke Jawa Timur sebanyak 1.660.625 orang (11,14 persen).

Tujuan Jawa Tengah terbanyak adalah ke Kota Surakarta sebanyak 642.789 orang (4,31 persen), Semarang 563.881 orang (3,78 persen), dan Tegal sebanyak 354.110 orang (2,38 persen).

Karakteristik penggunaan moda oleh para pemudik Jabodetabek yang terbanyak adalah menggunakan bus sebanyak 4.459.690 orang (30 persen), mobil pribadi sebanyak 4.300.346 orang (28,9 persen).

Kemudian  kereta api sebanyak 2.488.058 orang (16,7 perden), pesawat sebanyak 1.411.051 orang (9,5 persen) dan menggunakan sepeda motor sebanyak 942.621 orang (6,3 persen), dan sisanya menggunakan moda lain.

Sigihardjo menjelaskan, terdapat beberapa penggunaan moda yang berpotensi menurun jika dibandingkan moda yang dipilih pemudik pada tahun 2018. Seperti moda pesawat turun 0,2 persen, sepeda motor turun 0,3 persen, dan mobil pribadi turun 0,9 persen.

"Sementara yang mengalami kenaikan antara lain, adalah kereta api kelas bisnis naik 0,2 persen, dan kereta api kelas ekonomi naik 0,4 persen,” tambah dia.

Lanjutkan Membaca ↓