RI Harus Tarik Investasi buat Tambal Defisit

Oleh Liputan6.com pada 04 Apr 2019, 16:30 WIB
Pajak

Liputan6.com, Jakarta - Defisit transaksi berjalan atau Current Account Defisit (CAD) masih menjadi persoalan yang belum terpecahkan.

Salah satu penyebab CAD adalah lebih tingginya angka impor dibanding ekspor sehingga neraca perdagangan menjadi tidak seimbang.

Ketua Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Tax Center, Ajib Hamdani mengatakan, untuk menutupi defisit CAD pemerintah tidak bisa hanya mengandalkan ekspor barang dan jasa saja. Sebab, untuk menambal defisit tersebut pemerintah juga perlu mendorong investasi masuk ke dalam negeri.

"Untuk menutup CAD dari selisih impor ekspor salah satu cara menutup cepat dengan menarik investasi. Dengan masuk (investasi) itu menutup CAD secara instan," kata dia saat ditemui di Jakarta, Kamis (4/4/2019).

Ajib mengungkapkan, ada tiga hal yang mesti dilakukan pemerintah dalam menarik investasi. Ketiga hal tersebut yakni dengan deregulasi, debirokratisasi, dan reformasi struktural yang harus ditingkatkan disetiap instansi pemerintahan.

Dengan demikian, melalui tiga hal itu diyakini investor dapat masuk dengan kemudahan-kemudahan yang diberikan pemerintah.

"Tiga hal itu yang menjadi poin utama bagaimana investasi bisa masuk ke Indonesia," ujar dia.

Defisit transaksi berjalan atau Current Account Defisit (CAD) mencapai USD 31 miliar atau setara dengan 2,98 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) pada 2018.

Salah satu penyebab utama dari bengkaknya defisit transaksi berjalan adalah impor yang tumbuh subur mencapai USD 29,2 miliar, tidak sebanding dengan pertumbuhan ekspor yang hanya USD 17,64 miliar.

 

Reporter: Dwi Aditya Putra

Sumber: Merdeka.com

 

2 of 2

Tiga Tantangan Indonesia untuk Jadi Negara Maju

Prediksi BI Soal Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Tahun Depan
Pekerja tengah mengerjakan proyek pembangunan gedung bertingkat di Jakarta, Sabtu (15/12). Pemerintah menargetkan angka proyeksi pertumbuhan ekonomi tahun 2019 sebesar 5,3 persen. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Sebelumnya, Bank Indonesia (BI) menilai jika laju pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam beberapa tahun ini tetap terjaga. Apalagi, situasi global masih banyak mendapatkan sentimen yang mengharuskan beberapa ekonomi di negara lain justru melambat sampai akhir 2018. 

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Mirza Adityaswara mengatakan, meski ekonomi Indonesia mampu bertahan, tapi masih ada beberapa tantangan untuk bisa menjadikan Indonesia sebagai negara maju.

Tantangan tersebut setidaknya ada tiga hal, yaitu soal Current Account Defisit (CAD), inflasi dan funding.

"Tantangan menurut kami yang selalu jadi bahan diskusi Rapat Dewan Gubernur (RDG) yaitu terkait current account defisit. Dan terkait defisit transaksi berjalan, untuk tahun ini menuju target 2,5 persen dari PDB," ucap Mirza di Gedung Bank Indonesia, Rabu 27 Maret 2019.

Soal Inflasi, Bank Indonesia saat ini terus berkoordinasi dengan pemeritah daerah dalam pengendaliannya. Bahkan BI rutin menggelar Rapat Korodinasi Pemerintah Pusat dan Daerah setiap tiga bulan sekali. Rakorpusda ini dilakukan untuk mengkoordinasikan masalah dan bagaimana meningkatkan ekonomi daerah.

Sementara soal funding, Mirza mengatakan saat ini juga masih dihadapkan pada beberapa tantanga. Ini dikarenakan aliran dana yang masuk ke Indonesia sangat tergantung sentimen global, terutama soal kebijakan The Fed tentang suku bunga.

"Perjalanan Indonesia dari 2000-2018 apa yang mempengaruhi suku bunga, apa yang mempengaruhi inflasi, banyak terkait Fed policy," tegas dia.

Meski demikian, Mirza percaya kondisi ekonomi Indoensia pada 2019 akan lebih baik jika dibandingkan 2018. Hal ini terlihat dari target kredit yang masih optimis di 10-12 persen dan inflasi yang terkendali pada 2,5-4,5 persen.

 

 

Saksikan video pilihan di bawah ini:

 

Lanjutkan Membaca ↓

Live Streaming

Powered by