Prabowo-Sandi Janji Tingkatkan Daya Beli Masyarakat dalam 100 Hari bila Terpilih

Oleh Nurmayanti pada 25 Mar 2019, 15:49 WIB
Rizal Ramli

Liputan6.com, Jakarta Calon Presiden (Capres) Prabowo Subianto dan Calon Wakil Presiden (Cawapres) Sandiaga Uno diyakini mampu meningkatkan daya beli masyarakat dalam 100 hari, bila terpilih memimpin Indonesia.

“Kondisi ini (daya beli rendah) akan kembali normal dalam 100 hari pemerintahan Prabowo bila nanti terpilih menjadi Presiden,” ujar Ekonom Senior Rizal Ramli di Jakarta, Senin (25/3/2019).

Dia mengaku telah berdiskusi dengan Prabowo terkait strategi untuk meningkatkan daya beli masyarakat dalam jangka 3 bulan. Upaya meningkatkan daya beli masyarakat dilakukan melalui beberapa hal.

Penurunan tarif listrik menjadi hal pertama. "Kita akan turunkan tarif listrik seperti dua tahun lalu,” jelas dia.

Menurutnya, dengan memberlakukan tarif listrik seperti dua tahun lalu sama dengan memberikan penghematan pada rumah tangga kelas ekonomi menengah ke bawah sebesar Rp 700 ribu per bulan.

Selain penurunan tarif listrik, Rizal menambahkan, Prabowo juga setuju menghapus sistem kartel pangan.

“Sistem kuota itu kita hapus, semua orang berhak mengimpor namun akan dikenakan tarif 30 persen,” jelas dia.

Dia meyakini dengan penghapusan kuota impor itu akan menyebabkan penurunan harga komoditi impor seperti daging, bawang, beras dan gula.

“Harga daging dan bawang bisa turun sampai 70 persen, begitupula dengan beras dan gula. Sedangkan pemerintah akan mendapatkan tarif sebesar 30 persen, tidak seperti saat ini pemerintah tidak dapat apa-apa,” tambah dia.

Pendiri lembaga think thank Econit ini menjelaskan, dengan turunnya harga kebutuhan dapur itu, bisa menghemat pengeluaran rumah tangga sebesar Rp 50 ribu setiap hari.

“Artinya akan ada sisa belanja sebesar Rp 1,5 juta setiap bulan dan jika ditambah penghematan listrik maka rumah tangga dapat menyimpan uangnya sebesar Rp 2,2 juta setiap bulan,” tutur dia.

Dia menambahkan, dengan nilai penghematan sebesar Rp 2,2 juta itu maka akan menyebabkan daya beli rumah tangga kembali membaik.

“Ini saya sudah mendapatkan jaminan dari Prabowo dan saya yakin dia tidak bohong,” pungkas Rizal Ramli.

2 of 2

Hal yang Bikin Elektabilitas Jokowi Ungguli Prabowo di Sektor Ekonomi

Momen Akrab Jokowi-Ma'ruf dan Prabowo-Sandi di KPU
Dua pasang capres-cawapres Joko Widodo-Ma'ruf Amin dan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno saat pengambilan nomor urut peserta Pemilu 2019 di Kantor KPU, Jakarta, Jumat (21/9). (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) menunjukkan jika elektabilitas calon presiden dan wakil presiden nomor urut 01 Joko Widodo-Ma'ruf Amin lebih tinggi ketimbang pasangan nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

“Bila Pilpres diadakan saat ini, kemungkinan besar calon presiden nomor urut 1 akan menang dengan selisih hingga 26 persen,” ujar Djayadi Hanan, Direktur SMRC di Jakarta, Minggu (17/3/2019).

Jokowi masih unggul meski target pertumbuhan ekonomi yang sebesar 7 persen tidak tercapai. Tak tercapainya target pertumbuhan ekonomi tak menyurutkan elektabilitas Jokowi-Ma'ruf.

Dikatakan jika dalam perspective economic voting mengenai pemilih berperilaku rasional dan realis, hal ini bisa terjadi. Itu karena yang menjadi target masyarakat bukan angka namun kepuasan yang didapatkan dalam hal ekonomi yang lebih baik dibandingkan tahun lalu.

Dia pun menambahkan sejak kekalahan di Pilpres 2014, elektabilitas Prabowo tidak pernah mengungguli Jokowi. “Sejak pasangan ditetapkan juga tidak terkalahkan. Gap-nya hingga 20 persen,” jelas dia.

SMRC pun menambahkan jika tidak ada peristiwa luar biasa misal krisis ekonomi, atau gangguan keamanan maka kecil kemungkinan elektabilitas prabowo akan meninggi.

Adapun hal yang membuat Jokowi unggul ialah tingginya tingkat kepuasan masyarakat atas kinerja terutama yang berkaitan dengan ekonomi serta kesejahteraan. “Saat ini publik menilai mereka lebih mudah dalam membeli dan memenuhi kebutuhan pokoknya,” ungkap dia.

Selain itu, masyarakat menganggap Jokowi telah berhasil menurunkan angka kemiskinan dan pengangguran. Serta telah berhasil dalam pemerataan, menjaga inflasi agar tetap rendah, dan mengani gejolak nilai rupiah serta pembagunan infrastruktur.

 

Lanjutkan Membaca ↓

Live Streaming

Powered by