Pertumbuhan Penumpang Pesawat Bakal Terbatas pada Mudik Lebaran 2019, Kenapa?

Oleh Ilyas Istianur Praditya pada 21 Mar 2019, 18:32 WIB
Diperbarui 23 Mar 2019, 17:13 WIB
Pesawat Air Asia

Liputan6.com, Jakarta - Kementerian Perhubungan (Kemenhub) memperkirakan ada pertumbuhan jumlah penumpang pesawat saat mudik Lebaran 2019. Akan tetapi, pertumbuhan jumlah penumpang itu rendah jika dibandinkan tahun lalu.

Sekretaris Ditjen Perhubungan Udara, Nur Isnin Istiartono mengatakan, jumlah penumpang pesawat diperkirakan hanya tumbuh tiga persen pada 2019. Padahal tahun lalu penumpang pesawat ini saat mudik Lebaran mampu tumbuh hingga 7 persen.

"Berdasarkan pola pergerakan penumpang, jumlah penumpang domestik dan internasional tren pertumbuhannya lebih rendah dari tahun lalu. Tetap meningkat tapi tidak setinggi tahun lalu," tegas dia di kantornya, Kamis (21/3/2019).

Pada masa angkutan Lebaran 2018, Kementerian Perhubungan mencatat kapasitas penumpang yang tersedia untuk moda angkutan pesawat mencapai 11,7 juta kursi untuk periode H-10 hingga H+10 Lebaran. Angka ini tumbuh 3,6 persen jika dibandingkan kapasitas tahun lalu.

Adapun, kapasitas itu akan dilayani 547 pesawat dengan berbagai tipe. Dari jumlah itu, Garuda Indonesia menggunakan 140 pesawat dan Lion Air 111 pesawat.

Sementara itu di kesempatan yang sama Sekretaris Badan Litbang Perhubungan Rosita Sinaga mengatakan, dari hasil kajiannya, da beberapa hal yang menyebabkan pertumbuhan jumlah penumpang pesawat tak setinggi tahun lalu. Salah satunya mulai tersambungnya jalan tol Trans Jawa.

"Dari kajian kami, yang paling terlihat kenaikan penggunanya itu Trans Jawa yang mencapai 80 persen dibanding sebelum tol dioperasikan, jadi semua mencoba," pungkasnya. (Yas)

 

 

2 dari 2 halaman

Harga Tiket Pesawat Mahal, Okupansi Hotel Turun

Ilustrasi tiket pesawat
Ilustrasi tiket pesawat (Liputan6.com/Andri Wiranuari)

Sebelumnya, Menteri Pariwisata, Arief Yahya mengatakan, ratusan penerbangan terpaksa harus ditunda akibat kenaikan harga tiket yang terjadi beberapa waktu belakangan.

Sebagian besar penerbangan yang tertunda ini adalah penerbangan dalam negeri atau domestik. 

"Pengaruh banget, saya tidak tahu tepatnya, ratusan flight sudah di cancel. Dari dalam mau ke Sumba, NTB, jumlahnya tidak tahu karena tidak mau diumumkan," ujar Arief di Kantor Pusat Bank Indonesia, Jakarta, Senin 18 Maret 2019.

Arif mengatakan, kenaikan harga tiket pesawat yang cukup mahal juga sempat dikeluhkan oleh pemerintah daerah seperti Bupati Banyuwangi dan Aceh. Harga tiket dari kedua daerah ini berada diatas rata-rata harga biasanya.

"Tiket kalau di domestik terpengaruh, internasional tidak pengaruh. Kilometer yang dari internasional lebih murah. Disindir juga dari Bupati Banyuwangi, return tiket dari Banyuwangi-KL Rp 500.000," ujar dia. 

"Di domestik, sini lebih deket sampai Rp 1,2 juta, PP sampai Rp 2,4 juta. Meskipun yang Rp 500.000 adalah promo. Tapi kan jauh banget selisihnya. Terus kemaren kesindir juga kita dari Aceh ke Surabaya, lebih murah ke KL dulu baru ke Surabaya," sambungnya.

Arief menambahkan, akibat kenaikan harga tiket tingkat keterisian hotel (okupansi) di berbagai daerah turut menurun. Tercatat untuk wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB) okupansi turun hingga 20 persen. 

"Yang NTB yang tadinya okupansinya 36 persen naik 50 persen, sekarang turun lagi 30 persen. Menurun sekitar 20 persen okupansinya secara tahunan," kata dia.

 

Saksikan video pilihan di bawah ini:

 

Lanjutkan Membaca ↓
Indonesia Incar Membeli Pesawat Tempur F-35 Buatan Amerika Serikat