Krisis Venezuela, Rakyat Rela Antre demi Dapat Air Gunung

Oleh Tommy Kurnia pada 21 Mar 2019, 12:37 WIB
Diperbarui 21 Mar 2019, 13:17 WIB
Krisis air di Venezuela.

Liputan6.com, Caracas - Kisah terpuruknya ekonomi Venezuela masih berlanjut. Gagalnya ekonomi negara sosialis tersebut membuat rakyatnya kabur, menjual rambut, hingga menadah aliran air dari gunung.

Dilansir dari BBC, kekurangan air terjadi akibat putusnya aliran listrik di kota-kota Venezuela di awal bulan ini. Warga pun menyayangkan tidak ada peringatan pemerintah atas hal ini.

Warga perlu memutar otak agar mencari air, ada yang membawa botol dan ember ke area taman dan menadah air di aliran pinggir sungai. Air yang ditampung berasal dari aliran air gunung.

"Berhari-hari tanpa air, akhir minggu tanpa air, juga di hari biasa, dan tidak ada peringatan. Ini bukan karena pompa rusak atau pipa retak. Bukan. Pokoknya airnya tidak ada," ungkap Margarita Aguayo, warga Caracas, kepada BBC.

Wanita paruh baya itu mengaku tertegun ketika menyadari ekonomi Venezuela yang perlahan semakin merosot hingga sampai ke tahap seperti ini. Akan tetapi, Margarita percaya masih ada harapan dan mengajak warga saling menolong di kala sulit ini.

"Kita mengantre dan tetangga tidak bisa mengantre, maka kita bawakan air untuknya. Saya tahu jika besok atau hari lain kalau kita tidak bisa pergi (mengambil air), kita tahu tetangga kita akan membawa air untuk kita. Saya yakin," ucapnya.

Ekonomi Venezuela runtuh karena negara itu terlalu tergantung pada minyak, dan ketika harga minyak dunia jatuh, ekonominya pun ikut terseret. Kebijakan sosialis yang diterapkan seperti subsidi dan nasionalisasi juga membuat bisnis di sana tidak kompetitif dan dijauhi investor.

Saat ini, negara adidaya Amerika Serikat (AS) dan sekutunya resmi tidak mengakui Presiden Nicolas Maduro sebagai presiden sah Venezuela.

2 of 2

Kaum Hawa Rela Jual Rambut demi Duit

Pembakaran dan Blokir Jalan Warnai Aksi Protes Lanjutan di Venezuela
Ribuan orang berkumupul saat menggelar aksi menentang Presiden Nicolas Maduro di Caracas, Venezuela (24/4). Pihak oposisi menyalahkan Nicolas Maduro atas krisis ekonomi di negara tersebut.(AFP/Federico Parra)

 Krisis ekonomi di Venezuela membuat warga perlu memutar otak demi mendapat ekstra uang. Bagaikan Fantine di cerita Prancis Les Miserables, wanita di Venezuela sampai menjual rambutnya.

Dilansir dari BBC, harga rambut yang dipotong langsung dari pemilikinya dibanderol hingga 45 pound sterling atau Rp 825 ribu (asumsi kurs 1 pound sterling = Rp 18.355).

Pembeli adalah pria paruh baya bernama Luis Fernando. Ia berharap, uang yang para perempuan dapat lewat menjual rambut dapat meningkatkan hajat hidup mereka.

"Ketika mereka datang untuk memotong rambut, itu karena kemiskinan mereka sangan ekstrim, dan mereka melakukan ini sebagai cara terakhir mendapatkan uang," ujar pria berkumis itu.

Luis menawarkan jasanya di tengah jalan dan memanggil-manggil calon pembelinya. Dia sudah memotong ratusan rambut perempuan Venezuela yang tengah mengungsi.

Rambut-rambut itu ia kemudian jual ke tukang rambut palsu dan ekstensi. Luis pun memahami betul perasaan para perempuan yang sampai harus memotong rambutnya.

"Para wanita Venezuela pasti sangat sakit ketika harus menjual rambut mereka. Rambut itu bagian dari mereka," imbuhnya.

Sekiranya 2,3 juta rakyat Venezuela tengah melarikan diri ke negara lain akibat buruknya ekonomi di negara mereka. Saat ini, rezim sosialis Nicolas Maduro tengah mendapat tekanan dari Amerika Serikat dan negara-negara Amerika Latin lain untuk menyerahkan tampuk pemerintahan ke kubu oposisi.

Lanjutkan Membaca ↓