Digempur Impor, Pembangunan Klaster Baja Cilegon Tetap Sesuai Target

Oleh Septian Deny pada 21 Mar 2019, 12:30 WIB
Ilustrasi Pembuatan Baja (iStockphoto)

Liputan6.com, Jakarta - PT Krakatau Steel (Persero) Tbk memastikan pembangunan proyek klaster baja di Cilegon, Banten, tetap berjalan sesuai target. Meski saat ini industri baja nasional tengah dihadapkan pada beragam tantangan seperti persaingan dengan produk baja impor.

Direktur Utama Krakatau Steel Silmy Karim mengatakan, ‎saat ini, persaingan yang semakin sengit dengan produk impor dengan harga murah. Hal ini mengakibatkan penurunan utilisasi produksi yang merugikan produsen baja dalam negeri.

"Industri baja nasional terus optimis melakukan investasi yang ditujukan meningkatkan kapasitas produksinya untuk memenuhi kebutuhan baja domestik dan dapat mensubtitusi produk impor sebagai upaya untuk memperkuat daya saing industri baja nasional," ujar dia dalam The 4th Government Task Force Team Meeting for National Steel Industry Development di Jakarta, Kamis (21/3/2019).

Dia menjelaskan, dalam mewujudkan klaster baja dengan kapasitas 10 juta ton di Cilegon, Krakatau Steel bekerja dengan perusahaan asal Negeri Gingseng, POSCO Korea. Proyek ini diharapkan berjalan lancar agar mampu mendorong pembentukan industri baja yang terintegrasi dari hulu hingga hilir.

“Kami sangat berterima kasih atas dukungan dan atensi pemerintah selama ini terhadap upaya peningkatan kapasitas produksi melalui klaster baja 10 juta ton yang akan dilakukan secara bertahap dan ditargetkan akan tercapai pada 2025," kata dia.

Silmy menjelaskan, pembangunan klaster baja ini terdiri dari fasilitas produksi baja yang telah ada sebelumnya milik Krakatau Steel dan PT Krakatau Posco, ditambah dengan pembangunan fasilitas produksi baru. Sehingga secara tol akan mampu memproduksi baja hingga 10 juta ton.

“Di tahun 2019 ini pabrik Hot Strip Mill 2 sebagai bagian dari klaster baja 10 juta ton, pada tahap mechanical completion di akhir April 2019. Nilai investasi pabrik ini mencapai USD 515 juta dan kapasitas tahap awal sebesar 1,5 juta ton. Selanjutnya hingga tahun 2025 disusul dengan pembangunan pabrik-pabrik rolling mill lainnya seperti Cold Rolling Mill 2 dan 3 serta penambahan kapasitas Hot Strip Mill 2," tandas dia.

2 of 3

Krakatau Steel Targetkan Produksi Baja 10 Juta Ton di 2019

20160809-Harga-Besi-Jakarta-AY
Buruh melakukan bongkar muat besi baja di Pelabuhan Sunda Kelapa, Jakarta Utara, Selasa (9/8). Harga tersebut berlaku di tingkat pedagang. Sementara di tingkat pengecer bisa lebih mahal 10%. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Sebelumnya, PT Krakatau Steel (Persero) Tbk berupaya untuk mencapai target kapasitas produksi hingga 10 juta ton di 2019. Untuk mencapai tujuan itu, perseroan menjalin kerja sama dengan sejumlah mitra strategis seperti POSCO Korea dan Nippon Steel dari Jepang.

Senior Manager External Communication Krakatau Steel Vicky Muhammad mengungkapkan, industri baja adalah industri dasar suatu negara sehingga kebedaraannya harus selalu ada dan berkembang. 

"Krakatau Steel sebagai industri baja milik negara terus mengembangkan kapasitas produksinya yang akan menjadi 10 juta kluster baja di Kota Cilegon. Kami tidak sendirian, kami menggandeng dengan mitra strategis seperti POSCO dari Korea dan Nippon Steel dari jepang, sudah membuat pabrik dan akan terus dikembangkan," kata Vicky, seperti dikutip pada Selasa 12 Februari 2019.

Selain bekerjasama dengan mitra strategis, untuk mencapai target produksi 10 juta ton, Krakatau Steel juga tengah membangun pabrik Hot Strip Mill (HSM) untuk yang kedua. Dengan adanya pabrik baru ini, maka produksi baja diperkirakan bisa meningkat menjadi 4,6 juta ton.

"Pabrik HSM nomor 2 yaitu kapasitas 1,5 juta ton sehingga akan menambah kapasitas kita menjadi sekitar 4,6 juta ton per tahun. Artinya butuh pengembangan lagi untuk capai 10 juta ton. Target HSM 2 sampai 2019 ini semester 1 itu sudah mulai beroperasi," terangnya.

 

3 of 3

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓