Sri Mulyani: Bangun SDM Jauh Lebih Sulit Ketimbang Infrastruktur

Oleh Liputan6.com pada 21 Mar 2019, 12:15 WIB
Diperbarui 21 Mar 2019, 12:15 WIB
20160929- Menkeu dan Komisi XI Evaluasi Pelaksanaan Tax Amnesty-Jakarta- Johan Tallo
Perbesar
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengikuti rapat kerja (Raker) dengan Komisi XI DPR RI di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Kamis (29/9). (Liputan6.com/Johan Tallo)

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati menegaskan, membangun Sumber Daya Manusia (SDM) jauh lebih sulit dibandingkan membangun fisik atau infrastruktur.

Hasil pembangunan infrastruktur bisa langsung dilihat tetapi pembangunan SDM sulit untuk diukur. 

"Saya ingin menyampaikan kepada bapak ibu kalau kita fokus membangun SDM, tantangan akuntabilitas menjadi jauh lebih sulit. Dibandingkan membangun fisik. Kalau bapak ibu sekalian, TNI dan Polri kalau bicara tentang membeli alusista mudah, akuntabilitasnya, kalau mau beli helikopter, betul engga beli atau tidak," ujar Sri Mulyani, saat menjadi salah satu pembicara dalam rapat koordinasi nasional (Rakornas) pengawasan intern pemerintah di Hotel Bidakara, Jakarta, Kamis (21/3/2019). 

"Tapi kalau membangun profesionalisme TNI, Polri ukurannya jauh lebih sulit, dibandingkan kalau membangun barak. Jadi segala sesuatu yang membangun SDM jauh lebih sulit tampak dampaknya jauh lebih besar kepada perekonomian kita," sambungnya. 

Sri Mulyani melanjutkan, belanja SDM yang menggunakan uang negara juga sulit dihitung salah satunya untuk pembangunan kesehatan masyarakat seperti stunting dan jumlah anak yang dilahirkan. Sering kali, anggaran habis untuk hal ini namun hasilnya tidak bisa langsung dirasakan. 

"Di bidang kesehatan kita bisa mengukur jumlah anak yang stunting. Tapi itu tidak ujug-ujug turunnya. Jumlah bayi yang lahir sehat, berapa ibu yang melahirkan dengan sehat. Kita bicara anak yang di didik. Tidak tahu anaknya makin pintar atau tidak, tahu-tahu uangnya sudah habis," ujar dia.

 

Reporter: Anggun P.Situmorang

Sumber: Merdeka.com

 

2 dari 2 halaman

Pembangunan Infrastruktur Juga Jadi Prioritas

Ditinggal Mudik Pekerja, Pembangunan Infrastruktur Dihentikan Sementara
Perbesar
Suasana sepi terlihat di proyek Light Rail Transit (LRT) Jabodebek lintas pelayanan dua rute Cawang-Dukuh Atas di kawasan Kuningan, Jakarta, Senin (18/6). Seluruh proyek infrastruktur masih ditinggal mudik para pekerja. (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Sebelumnya, Menteri Keuangan, Sri Mulyani mengatakan, pembangunan infrastruktur masih akan menjadi fokus pemerintah saat ini.

Sri Mulyani menyampaikan hal itu saat menjadi pembicara dalam Fitch Ratings "Indonesia Credit Briefing” dengan tema “Fitch an Indonesia – The Election, Macro Economy and Credit Market", di Mandarin Hotel, Jakarta, Rabu 20 Maret 2019.

"Infrastruktur akan terus menjadi prioritas," kata Sri Mulyani di hadapan para penerbit surat utang Indonesia (issuer).

Dia menegaskan, infrastruktur harus terus dikebut sebab Indonesia merupakan negara yang cukup besar sehingga harus ditopang oleh infrastruktur yang memadai.

"Kami akan terus bangun infrasturktur karena Indonesia adalah negara besar, akses luas dan perlu conectivity," ujar dia.

Dengan maraknya infrastruktur, diharapkan dapat menciptakan masyarakat dengan keterampilan yang lebih tinggi, lebih sehat serta tercipta pemerataan antar daerah.

Untuk itu, Sri Mulyani menyebutkan akan terus mendorong skema pembiayaan Kerja Sama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU) dalam membangun infrastruktur. "Kami akan dorong public private partnership," ujar dia.

Selain itu, pemerintah daerah juga diminta untuk tidak mengandalkan dana dari pusat. Pemda dituntut untuk lebih kreatif mencari sumber pendanaan lain dalam membangun infrastruktur di wilayahnya masing-masing.

"Kami dorong Pemda tidak hanya mengandalkan local finance, namun juga meminjam melaui private public partnership, kami telah menghadirkan transfer to region," tutur dia.

 

Saksikan video pilihan di bawah ini:

 

Lanjutkan Membaca ↓