3 Isu Penting Jadi Kunci Tarik Investor Asing Biayai Proyek Infrastruktur

Oleh Maulandy Rizky Bayu Kencana pada 21 Mar 2019, 11:00 WIB
Diperbarui 21 Mar 2019, 11:00 WIB
Tol Trans Jawa Pasuruan - Probolinggo
Perbesar
Tol Trans Jawa Pasuruan - Probolinggo. Dok: Kementerian PUPR

Liputan6.com, Jakarta - Ramainya pembangunan infrastruktur dalam negeri membuat pemerintah buka diri kepada pihak swasta asing untuk berinvestasi pada suatu proyek. Namun begitu, masih belum banyak investor asing yang mau masuk membiayai.

Merespons hal ini, Kepala Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) Kementerian PUPR Danang Parikesit mengatakan, ada tiga isu penting yang harus diperhatikan calon investor asing agar bisa ikut bermain pada satu proyek infrastruktur di Tanah Air.

Pertama, investor asing disebutkannya harus bermitra dengan investor lokal untuk bisa memahami risiko-risiko yang muncul dari kebijakan infrastruktur di Indonesia.

"Solusinya memang selalu kita sarankan mereka harus bermitra dengan pengusaha-pengusaha lokal, investor lokal, yang juga punya kapasitas untuk bisa memprediksi lebih bagus mengenai kebijakan pemerintah," ujar dia, Kamis (21/3/2019).

 

 

2 dari 2 halaman

Lewat Aksi Korporasi

Kementerian PUPR berupaya untuk menyelesaikan pembangunan Jalan Tol Trans Jawa dari Merak - Banyuwangi sepanjang 1.150 Km pada akhir tahun 2019. (Dok Kementerian PUPR)
Perbesar
Kementerian PUPR berupaya untuk menyelesaikan pembangunan Jalan Tol Trans Jawa dari Merak - Banyuwangi sepanjang 1.150 Km pada akhir tahun 2019. (Dok Kementerian PUPR)

Kedua, ia melanjutkan, kesempatan swasta asing bisa masuk ke Indonesia itu melalui aksi korporasi. Danang menilai, investor asing bisa masuk dengan menanam saham pada perusahaan infrastruktur terbuka seperti PT Jasa Marga (Persero) Tbk atau PT Waskita Karya (Persero) Tbk.

"Jadi sebenarnya ada banyak cara, dan barangkali dalam jangka pendek itu cara yang paling aman. Mereka tidak langsung berinvestasi, tapi mereka masuk di dalam kepemilikan saham dari perusahaan-perusahaan infrastruktur yang sudah Tbk," cetusnya.

"Baru dari situ mereka bisa belajar mengenai dinamika kebijakan di kita, baru berikutnya masuk ke investasi," dia menambahkan.

Isu ketiga, Danang berpendapat, kurs rupiah yang kerap terombang-ambing dinilai sebagai sebuah risiko tersendiri, utamanya bagi perusahaan asing yang hendak berinvestasi pada proyek jalan tol.

"Itu tiga hal yang jadi isu penting kenapa kita belum banyak meng-attract pihak swasta asing. Terutama di sektor pembangunan tol, karena memang pendapatan tol rupiah," tutur dia.

 

Saksikan video pilihan di bawah ini:

 

Lanjutkan Membaca ↓