The Fed Pertahankan Suku Bunga Acuan AS

Oleh Agustina Melani pada 21 Mar 2019, 03:47 WIB
Gubernur BI Perry Warjiyo berdiskusi dengan Ketua Dewan Pengurus Bank Sentral AS (Chairman of the Federal Reserve), Jerome Powell, di sela-sela pertemuan tahunan IMF-Bank Dunia, di Bali (13/10/2018). (Ilyas/Liputan6.com)

Liputan6.com, Washington - Bank sentral Amerika Serikat (AS) atau the Federal Reserve (the Fed) mengambil sikap kebijakan kurang agresif usai menggelar pertemuan selama dua hari.

Hal ini menunjukkan the Fed tidak akan menaikkan suku bunga pada 2019 di tengah ekonomi yang melambat dan mengumumkan rencana akhiri program pengurangan neraca pada September.

The Fed memutuskan mempertahankan suku bunga acuan dalam kisaran 2,25 persen-2,5 persen.

Suku bunga acuan ini digunakan sebagai kunci untuk menentukan suku bunga untuk sebagian besar utang konsumen dengan tingkat bunga yang dapat disesuaikan antara lain kartu kredit dan pinjaman rumah.

Langkah the Fed sesuai harapan dan permintaan pasar. Pembuat kebijakan Federal Open Market Committee (FOMC) mengambil perubahan tajam dari proyeksi kebijakan sebelumnya.

The Fed kembali menegaskan janjinya untuk sabar terhadap kebijakan moneternya. Selain itu, the Fed menyatakan akan mulai perlambat pengurangan kepemilikan obligasi pada Mei dengan menurunkan batas bulanan menjadi USD 15 miliar dari USD 30 miliar.

Dengan pengumuman yang digabung berarti setelah pengetatan kebijakan moneter pada tahun lalu, the Fed berhenti pada kedua sisi untuk menyesuaikan pertumbuhan global yang lebih lemah dan pandangan agak lebih lemah untuk ekonomi AS.

"Mungkin perlu beberapa waktu sebelum prospek lapangan kerja dan inflasi jelas menyerukan perubahan kebijakan. Kami melihat tidak perlu terburu-buru untuk segera melakukan," ujar pimpinan the Fed, Jerome Powell, seperti dikutip dari laman Reuters, Kamis (21/3/2019).

Perkiraan ekonomi terbaru yang dirilis pada akhir pertemuan juga menunjukkan para pembuat kebijakan telah mengabaikan proyeksi kenaikan suku bungada 2019, dan melihat hanya satu kenaikan suku bunga pada 2020.

Usai pengumuman itu, prediksi mulai memberi harga untuk peluang penurunan suku bunga lebih baik dari pada tahun depan. Powell mendorong kembali pada pandangan itu dan mengatakan ekonomi AS berada di tempat yang baik dan prospeknya “positif”.

The Fed Cermati Brexit hingga Perang Dagang

Akan tetapi, ia menuturkan ada risiko yang sedang berlangsung termasuk keluarnya Inggris dari Uni Eropa, pembicaraan perdagangan AS dengan China, dan prospek ekonomi AS. The Fed mengawasi hal itu dengan cermat.

"Data saat ini tidak mengirimkan sinyal kalau kita perlu bergerak ke satu arah atau lainnya, dalam pandangan saya. Ini saat yang tepat bagi kita untuk bersabar," tutur dia.

Indeks saham AS menguat usai pernyataan the Fed dirilis, dan imbal hasil surat berharga turun ke level terendah sejak awal Januari. Dolar AS melemah terhadap mata uang mitra dagang utama.

"The Fed melampaui ekspektasi dovish pasar yang berdampak terhadap dolar AS. The Fed melakukan banyak hal tentang kebijakan. Fakta the Fed menyerah pada kenaikan suku bunga 2019 adalah sangat dovish," ujar Analis Western Union Business Solutions, Joe Manimbo.

 

2 of 2

Proyeksi Ekonomi

Suku Bank Bank
Ilustrasi Foto Suku Bunga (iStockphoto)

Proyeksi ekonomi baru yang dirilis pada Rabu waktu setempat menunjukkan melemah di semua lini dibandingkan perkiraan Desember dengan pengangguran diperkirakan sedikit lebih tinggi pada 2019, inflasi turun dan pertumbuhan ekonomi lebih rendah.

“Pertumbuhan kegiatan ekonomi telah melambat dari tingkat solid pada kuartal keempat,” kata the Fed.

"Indikator terkini menunjukkan pertumbuhan belanja rumah tangga dan investasi tetap pada bisnis yang lebih lambat pada kuartal I, inflasi keseluruhan menurun," the Fed menambahkan.

Meskipun demikian, the Fed mengatakan pertumbuhan "berkelanjutan" sebagai hasil yang paling mungkin. The Fed mengatakan akan akhiri neraca pada September lebih awal dari perkiraan banyak analis, asalkan kondisi sesuai ekonomi dan pasar uang.

Penebusan aset yang didukung hipotek pada saat itu akan diinvestasikan kembali dalam surat berharga hingga USD 20 miliar per bulan.

Di sisi lain, the Fed memproyeksikan pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) melambat menjadi 2,1 persen pada 2019 dari perkiraan sebelumnya 2,3 persen. Sementara tingkat pengangguran diperkirakan 3,7 persen, sedikit lebih tinggi dari proyeksi Desember.

Inflasi diperkirakan 1,8 persen pada 2019 dibandingkan perkiraan the Fed pada Desember sebesar 1,9 persen.

Sebelumnya the Fed menaikkan suku bunga sebanyak tujuh kali selama periode 2017-2018, mendekati 2,6 persen untuk suku bunga acuan.  Proyeksi menunjukkan the Fed tidak lagi mengharapkan perlunya membuat kebijakan terbatas untuk menjaga terhadap inflasi. Anggota FOMC mengindikasikan kalau suku bunga the Fed cenderung tetap pada 2019 dan 2020.

 

Saksikan video pilihan di bawah ini:

 

Lanjutkan Membaca ↓