Harga Minyak di Bawah USD 70 per Barel, Pencapaian PNBP Migas Menantang

Oleh Pebrianto Eko Wicaksono pada 19 Mar 2019, 17:45 WIB
Diperbarui 19 Mar 2019, 18:17 WIB
20151007-Ilustrasi Tambang Minyak

Liputan6.com, Jakarta - Perolehan Pendapatan Negara Bukan Pajak (PBNB‎) dari sektor minyak dan gas bumi 2019 akan menantang, sebab harga minyak Indonesia (Indonesian Crude Price/ ICP) tidak sesuai perkiraan.

Menteri Energi Sumber Daya Mineral (ESDM), Ignasius Jonan men‎gatakan, dari Januari dan Februari 2019 rata-rata realisasi ICP sekitar USD 58 per barel. Sementara dalam APBN 2019 ICP ditetapkan USD 70 per barel.

"Kalau sampai Januari Februari tidak ada ICP sampai USD 70, itu hanya USD 58 per barel," kata Jonan, saat rapat dengan Komisi VII DPR, di Gedung DPR Jakarta,‎ Selasa (19/3/2019).

Jonan mengungkapkan, kondisi harga minyak yang belum mencapai USD 70 per barel sesuai APBN, maka ‎untuk mengejar  target PNBP 2019 sebesar Rp 168 triliun sangat menantang.

"Target Rp 168 triliun dari sektor migas semata asumsi ICP USD 70 dolar per barel Itu jadi tantangan sendiri," tutur dia.

Jonan menuturkan, sampai saat ini belum ada rencana penyusunan APBN Perubahan, untuk merevisi acuan ICP USD 70 dengan menyesuaikan realisasi saat ini.

"Belum ada pertemuan di kabinet untuk APBNP atau tidak. Karena Januari Februari ICP USD 70 tidak tercapai," tutur dia.

Jonan mengungkapkan, dari 2015 sampai 2019 realisasi PNBP dari sektor migas mengalami fluktuasi.

Sempat tidak mencapai target pada 2016 sebesar Rp 68,69 triliun dengan realisasi Rp 48,60 triliun. Sedangkan 2018 realisasi PNBP sektor migas sebesar Rp 150,33 triliun sedangkan targetnya Rp 86,46 triliun.

‎"Itu 2018 mengalami kenaikan besar kalu migas satuanya acuan besar kenaikan harga minyak dunia kalau turun tidak mencapai target," kata dia.

 

2 dari 2 halaman

Harga Minyak Dunia Melompat pada Perdagangan Kemarin

20151007-Ilustrasi Tambang Minyak
Ilustrasi Tambang Minyak (iStock)

Sebelumnya, harga minyak naik mendekati level tertinggi empat bulan pada hari Senin (Selasa pagi WIB), didukung oleh prospek perpanjangan pemangkasan pasokan minyak yang dipimpin Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan tanda-tanda penurunan persediaan stok minyak mentah Amerika Serikat (AS).

Dilansir Reuters, Selasa 19 Maret 2019, harga minyak mentah berjangka Brent ditutup pada USD 67,54 per barel, naik USD 38 sen atau 0,6 persen. Harga patokan minyak internasional ini berada dekat puncak 2019 di level USD 68,14 yang dicapai pada hari Kamis.

Harga minyak mentah antara West Texas Intermediate (WTI) AS berakhir di USD 59,09 per barel, menambahkan USD 57 sen, atau 1 persen, setelah mencapai tertinggi empat bulan pada USD 59,23 per barel.

OPEC dan sekutunya, yang dikenal sebagai OPEC +, bertemu di Azerbaijan pada akhir pekan ini untuk memantau pakta pengurangan pasokan minyak mentah mereka. OPEC juga membatalkan pertemuan pada April, yang berarti grup produsen minyak tidak akan bertemu lagi sampai Juni.

Arab Saudi pada hari Minggu mengisyaratkan produsen mungkin perlu memperpanjang pemangkasan 1,2 juta barel per hari sejak Juni lalu hingga paruh kedua 2019. Kerajaan Arab Saudi secara umum telah memotong lebih dramatis daripada beberapa negara lain, sementara Rusia, anggota non-OPEC terbesar dalam pakta tersebut, kurang tertarik untuk melanjutkan pengurangan produksi.

Ekspor dari produsen terbesar OPEC turun menjadi 7,3 juta barel per hari di Januari dari 7,7 juta barel per hari pada Desember, data resmi menunjukkan.

Tanda-tanda penurunan tingkat persediaan minyak mentah di pusat penyimpanan AS di Cushing, Oklahoma juga mendukung harga minyak berjangka, kata para pelaku pasar.

Stok minyak mentah di Cushing, titik pengiriman untuk WTI, turun 1,08 juta barel dalam seminggu hingga Jumat, kata para pedagang, mengutip data dari perusahaan intelijen pasar Genscape.

Secara keseluruhan, persediaan minyak mentah AS diperkirakan telah turun minggu lalu, penurunan mingguan kedua berturut-turut, sebuah jajak pendapat pendahuluan menunjukkan.

Produksi minyak AS dari tujuh formasi serpih utama diperkirakan akan mencapai rekor 8,6  juta barel per hari pada April, naik 85.000 barel per hari, yang akan menjadi kenaikan bulanan terkecil sejak Mei 2018, perkiraan pemerintah.

 

Saksikan video pilihan di bawah ini:

 

Lanjutkan Membaca ↓