Miliarder AS Beri Sumbangan Terselubung demi Anak Masuk Kampus Ternama

Oleh Tommy Kurnia pada 22 Mar 2019, 21:00 WIB
Diperbarui 24 Mar 2019, 19:13 WIB
Ilustrasi miliarder (iStock)

Liputan6.com, Washington D.C. - Dunia pendidikan dibuat geger setelah terkuak skema koruptif mengenai cara agar anak orang kaya masuk universitas ternama. Ini terkuak dari kasus aktris Lori Loughlin yang menyogok agar putrinya, Olivia Giannulli, bisa masuk di Universitas South California.

Di tengah kasus ini, para universitas di Amerika Serikat (AS) yang sering menerima sumbangan pun menjadi sorotan. Forbes pun melihat para miliarder yang hobi menyumbangkan uang ke kampus ternama dan relasinya dengan keluarga mereka di kampus itu.

Forbes mengambil contoh miliarder Les Wexner yang memimpin Victoria's Secret. Ia hobi memberi sumbangan ke Universitas Harvard dan pada tahun 2013 menyumbang USD 8,5 juta atau yang saat ini setara Rp 131,2 miliar.

Kebetulan, anak tertua sang miliarder juga diterima di Harvard pada tahun 2013. Wexner pun konsisten memberikan sumbangan ke Harvard dalam tiga tahun setelahnya. Kebetulan juga, tiga anak Wexner yang lain berhasil masuk Harvard pada tahun 2014, 2015, dan 2016.

Nama lain yang disorot adalah Jared Kushner, menantu Presiden Donald Trump sekaligus penasihat senior sang presiden. Kushner adalah anak konglomerat yang juga memberi sumbangan ke Universitas Harvard sebelum Jared diterima ke universitas itu.

Pihak Kushner pun menolak tudingan "membeli" jalan masuk ke universitas. Sekadar informasi, budaya sumbangan uang ini sama sekali tidak melanggar hukum, walau pun kontroversial banyak miliarder yang hobi menyumbang ke kampus-kampus ternama.

Lantas bagaimana pandangan pakar pendidikan mengenai ini?

2 dari 2 halaman

Kata Pakar Pendidikan

Ilustrasi Kampus
Forum Liputan6

Pakar pendidikan pun tidak menampik bahwa sumbangan para hartawan bisa memuluskan jalan masuk. Anak-anak para donor pun tentunya mendapatkan perhatian dari pihak kampus.

"Hal itu (sumbangan) adalah komponen besar. Pendaftar yang kurang kompetitif pun bisa menjadi 'masuk' jika datang dari grup yang ditargetkan, dan para donor adalah salah satu dari mereka," ucap Mandee Heller Adler, pendiri International College Counselors.

Meski demikian ia membantah bahwa semua anak orang kaya bisa dengan mudah masuk ke universitas. "Kampus-kampus membutuhkan uang, tetapi mereka mungkin tidak butuh uangmu. Mereka tidak menjual bangku untuk penawar tertinggi," ujarnya.

Lanjutkan Membaca ↓