Konektivitas Tol dan Pelabuhan Penyeberangan Genjot Ekonomi Lokal

Oleh Maulandy Rizky Bayu Kencana pada 18 Mar 2019, 12:15 WIB
(Foto: Dok Kementerian PUPR)

Liputan6.com, Jakarta - Pemerintah hingga kini terus gencar membangun jalan tol di berbagai pelosok Indonesia guna memperlancar konektivitas dari satu daerah ke daerah lain.

Seperti proyek Tol Trans Sumatera sepanjang 2.700 km, yang bakal menyambungkan Aceh hingga Lampung.

Kendati demikian, Menteri BUMN Rini Soemarno menyatakan, jalan tol bukan satu-satunya sarana infrastruktur yang jadi perhatian. Pemerintah menurut dia juga terus memperbaiki pelabuhan penyeberangan eksisting sehingga konektivitas bisa lebih terbangun.

"Seperti jalan tol Bakauheni-Terbanggi Besar (140,9 km) saja, kita juga perbaiki pelabuhan di Bakauheni untuk penyeberangan sama yang di Merak," ucap dia saat berbincang dengan Liputan6.com, seperti dikutip Senin (18/3/2019).

Dia menuturkan, memperbaiki pelabuhan penyeberangan juga sama pentingnya seperti menyediakan jalan tol baru. Sebab, sambungnya, itu akan semakin membantu pergerakan para pegiat bisnis dari Pulau Jawa yang hendak melancong via jalur darat ke Pulau Sumatera.

"Kalau kita nanti melihat ini ada jalan Tol (Trans Sumatera), kita juga akan melihat makin banyak mobil pribadi ataupun bus-bus yang besar mau untuk melintasi jalan Tol Trans Sumatera ini. Jadi mereka mau pakai penyebrangan, jadi penyeberangannya juga harus diperbaiki," paparnya.

Hal itu menurut dia, bisa menjadi bukti Indonesia telah memiliki konektivitas transportasi darat dan laut yang baik, sehingga kemudian perekonomian lokal pun ikut terdongkrak.

"Kita harapkan masyarakat jadi bisa jualan lebih mudah ke mana-mana. Mungkin yang di Lampung mau jualan produk-produk Lampung misal keripik singkong, bisa kapan saja kirimnya kalau sudah ada jalan tol," urai dia.

"Ataupun kita bisa lihat di jalan tol, kita bisa membangun industrial state untuk mendorong investor-investor mau berinvestasi untuk membangun manufacturing-nya di Lampung, sehingga tak hanya terkonsentrasi di Jawa," ia menambahkan.

 

 

2 of 2

Hutama Karya: 70 Persen Rest Area Harus Diisi UMKM di Tol Bakauheni

Pembangunan Jalan Tol Medan - Binjai Seksi I
Petugas memasang traffic cone di Gerbang Tol Marelan 2 yang masih dalam proyek pembangunan Jalan Tol Medan - Binjai seksi I di Deli Serdang, Sumatera Utara, Rabu (6/3). Jalan Tol seksi I sepanjang 6,7 KM telah rampung 80 persen. (Liputan6.com/HO/Eko)

Sebelumnya, PT Hutama Karya (Persero) selaku pemegang konsesi Tol Bakauheni-Terbanggi Besar janji memberi jatah sebesar 70 persen lahan kerja bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) untuk menempati rest area di ruas ujung selatan Jalan Tol Trans Sumatera tersebut.

"70 persen harus diisi UMKM. Rest area itu kalau luasnya 10 hektare (ha), 7 ha-nya nanti buat UMKM," ujar Direktur Utama Hutama Karya Bintang Perbowo di Lampung, seperti ditulis Minggu 10 Maret 2019.

Adapun jumlah jatah itu terbilang jauh lebih besar dibanding arahan pemerintah, yang menghendaki adanya lahan khusus bagi UMKM di rest area tol guna mendorong peningkatan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat sekitar. 

Berdasarkan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Nomor 10/PRT/M/2018 tentang Tempat Peristirahatan dan Pelayanan pada jalan tol, pengelola tol diinstruksikan untuk menyediakan lahan bagi UMKM dan Koperasi sebesar 20 persen dan 30 persen di sebuah jalan tol yang baru beroperasi.

Lebih lanjut, Bintang mengatakan, kehadiran Jalan Tol Trans Sumatera seperti di ruas Tol Bakauheni-Terbanggi Besar memiliki potensi ekonomi yang bagus, meski secara finansial belum baik.

Kendati begitu, ia percaya, keberadaan tol ini ke depannya akan sangat diperlukan untuk memindahkan arus logistik dari satu tempat ke tempat lain dengan lebih cepat.

"Jadi kalau dulu orang jualan sayur enggak bisa bawa dengan sekian kilometer karena takut keburu layu, sekarang enggak lagi," pungkas dia.

 

Saksikan video pilihan di bawah ini:

 

Lanjutkan Membaca ↓