Menko Darmin: Perlu Kerja Keras Agar Neraca Dagang Terus Surplus

Oleh Liputan6.com pada 15 Mar 2019, 15:37 WIB
Menteri Koordinator Perekonomian, Darmin Nasution

Liputan6.com, Jakarta - Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan, neraca perdagangan pada Februari 2019 surplus USD 0,33 miliar. Surplus ini terjadi karena impor yang menurun tajam menjadi USD 12,2 miliar.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan, Indonesia masih butuh kerja keras untuk meningkatkan neraca dagang. Sehingga ke depan, neraca dagang bisa konsisten surplus hingga akhir tahun.

"Jadi kelihatannya kerja kerasnya masih belum cukup artinya masih perlu bekerja lebih keras lagi untuk membuat satu ya neraca perdagangan dan neraca berjalannya bisa lebih konsisten lebih baik," ujarnya di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Jumat (15/3/2019).

Darmin melanjutkan, pihaknya akan mengupayakan surplus neraca perdagangan tidak memberatkan pertumbuhan ekonomi. Sebab, jika neraca perdagangan surplus karena impor turun namun ekspor tak naik maka bisa memberatkan.

"Kalau saya lihat impornya yang turunnya agak banyak itu adalah karena komposisinya juga sudah berubah banyak. Konsumsi kita hanya 8,2 persen saja. Sisanya bahan baku dan barang modal termasuk musim," jelasnya.

"Jadi situasi ini ya kita bukan hanya bagaimana menaikkan ekspor jadinya tapi juga supaya kita harus bisa jaga pertumbuhan sehingga ya impornya tidak merosot secara banyak." sambungnya.

Darmin menambahkan, penyebab impor turun di Februari sebagian besar dipengaruhi oleh musim. Untuk pembangunan infrastruktur yang mengandalkan bahan impor, sebagian besar masih berjalan dengan baik.

"Sebetulnya tadinya kalau demand karena pembangunan infrastruktur kayaknya masih jalan sehingga impor untuk itu masih berjalan. Tapi kalau saya lihat impor yang turunnya agak banyak itu musim musim," tandasnya.

Reporter: Anggun P. Situmorang

Sumber: Merdeka.com

2 of 3

Neraca Perdagangan Indonesia Surplus USD 0,33 Miliar di Februari

Capaian Ekspor - Impor 2018 Masih Tergolong Sehat
Aktivitas bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Jumat (25/5). Kenaikan impor dari 14,46 miliar dolar AS pada Maret 2018 menjadi 16,09 miliar dolar AS (month-to-month). (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Februari 2019 surplus sebesar USD 0,33 miliar. Hal ini berbanding terbalik dari Januari 2019 yang defisit sebesar USD 1,16 miliar dan Februari 2018 yang defisit USD 120 juta.

"Sesudah 4 bulan kita mengalami defisit, Alhamdulillah bulan ini kita mengalami surplus. Kita berharap bulan-bulan berikutnya kita mengalami surplus," ujar Kepala BPS Suhariyanto di Kantor BPS, Jakarta, Jumat (15/3/2019).‎ 

Dia menjelaskan, pada Februari 2019, nilai ekspor Indonesia tercatat sebesar USD 12,53 miliar. Sedangkan impor sebesar USD 12,2 miliar.‎

"Pada Februari 2019, total ekspor sebesar USD 12,53 miliar. Dibandingkan Januari 2019, berarti ada penurunan 10,03 persen," ungkap dia.

Sedangkan impor pada Februari 2019 juga menurun drastis yaitu 18,61 persen dibandingkan impor di Januari 2019.

Dia menjelaskan, neraca perdagangan ini dipengaruhi harga komoditas baik migas maupun nonmigas pada Februari 2019. ‎Sejumlah komoditas yang mengalami kenaikan harga seperti‎ nikel, tembaga, seng, karet dan sawit. Sedangkan yang mengalami penurunan yaitu minyak kernel dan batu bara.

"Komoditas nonmigas yang mengalami peningkatan ada, tapi ada juga komoditas yang mengalami penurunan. Minyak mentah dan nonmigas ini berpengaruh pada nilai ekspor dan impor Indonesia," tandas dia.

3 of 3

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓