Saham Boeing Menguat meski AS Kandangkan Pesawat 737 Max

Oleh Agustina Melani pada 14 Mar 2019, 04:47 WIB
Ilustrasi pesawat Boeing 737 Max 8 (AFP/Stephen Brashear)

Liputan6.com, New York - Amerika Serikat (AS) memutuskan menghentikan sementara operasional pesawat Boeing Co 737 Max usai mengutip data satelit baru dan bukti dari lokasi kecelakaan pesawat Ethiopian Airlines pada Minggu 10 Maret 2019. Kecelakaan pesawat itu menewaskan 157 penumpang dan kru.

Kecelakaan itu merupakan kecelakaan kedua yang melibatkan pesawat 737 dalam kurun waktu lima bulan.

Ini pun kedua kalinya Federal Aviation Administration AS menghentikan penerbangan pesawat Boeing dalam enam tahun. Sebelumnya mengandangkan pesawat 787 Dreamliner pada 2013 karena masalah baterai.

Saham Boeing sempat menguat pada awal perdagangan saham, kemudian melemah sekitar dua persen ke posisi USD 370,48.

Akan tetapi, pada penutupan perdagangan saham Boeing naik tipis 0,46 persen ke posisi USD 377,14. Penguatan saham Boeing dorong kapitalisasi pasar saham USD 213,07 miliar. Saham Southwest Airlines Co yang memiliki armada terbesar 737 Max turun 0,4 persen.

"Agensi membuat keputusan ini sebagai hasil dari proses pengumpulan data dan bukti baru yang dikumpulkan di situs dan dianalisis hari ini," tulis FAA dalam sebuah pernyataan.

"Bukti dengan data satelit baru yang baru disempurnakan untuk FAA pagi ini menyebabkan keputusan ini,” tulis FAA.

Hal itu terjadi tak lama setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan pesawat akan dikandangkan.

 

2 of 2

Kata Boeing

Boeing 737 MAX
Polish Airlines dengan jenis pesawat Boeing 737 MAX varian 8 berjalan di landasan Bandara Internasional Borispol. (iStockphoto)

Boeing menyatakan pesawatnya aman untuk terbang. Pihaknya juga mendukung gerakan sementara untuk mengandangkan pesawat 737 Max.

AS bergabung dengan Eropa, China dan negara-negara lain untuk menghentikan sementara operasional pesawat terbaru Boeing sejak pesawat maskapai Ethiopian Airlines jatuh usai lepas landas di Addis Ababa, Etiopia.

Kecelakaan pesawat yang masih belum jelas penyebabnya itu menyusul kecelakaan yang melibatkan pesawat Boeing 737 Max di Indonesia pada Oktober 2018. Kecelakaan pesawat tersebut menewaskan 189 orang. Meski tidak ada bukti kaitan, tetapi kecelakaan itu membayangi penumpang.

"Dia (Trump) melakukan hal benar untuk menghentikan sementara armada ini," ujar Presiden Internasional Serikat Pekerja Transportasi John Samuelsen.

Kanada yang juga memutuskan menghentikan sementara pesawat 737 Max menyatakan data satelit menunjukkan kesamaan dengan kecelakaan yang sebelumnya melibatkan pesawat sama pada Oktober.

 

Saksikan video pilihan di bawah ini:

 

Lanjutkan Membaca ↓