OJK Punya PR Kembalikan Kepercayaan Masyarakat Terhadap Asuransi

Oleh Liputan6.com pada 12 Mar 2019, 13:30 WIB
20160217-Ilustrasi Asuransi-iStockphoto

Liputan6.com, Jakarta Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengungkapkan salah satu tantangan terbesar yang harus dihadapi Industri Keuangan Non Bank (IKNB) adalah mengembalikan kembali kepercayaan masyarakat.

Kepala Departemen Pengawasan IKNB 2A OJK, Ahmad Nasrullah menyebutkan rendahnya tingkat kepercayaan masyarakat terhadap produk IKNB sedang terjadi dan harus segera teratasi. Sebab inti dari bisnis keuangan adalah rasa percaya dari konsumen.

"Ini menyangkut masalah trust, bisnis kepercayaan. Khususnya produk asuransi. Asuransi bukan produk yang gampang buat dijual," kata dia dalam acara diskusi bertajuk "Prospek Bisnis IKNB 2019, Peluang dan Risiko di Tahun Menantang" di Jakarta, Selasa (12/3/2019).

Dia mengakui, butuh kerja keras untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat. Terlebih di tahun 2018 terjadi beberapa kasus gagal bayar yang menimpa beberapa perusahan asuransi terkemuka.

Dia melanjutkan, rendahnya kepercayaan masyarakat juga tidak terlepas dampak perekenomian global yaang membuat perusahaan menjadi tidak mampu mencapai target investasi, sementara perusahaan tersebut sudah menjanjikannya kepada nasabah.

"Efek perekonomian global tadi artinya dia menjanjikan uang tertentu, kondisi ekonominya enggak bagus akhirnya target tidak tercapai, sementara dia sudah menjanjikan sesuatu. Ini berefek pada pengguna-pengguna lain, terutama produk ini," ujarnya.

Kondisi tersebut membuat kepercayaan masyarakat kepada perusahaan lainnya ikut menurun. Meski perusahaan tersebut terbukti memiliki kondisi likuiditas yang baik dan terjaga.

"Akhirnya mereka berpikir perusahaan sebonafid ini enggak bisa bayar, bagaimana perusahaan-perusahaan menengah ke bawah. Akhirnya ber-impact kepercayaan masyarakat turun," ujarnya.

"Masyarakat enggak mau beli produk serupa dari perusahaan lain meski likuiditas perusahaan itu sehat," dia menambahkan.

Dia menegaskan OJK akan melakukan koordinasi dengan asosiasi-asosiasi asuransi untuk mengembalikan kembali tingkat kepercayaan masyarakat terhadap produk asuransi.

"Kami akan berkoordinasi dengan asosiasi, bagaimana kita mengembalikan kepercayaan masyarakat terutama produk ini yang tahun kemarin mengalami masalah," tutupnya.

Reporter: Yayu Agustini Rahayu

Sumber: Merdeka.com

2 of 2

OJK Paparkan Peluang dan Tantangan Industri Keuangan Non Bank pada 2019

Ilustrasi Asuransi (iStockphoto)
Ilustrasi Asuransi (iStockphoto)

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyampaikan beberapa tantangan yang akan dihadapi oleh Industri Keuangan Non Bank (IKNB) di tahun 2019.

Salah satunya adalah kondisi ekonomi global yang masih penuh ketidakpastian dan melambat pada 2019.

Deputi Komisioner Pengawas IKNB OJK,  Moch Ihsanuddin menyampaikan hal itu, dalam sebuah acara diskusi bertajuk "Prospek Bisnis IKNB 2019, Peluang dan Risiko di Tahun Menantang" di JW Marriott Hotel, Jakarta, Selasa (12/3/2019).

"Jadi beberapa tantangan IKNB ke depan itu ada beberapa hal, antara lain seperti pemulihan ekonomi global. Itu ternyata masih cukup melambat atau belum terlihat secara signifikan," kata dia.

Selain itu, situasi politik dalam negeri pada 2019 dengan ada pemilihan presiden (Pilpres) menjadi tantangan sendiri bagi industri. Sebab pada tahun politik, kondisi ekonomi menjadi lebih sensitif.

"Apalagi pada bulan April nanti kita menghadapi bersama-sama pemilihan presiden dan pileg, akan terjadi perlambatan sejenak lah. Semoga setelah itu suasana kondusif, sehingga pelaku sektor riil maupun sektor finansial itu cepat bangkit lagi," ujar Ihsanuddin. 

Tidak hanya itu, faktor lainnya dari sektor domestik adalah kondisi masih defisitnya transaksi berjalan atau Current Account Defisit (CAD). "Tapi yang cocok jawab ini dari otoritas fiskal ya, OJK hanya bersama-sama mendiskusikan terhadap permasalahan tersebut," dia menambahkan.

Dalam kesempatan serupa, Kepala Dept Pengawasan IKNB 2A OJK, Ahmad Nasrullah mengungkapkan, OJK optimistis IKNB akan tumbuh pada 2019.

Dia mengungkapkan, ada beberapa hal yang menjadi indikator optimisme tersebut. Yaitu kondisi fundamental ekonomi Indonesia yang kuat, kondisi emiten yang baik hingga kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah, BI dan OJK dinilai positif untuk industri keuangan.

"Peluang dan tantangan IKNB adalah rendahnya tingkat penetrasi asuransi di Indonesia, SDM di IKNB, rendahnya tingkat kepercayaan masyarakat terhadap produk IKNB, pendanaan industri dana pensiun dan inovasi industri keuangan dalam menghadapi revoluasi industri 4.0," ujar dia.

 

Reporter: Yayu Agustini Rahayu

Sumber: Merdeka.com

 

Lanjutkan Membaca ↓

Tag Terkait