Peraih Nobel Ekonomi 2004 Finn Erling Puji Konsistensi BI

Oleh Tommy Kurnia pada 08 Mar 2019, 20:12 WIB

Diperbarui 08 Mar 2019, 21:16 WIB

Peraih Nobel Ekonomi 2004 Finn Erling Kydland

Liputan6.com, Jakarta - Peraih Nobel Ekonomi 2004 Finn Erling Kydland memberi pujian kepada Bank Indonesia (BI). Menurut dia, BI berhasil mengikuti resep kebijakan ekonomi yang fokus pada jangka panjang.

Hal ini Kydland ungkapkan ketika datang ke Universitas Bina Nusantara (Binus) untuk memberikan kuliah dan berdialog pada Jumat (8/3/2019).

Kydland menjadikan BI sebagai teladan di Indonesia perihal penerapan kebijakan ekonomi yang konsisten.

"Contoh terbaik di Indonesia adalah apa yang Bank Indonesia laksanakan dalam kebijakan moneter. Saya sangat luar biasa terkesan," ujar Kydland di Auditorium Binus, Jumat pekan ini di Jakarta. 

Ia pun bercerita ketika datang ke Bali pada 2005,  setahun setelah ia memenangkan Nobel, atas undangan BI. Saat di Bali, Kydland bertemu banyak peneliti BI sekaligus memberikan keynote speech tentang resep kebijakan berjangka panjang.

Beberapa resep yang saat itu ia bagikan adalah pentingnya kebijakan moneter yang dapat dipahami dengan baik, transparan, serta konsisten secara terus-menerus (consistent over time). 

Ketika melakukan follow up, Kydland dibuat terkesan melihat BI yang sukses menerapkan resep kebijakan moneter yang optimal. Bagi Kydland, konsistensi merupakan nilai cemerlang dalam kebijakan BI.

"Mereka tampak bangga karena menunjukkan telah mengikut resep yang mengindikasikan kebijakan moneter yang optimal. Dan rasanya membahagiakan untuk bertemu lagi dan mendengar kisah sukses mereka," ungkap Kydland.

 

2 of 2

Pentingnya Kebijakan Jangka Panjang

(Foto: Liputan6.com/Tommy Kurnia Rony)
Consistent Economic Policy and Economic Development di Univ.Binus pada Jumat (8/3/2019) (Foto:Liputan6.com/Tommy Kurnia Rony)

Dekan Fakultas Ekonomi dan Komunikasi Binus, Gatot Soepriyanto, turut menggemakan pandangan Kydland. Ia menegaskan kebijakan jangka pendek selalu berakhir buruk.

"Berpikir keputusan dengan short-termism, berpikir jangka pendek, di mana-mana itu buruk. Jadi harus memberikan policy itu jangka panjang. Biar policy itu ada kejelasan," ujar Gatot.

Ia menegaskan, berpikir jangka panjang merupakan sebuah tantangan yang harus dilakukan di Indonesia. Ia pun memberi contoh negara maju yang sukses melakukan kebijakan konsisten, yakni Norwegia. 

Negara Nordik tersebut disebut memiliki kebijakan ekonomi yang konsisten dan berpikiran jauh, sehingga efek perubahan kebijakan pun hampir tak terasa. 

"Jadi message-nya adalah mengambil keputusan itu yang konsisten, berjangka panjang, jangan berpikir short-termism. Itu challenge untuk kita semua," ujarnya.

 

 Saksikan video pilihan di bawah ini:

 

 

 

 

Lanjutkan Membaca ↓