Kerap Jadi Incaran Investor RI, Pasar Properti Australia Diyakini Tetap Cerah

Oleh Nurmayanti pada 05 Mar 2019, 14:15 WIB
Diperbarui 05 Mar 2019, 14:15 WIB
Ilustrasi Investasi Properti 6

Liputan6.com, Jakarta Pasar properti Australia dinilai akan tetap tumbuh seiring langkah kebijakan ‘relaksasi’ yang dilakukan Australian Prudential Regulation Authority (APRA) terkait bunga pinjaman. Properti di Australia kerap menjadi incaran investor dari berbagai negara, salah satunya Indonesia.

Seperti diketahui, APRA melakukan pengetatan pemberian pinjaman kepada pembeli properti, yang harus membayar utang pokok dan bunganya sekaligus. Hal inilah yang menyebabkan terjadinya penurunan pasar properti Australia.

Namun, pada Desember 2018, APRA mencabut kebijakan tersebut, sehingga pembeli properti di Australia boleh membayar bunganya saja (interest only).

“Tren saat ini sangat dipengaruhi oleh pengetatan pemberian pinjaman oleh Australian Prudential Regulation Authority (APRA). Baru-baru ini, APRA telah mencabut pembatasan pinjaman dengan pembayaran hanya bunganya saja dan Gubernur Reserve Bank of Australia (RBA) mendorong agar sektor perbankan bisa mengucurkan pinjaman lebih banyak lagi,” ujar Pengamat Properti Australia, Michael Yardney, yang dikenal sebagai Australia’s Leading Property Investment mengatakan sejak 2016, Selasa (5/3/2019).

Michael menegaskan arus migrasi orang-orang kaya menjadi salah satu faktor tumbuhnya pasar properti Australia. Selain itu, pertumbuhan ekonomi Australia sangat stabil selama 28 tahun terakhir di angka tiga persen.

“Kondisi ekonomi yang semakin kuat dan pasokan yang kembali ke titik normal, akan menambah daya serap untuk suplai unit hunian baru yang tersedia di pasar saat ini,” tegas dia

Senada dengan Michael, Senior Property Consultant Crown Group Indonesia Reiza Arief menjelaskan kondisi properti di Australia sangat bagus. Meskipun, pasar properti Australia sedang mengalami koreksi pada tahun ini. “Kemungkinan, tahun depan pasar properti Australia akan kembali normal,” kata Reiza.

Dia menambahkan investasi properti di Australia sangat menguntungkan. Imbal hasil dari investasi properti di Australia lebih tinggi dari deposito perbankan.

“Bunga deposito di Australia sendiri hanya sebesar 1,5 persen sesuai keputusan RBA pada Februari 2019 dan inflasi setiap tahunnya 1,8 persen. Sedangkan, imbal hasil properti berada di kisaran enam persen pada 2018. Artinya, investasi properti di Australia lebih menguntungkan,” jelas dia.

Menurut Reiza, daya beli di Australia masih sangat kuat, ditambah dengan pertumbuhan lapangan pekerjaan yang cukup cerah. Tingkat pengangguran berada pada tingkat terendah dalam sejarah atau sebesar lima persen.

“Kita bisa melihat kenaikan pendapatan yang cukup signifikan untuk mengimbangi pertumbuhan ekonomi yang dimiliki Australia secara konsisten selama hampir tiga dekade,” kata Reiza.

Sebelumnya, Komisaris dan CEO Crown Group, Iwan Sunito mengaku yakin kepercayaan akan kembali tumbuh di antara investor dan para pembeli hunian di Australia pada 2019. "Tahun ini kita akan melihat bangkitnya kepercayaan terhadap pasar properti Australia," ujar Iwan di Jakata, Rabu (6/2/2019).

Berdasarkan data Austrade 2018, pertumbuhan ekonomi Australia sangat konsisten berada di angka tiga persen selama 28 tahun. Selain itu, tingkat pengangguran di Australia juga tercatat paling rendah dalam sejarah sebesar lima persen.

 

2 dari 2 halaman

Pasar Properti Australia Masih Jadi Incaran Crown Group

Iwan Sunito pendiri perusahaan properti Crown Group. (Dok Crown Group)
Iwan Sunito pendiri perusahaan properti Crown Group. (Dok Crown Group)

Pengembang properti, Crown Group, meyakini jika pertumbuhan harga properti di Australia pada 2019 semakin kinclong. Fundamental ekonomi yang kuat dan kurangnya pasokan hunian baru serta sektor pendanaan bagi para pengembang menjadi salah satu alasan.

Komisaris dan CEO Crown Group, Iwan Sunito mengaku yakin kepercayaan akan kembali tumbuh di antara investor dan para pembeli hunian di Australia pada 2019. "Tahun ini kita akan melihat bangkitnya kepercayaan terhadap pasar properti Australia," ujar Iwan di Jakata, Rabu (6/2/2019).

Berdasarkan data Austrade 2018, pertumbuhan ekonomi Australia sangat konsisten berada di angka tiga persen selama 28 tahun. Selain itu, tingkat pengangguran di Australia juga tercatat paling rendah dalam sejarah sebesar lima persen.

“Kami siap untuk melihat kenaikan pendapatan yang cukup signifikan untuk mengimbangi pertumbuhan ekonomi yang kami miliki secara konsisten selama hampir tiga dekade,” katanya.

Iwan menegaskan suku bunga bank yang ditetapkan pun juga berada di level terendah yakni 1,5 persen. Sedangkan, inflasi di Australia juga terjaga di kisaran 1,8 persen per tahun.

“Ini akan meningkatkan daya beli yang lebih besar,” tegas Iwan.

Dia mengungkapkan Crown Group telah mengembangkan proyek-proyek hunian apartemen kelas atas di Sydney selama 22 tahun. Pengalaman ini akan selalu dibagikan kepada konsumen dalam memilih properti di Australia.

Iwan menambahkan konsumen akan diuntungkan jika memilih investasi properti yang tepat di Australia. Bahkan, setiap tahunnya, harga properti di Australia selalu mengalami kenaikan.

“Sebagai hasilnya, kami berharap harga apartemen terus naik pada tahun 2019 - dengan pertumbuhan satu digit untuk properti di lokasi yang tepat dan pengembangan yang tepat,” jelasnya.

 

Lanjutkan Membaca ↓