Rogoh Rp 115 Miliar, Blue Bird Beli Bisnis Cititrans

Oleh Agustina Melani pada 05 Mar 2019, 11:33 WIB
Diperbarui 07 Mar 2019, 09:13 WIB
Ilustrasi Akuisisi, Kesepakatan Bisnis

Liputan6.com, Jakarta - PT Blue Bird Tbk (BIRD) melalui anak usahanya PT Trans Antar Nusabird membeli bisnis angkutan darat dengan sistem antar jemput (shuttle) antar kota antar provinsi dengan merek Cititrans, milik PT Citra Tiara Global.

Penandatanganan perjanjian jual beli bisnis antara PT Trans Antar Nusabird dengan PT Citra Tiara Global pada 1 Maret 2019. Pembelian bisnis angkutan dengan sistem shuttle tersebut meliputi aset-aset kendaraan, hak kekayaan intelektual, perjanjian-perjanjian dengan pihak ketiga, karyawan kunci, pengemudi dan liabilitas.

"Harga pembelian bisnis ini sebesar Rp 115 miliar yang diambil dari modal usaha perseroan," tulis Direktur Utama PT Blue Bird Tbk, Purnomo Prawiro,  seperti dikutip dari keterbukaan informasi BEI, Selasa (5/3/2019).

Manajemen PT Blue Bird Tbk menyatakan, pembelian bisnis ini merupakan tonggak penting dalam rencana strategis grup Blue Bird untuk diversifikasi usaha dan membangun keberadaan yang lebih kuat dalam pasar upper mass atau menengah atas. Investor Relation PT Blue Bird Tbk, Michael Tene mengatakan, hal tersebut sesuai dengan target pasar Blue Bird.

"Sesuai dengan target market Cititrans saat ini, yaitu premium Commuters. Ini sesuai dengan target market Blue Bird yang memang menyasar upper mass segmen," kata dia saat dihubungi Liputan6.com lewat pesan singkat.

Dengan pembelian bisnis tersebut diharapkan akan menunjang kegiatan operasional perusahaan dan grup Blue Bird.

Michael Tene menuturkan, pihaknya melihat kesempatan bisnis cukup besar di bisnis shuttle antar kota baik untuk rute Jakarta-Bandung maupun kemungkinan ekspansi ke kota lain. Ini sering beroperasinya tol Trans Jawa.

"Citirans juga memiliki pengalaman lebih dari 13 tahun di bisnis ini dan memiliki reputasi sangat baik dalam bisnis ini," ujar Michael.

Selain itu, perseroan juga memastikan pembelian bisnis tersebut juga tidak melanggar peraturan dan perjanjian dengan pihak ketiga dan tidak berdampak negatif terhadap kondisi keuangan.

Adapun PT Citra Tiara Global merupakan perseroan terbatas yang berada di Bandung, Jawa Barat. Perusahaan tesebut juga tidak terafiliasi dari perusahaan maupun PT Blue Bird Tbk.

 

2 of 2

Bangun Balai Lelang

Hari Kartini
Menyambut Hari Kartini 2018, para bos taksi perempuan turun gunung menjadi pengemudi taksi untuk penumpang. (Liputan6.com/pool/Blue Bird)

Sebelumnya, pada 4 Februari 2019, PT Blue Bird Tbk membentuk anak usaha baru dengan nama PT Trans Antar Nusabir. Anak usaha yang dibentuk 1 Februari 2019 ini bergerak di bidang usaha utama transportasi. Pendirian anak usaha tersebut untuk memperluas usaha dari grup Blue Bird.

Selain itu, perseroan juga mengumumkan pembentukan usaha patungan antara PT Blue Bird Tbk, Mitsubishi UFJ Lease and Finance Co Ltd, dan PT Takari Kokoh Sejahtera di bidang lelang termasuk lelang kendaraan bermotor. Pembentukan usaha patungan ini didirikan pada 24 Januari 2019.

Usaha bergerak di balai lelang ini untuk memperkuat lini usaha perseroan. Komposisi kepemilikan saham untuk pembentukan perusahaan patungan PT Balai Lelang Caready adalah 51 persen oleh PT Blue Bird Tbk dan 49 persen oleh Mitsubishi UFJ Lease and Finance Co.

PT Blue Bird Tbk memiliki 11.730 saham atau 51 persen dari total saham senilai Rp 11,73 miliar, Mitsubishi UFJ Lease and Finance Co Ltd memiliki 8.970 saham atau 39 persen dari total saham dengan nilai nominal Rp 8,97 miliar, dan PT Takari Kokoh Sejahtera sebesar 2.300 saham atau 10 persen dari total saham dengan nilai nominal Rp 2,3 miliar.

Michael menuturkan, meski persaingan bisnis taksi makin ketat tapi masih ada pertumbuhan di Jakarta. Dengan melihat pertumbuhan itu, perseroan masuk ke bisnis lelang.

"Pada 2018, bisnis sudah mulai stabil secara bertahap. Ada improve bisnis taksi terutama di Jakarta, ada pertumbuhan pendapatan di Jabodebek,” kata Michael.

Selain itu untuk mendukung bisnis pada 2019, PT Blue Bird Tbk menganggarkan belanja modal sekitar Rp 1,5 triliun. Dana belanja modal itu digunakan untuk pembelian kendaraan. "Belanja modal itu dari dana internal dan bank. Kami masih ada fasilitas pinjaman," ujar Michael.

 

Saksikan video pilihan di bawah ini:

 

 

 

Lanjutkan Membaca ↓