BI Yakin Aliran Modal Asing Masih Positif ke RI, Ini Pemicunya

Oleh Liputan6.com pada 01 Mar 2019, 19:12 WIB
Diperbarui 01 Mar 2019, 19:12 WIB
BI Tahan Suku Bunga Acuan
Perbesar
Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menggelar konferensi pers di Jakarta, Kamis (17/1). Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI Januari 2019 memutuskan untuk mempertahankan BI 7-day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 6 persen. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, mengaku optimistis arus masuk modal asing atau capital inflow dalam beberapa bulan ke depan masih akan menunjukan tren positif.

Ini dilihat dari imbal hasil aset keuangan di dalam negeri masih menarik dibandingkan negara lainnya, terutama imbal hasil melalui Surat Berharga Negara (SBN).

"Kami masih meyakini bahwa aliran modal asing depan itu masih akan terus berlanjut," ujar dia saat ditemui di Kompleks Masjid Bank Indonesia, Jumat (1/3/2019).

Sebagai gambaran, SBN pemerintah dengan tenor 10 tahun imbal hasilnya sebesar 7,8 persen, lebih besar dari obligasi AS yaitu US Treasury Bill yang hanya 2,7 persen.

Kemudian, imbal hasil Indonesia juga lebih menarik dari negara berkembang lainnya seperti India yang dengan bermacam-macam selisih suku bunganya.

"Jadi dari imbal hasil secara nominal itu juga menarik dan juga lebih menarik dari negara-negara emerging lain," imbuhnya.

Faktor lain yang membuat dirinya optimistis yakni kondisi fundamental Indonesia juga semakin baik. Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang diperkirakan masih berada di kisaran lima persen serta tingkat inflasi yang terjaga.

"Dan itu juga memberikan suatu prospek tidak hanya imbal hasil sekarang, tapi juga prospek kedepannya juga cukup baik. Dengan pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi yang itu kan menarik (modal asing masuk)," kata dia.

Perry melanjutkan, selain imbal hasil dari SBN dan kondisi fundamental dalam negeri, tingkat kepercayaan investor masih juga masih menunjukan cukup baik. Hal ini tercermin pada tahun lalu meski diterpa ketidakpastian global, tapi perekonomian Indonesia tetap tumbuh positif.

"Tahun lalu kita juga kena tekanan-tekanan dari global, tapi dengan sinergi kebijakan antara pemerintah,BI dan OJK itu mampu menjaga stabilitas ekonomi kita, bahkan juga pertumbuhan ekonomi kita, bahkan pertumbuhan ekonomi kita cukup naik," pungkasnya.

 

Reporter: Dwi Aditya Putra

Sumber: Merdeka.com

 

Aliran Modal Asing hingga Akhir Februari 2019

IHSG Berakhir Bertahan di Zona Hijau
Perbesar
Petugas menata tumpukan uang kertas di Cash Center Bank BNI di Jakarta, Kamis (6/7). Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) pada sesi I perdagangan hari ini masih tumbang di kisaran level Rp13.380/USD. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Sebelumnya, Bank Indonesia (BI) mencatat arus masuk modal asing (capital inflow) ke Indonesia hingga akhir Febuari 2019 mencapai Rp 63 triliun. Aliran dana tersebut masuk melalui portofolio Surat Berharga Negara (SBN), pasar saham dan Sertifikat Bank Indonesia (SBI).

"Aliran modal asing masuk sampai 28 Februari 2019 secara total year to date Rp 63 triliun," kata Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo saat ditemui di Kompleks Masjid BI, Jakarta, Jumat 1 Maret 2019.

Dia merincikan, dari total aliran modal asing sebesar Rp 63 triliun tersebut, yang masuk melalui SBN mencapai Rp 49,5 triliun. Kemudian masuk ke pasar saham mencapai Rp 12,6 triliun serta ke SBI sebesar Rp 1,4 triliun.

Perry mengatakan, aliran modal asing yang masuk pada periode ini juga lebih tinggi dibandingkan periode pada tahun sebelumnya.

"Ingat bahwa awal Februari tahun lalu mulai terjadi pembalikan modal asing. Jadi tahun lalu hanya Rp 6 triliun yang masuk ke SBN Rp 12 triliun tapi yang keluar dari saham Rp 7,4 triliun," ucap dia.

Dengan capaian tersebut membuktikan bahwa tingkat kepercayaan investor global terhadap Indonesia masih cukup bagus. Hal ini tidak terlepas dari berbagai langkah kebijakan Bank Indonesia, bersama pemerintah maupun Otoritas Jasa Keuangan.

"Berlanjutnya aliran modal asing masuk ke khususnya portofolio ini menunjukkan memang confident investor terhadap prospek ekonomi Indonesia terhadap kebijakan-kebijakan yang ditempuh oleh pemerintah dan Bank Indonesia dan berbagai pihak, dan juga bagaimana aspek pengembangan pasar itu menunjukan confidentnya cukup bagus," tutur dia.

Dengan derasnya aliran modal asing yang masuk, pihaknya memperkiraan neraca pembayaran pada kuartal I 2019 akan mengalami surplus. "Itu juga menunjukan bahwa sesuai dengan perkiraan kita di Kuartal I 2019 neraca pembayaran diperkirakan akan mengalami surplus," pungkasnya.

 

Saksikan video pilihan di bawah ini:

 

Lanjutkan Membaca ↓