Kementerian ESDM Terjunkan Inspektur Tambang ke Lokasi Longsor Tambang Emas Sulut

Oleh Pebrianto Eko Wicaksono pada 27 Feb 2019, 18:49 WIB
Diperbarui 27 Feb 2019, 19:17 WIB
Bupati Bolaang Mongondow Sebut Penutupan Tambang Kewenangan Pemprov Sulut

Liputan6.com, Jakarta Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengirimkan inspektur tambang, untuk membantu proses pencarian korban longsor di tambang emas Bolaang Mongondow di Sulawesi Utara.

Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik, dan Kerja Sama (Biro KLIK) Kementerian ESDM Agung Pribadi mengatakan, pengiriman inspektur tambang sebagai perwakilan pemerintah yang menguasai kondisi tambang.

"Dari Ditjen Minerba sudah menurunkan inspektur tambang yang mengetahui teknis pertambangan ke daerah‎ longsor," kata dia di Jakarta, Rabu (27/2/2019).

Menurut Agung, inspektur tambang yang memiliki keahlian teknis di bidang pertambangan akan membantu petugas untuk mencari korban yang tertimbun longsor.

"Inspektur tambang akan koordinasi dengan tim penyelamat di sana, untuk membantu pencarian dari sisi teknis tambang," tutur dia.

Agung mengungkapkan, ‎kegiatan penambangan emas di Bolaang Mongondow dilakukan tanpa izin. Tiga bulan sebelum peristiwa longsor terjadi instansinya telah melayangkan surat ke pemerintah daerah (pemda) dan keamanan untuk menertibkan penambangan ilegal di wilyah tersebut. Ini karena penertiban ta‎mbang ilegal menjadi wewenang pemda. 

"Tiga bulan lalu Kami sudah megirimkan surat ke pemerintah daerah dan pihak keamanan," tuturnya.

Agung pun megaku prihatin atas peristiwa tersebut, untuk kedepannya harus ada penertiban yang lebih masif agar perisitwa serupa tidak terulang kembali.

"Saya ucapkan dukacita untuk keluarga korban longsor tambang emas di Sulawesi Utara,"‎ tandasnya.

‎Untuk diketahui, longsor tambang emas di Bolaang Mongondow terjadi pada Selasa malam (26/2/2019), dilaporkan ada 60 warga yang tertimbun longsor.

2 of 2

Detik-Detik Tambang Emas di Bolaang Mongondow Runtuh

longsor di tambang emas ilegal
Pencarian korban longsor di tambang emas ilegal di Desa Bakan, Kecamatan Lolayan, Kabupaten Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara. (Twitter @Sutopo_PN)

Proses evakuasi terhadap puluhan penambang yang tertimbun longsor di areal Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI) di Desa Bakan, Kecamatan Lolayan, Kabupaten Bolaang Mongondow (Bolmong), Sulawesi Utara, Selasa (26/02/2019) masih terus dilakukan. Bagaimana peristiwa itu terjadi?

Kepala Seksi Tanggap Darurat Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bolmong Abdul Muin Paputungan mengungkapkan, peristiwa longsor terjadi di dalam lubang pengambilan material olahan emas ilegal lokasi Busa dalam areal kontrak karya PT JRBM pada Selasa 26 Februari 2019 sekitar pukul 21.00 Wita.

"Saat itu diperkirakan puluhan warga masyarakat sedang berada di dalam lubang untuk mengambil material olahan emas, karena banyaknya warga yang sedang mengambil material olahan emas dengan cara digali dengan menggunakan linggis," ungkap dia.

Benturan linggis dengan dinding lubang itulah yang kemudian membuat area pertambangan itu ambruk. Warga yang berada di dalamnya tertimpa reruntuhan dinding. Diketahui, lokasi tersebut sejak tahun 2018 dijadikan warga sekitar untuk mengambil material olahan emas secara ilegal.

"Pada saat terjadi longsor diperkirakan terdapat puluhan warga yang sedang berada di dalam lubang untuk mengambil material olahan emas," ungkap dia.

Runtuhnya dinding lubang tambang itu segera diketahui warga yang berada di luar lubang. Mereka langsung menghubungi warga lainnya untuk meminta bantuan. Proses evakuasi seadanya mulai dilakukan sejak Selasa tengah malam, sebelum datangnya bantuan peralatan yang lebih memadai.

Paputungan menyebutkan, data sementara diperkirakan sebanyak 60 orang lebih tertimbun material longsoran tanah dan bebatuan di lokasi areal tambang rakyat.

Hingga siang ini, sudah berhasil di evakuasi sebanyak 16 orang dengan rincian orang meninggal dunia 2 orang dan 14 orang luka ringan dan berat.

 

Lanjutkan Membaca ↓