Harga Minyak Naik Dekati Level Tertinggi 2019

Oleh Nurseffi Dwi Wahyuni pada 26 Feb 2019, 06:16 WIB
Diperbarui 27 Feb 2019, 00:15 WIB
lustrasi tambang migas

Liputan6.com, New York - Harga minyak naik tipis pada hari Senin menuju level tertinggi 2019 yang dicapai minggu lalu karena sanksi dan ketidakpastian politik memperketat pasokan di beberapa negara produsen dan perundingan dagang Amerika Serikat (AS)-China nampaknya mencapai kesepakatan.

Tetapi catatan ekspor AS dan berlanjutnya kecemasan terhadap data ekonomi yang buruk di seluruh dunia tahun ini dapat membatasi kenaikan.

Dilansir dari CNBC, Selasa (26/1/22019), harga minyak mentah berjangka internasional Brent berada di USD 67,28 per barel, naik USD16 sen atau 0,24 persen, dari penutupan terakhir. Pada hari Jumat, harga minyak sempat menyentuh level tertinggi sejak 16 November di $ 67,73 per barel.

Harga minyak mentah berjangka AS, West Texas Intermediate (WTI) berada USD 57,39 per barel, naik USD 13 sen atau 0,23 persen. WTI futures menandai titik tertinggi mereka sejak 16 November di USD 57,81 per barel.

"Selera risiko di seluruh pasar global akan meningkat ketika Presiden Donald Trump memperpanjang batas waktu pembicaraan perdagangan dengan China," Harry Tchilinguirian, ahli strategi minyak global di BNP Paribas. London, mengatakan kepada Reuters Global Oil Forum.

"Risiko pasokan selalu ada dengan ketegangan Venezuela yang membuat tingkat yang lebih tinggi, National Oil Corporation di Libya menolak untuk memulai produksi di ladang El Sharara," tambahnya.

Sanksi AS terhadap minyak mentah Iran dan Venezuela ditambah pembatasan tak disengaja di Nigeria dan Libya memberikan dukungan untuk upaya menyeimbangkan pasar dan mendukung harga, upaya yang dipimpin oleh anggota Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan produsen non-OPEC seperti Rusia.

Lebih lanjut mencerahkan gambaran ekonomi global, Presiden AS Donald Trump pada hari Minggu mengisyaratkan perang perdagangan yang berpotensi memar dengan China dapat dihindari.

Trump tweeted ia akan menunda batas waktu 1 Maret untuk tarif lebih tinggi pada barang-barang asal China dan menantikan pertemuan dengan Presiden Cina Xi Jinping ketika kesepakatan Sino-Amerika ditekan.