Industri Logam Jadi Tulang Punggung Bagi Sektor Lain

Oleh Septian Deny pada 25 Feb 2019, 17:55 WIB
Diperbarui 25 Feb 2019, 17:55 WIB
Meningkatkan Produksi Ikm
Perbesar
Sejumlah pekerja menyelesaikan pembuatan komponen kendaraan bermotor di industri logam Bengle, Tegal, Rabu (10/10). Kementerian Perindustrian menargetkan Industri Kecil dan Menengah (IKM) tumbuh 11 persen hingga akhir 2018 . (Liputan6.com/HO/Eko)

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto menyatakan, industri logam memiliki peranan besar dalam pembangunan dan perkembangan industri nasional. Oleh sebab itu, pemerintah terus mendorong pengembangan industri ini salah satunya dengan mendorong berdirinya pabrik pengolahan dan pemurnian (smelter) nikel.

Dia mengungkapkan, industri logam memiliki peranan penting karena industri ini menghasilkan bahan baku utama bagi kegiatan sektor industri lainnya, seperti permesinan dan peralatan pabrik, otomotif, maritim serta elektronika.

‎"Di samping itu, produk logam sangat dibutuhkan oleh banyak sektor, di antaranya adalah sektor konstruksi yang meliputi bangunan dan properti, jalan dan jembatan, ketenagalistrikan, dan lain-lain," ujar dia di Konawe, Sulawesi Tenggara, Senin (25/2/2019).

Menurut Airlangga, seiring maraknya berbagai proyek infrastruktur dan tumbuhnya industri pengguna, kinerja industri logam mampu tumbuh signifikan. Ini ditandai dari catatan pertumbuhan sektor industri logam pada 2018 yang menyentuh angka 7,6 persen, naik dibandingkan 2017 dan 2016 yang masing-masing sebesar 6,33 persen dan 2,35 persen.

Oleh karena itu, lanjut Airlangga, pemerintah terus berupaya untuk menciptakan iklim usaha yang kondusif agar dunia industri tetap bergairah melakukan investasinya di Indonesia. Sebagai langkah mendorong penumbuhan investasi baru di sektor manufaktur, termasuk industri logam, pemerintah telah memberikan berbagai fasilitas di antaranya tax holiday dan tax allowance.

"Serta pembebasan bea masuk terhadap barang modal untuk investasi serta tata niaga," tandas dia.

 


Pemerintah Siapkan Insentif untuk Industri yang Kembangkan SDM

20170115-Kunjungan-Menristek-GM1
Perbesar
Menristekdikti Muhammad Nasir memeperhatikan pelat baja di PT Gunung Steel Cikarang, Jawa Barat, Minggu (15/1). Kedatangannya Muhammad Nasir untuk mengecek kesiapan pabrik dalam memproduksi massal Kapal Pelat Datar. (Liputan6.com/Gempur M. Surya)

Sebelumnya, Menteri Perindustrian, Airlangga Hartarto, sampaikan rencana baik pemerintah pada perusahaan yang turut melakukan pengembangan SDM. Perusahaan akan mendapatkan Tax Deduction sebesar 200 persen. Syaratnya, perusahaan harus melakukan link and match dengan Sekolah Menengah Kejuruan di Indonesia.

"Pemerintah mengupayakan agar industri di Indonesia dapat melakukan link and match dengan berbagai Sekolah Menengah Kejuruan. Dalam hal ini pemerintah menyiapkan insentif berupa Tax Deduction hingga 200 persen," ujar Airlangga dalam kunjungan kerja Kemenperin ke PT Gunung Raja Paksi di Cikarang, Jumat (15/02/2019). 

Data statistik menunjukkan bahwa pertumbuhan sektor industri logam pada 2018 adalah 7,6 persen, 1,3 persen lebih baik dari tahun sebelumnya. Selain investasi dan teknologi, ketersediaan SDM yang kompeten akan mendorong peningkatan produktivitas dan menjadikan industri lebih berdaya saing.

Industri logam berpotensi memberikan kontribusi terhadap pembangunan ekonomi melalui added value serta akan menjadi multiplier effect bertumbuhnya industri dalam negeri lainnya terutama dalam penyerapan tenaga kerja.

Pada akhirnya, industri membutuhkan tenaga ahli yang kompeten. Kenyataannya, hal tersebut dapat dibilang cukup sulit. Namun, hal ini dapat diatasi dengan upaya kerjasama pemerintah dengan industri untuk mengembangkan sumber daya manusia tersebut melalui berbagai program, salah satunya sekolah vokasi industri.

"Sekolah vokasi industri membantu talenta mengasah skill dan kemampuan mereka dan membantu industri mendapatkan tenaga ahli yang sesuai," ujarnya.

Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya