Psikolog: Kerja 4 Hari dalam Seminggu Lebih Berkualitas

Oleh Tommy Kurnia pada 25 Feb 2019, 08:40 WIB
Diperbarui 26 Feb 2019, 16:13 WIB
Ilustrasi Bekerja

Liputan6.com, Jakarta - Wacana kerja hanya empat hari dalam seminggu semakin gencar digaungkan. Sejarawan dan psikolog bahkan membawa ide ini ke pertemuan Davos tahun ini ketika para elit ekonomi dunia berkumpul.

Dilansir The Ladders, mengurangi hari kerja memiliki serangkaian keuntungan untuk pekerja dan pegawai, sehingga dunia perlu merangkul kerja empat hari seminggu.

Adam Grant, psikolog dari Wharton School, berkata hari kerja lebih sedikit bisa membuat orang semakin fokus. Ini telah dibuktikannya lewat eksperimen.

"Saya pikir kami memiliki sejumlah eksperimen bagus yang menunjukkan bahwa jika kamu mengurangi jam kerja, orang-orang dapat fokus dengan lebih efektif. Mereka pun akhirnya menghasilkan jumlah yang sama, serta seringnya berserta kualitas dan kreativitas tinggi," ujarnya.

Grant menambahkan, pegawai akan lebih loyal pada organisasi yang mau memberi fleksibilitas agar pegawai bisa mengurus hidupnya di luar pekerjaan. Data Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) juga menunjukkan bahwa kerja jam panjang belum tentu produktif. 

Persetujuan dilontarkan Rutger Bregman, ahli sejarah dan ekonomi dari Universitas Utrecht, yang menambahkan ide bekerja empat hari dalam seminggu bukanlah hal radikal. Pasalnya, ide ini dulu kerap diperbincangkan para ahli.

"Selama puluhan tahun, semua ahli ekonomi, filsuf, dan sosiolog besar. Mereka dulu percaya, sampai tahun 1970-an, bahwa kita akan mengurangi waktu kerja," jelas Bregman.

2 of 2

Jack Ma Sebut Pekerjaan Pertama Sangat Penting, Kenapa?

Jack Ma
Jack Ma dalam pertemuan tahunan World Economic Forum yang digelar di Davos, Swiss (18/1/2017) (AP)

Pekerjaan pertama seringkali dirasa tak terlalu menginspirasi bagi kebanyakan orang. Sebaliknya, menurut miliarder ternama Jack Ma, pekerjaan pertama justru merupakan yang paling penting bagi Anda.

"Pekerjaan pertama Anda adalah yang terpenting. Mungkin itu bukan pekerjaan impian Anda, tapi haruslah menjadi sumber pembelajaran penting bagi Anda," tutur Jack Ma di acara World Economic Forum di Davos, seperti dilansir dari CNBC, Minggu, 27 Januari 2019.

Menurut dia, meski menjadi yang terpenting dalam perjalanan karier, bukan berarti pekerjaan pertama Anda harus di perusahaan besar. Anda dituntut untuk bisa menemukan keunggulan dan potensi diri sejak bekerja untuk pertama kali.

"Anda harus menemukan atasan yang baik yang bisa mengajarkan bagaimana menjadi manusia, bersikap baik, dan melakukan berbagai hal dengan benar, bertahanlah," papar Ma.

Dia menambahkan, Anda bahkan seharusnya memiliki target waktu selama apa Anda bertahan di perusahaan tempat pertama bekerja. Lalu rencanakan dengan matang ke mana Anda akan melanjutkan karier.

"Berjanjilah pada diri sendiri, misalnya saya akan bertahan di sini tiga tahun, setelah tuntas, mulailah mencari pekerjaan baru," terangnya.

Saat bekerja selama 20 tahun di perusahaan China mengatakan, dia sering melihat para pegawai muda berhenti dengan cepat dari pekerjaannya. Dia bahkan menyebut, banyak pegawai yang berhenti secara prematur sebelum dapat belajar banyak.

"Itu tidak baik, saya sudah banyak melihat kegagalan karenanya," ucap Ma.

Lanjutkan Membaca ↓