Pengamat Benarkan Impor Jagung Turun Diikuti Kenaikan Gandum

Oleh Liputan6.com pada 21 Feb 2019, 16:00 WIB
Diperbarui 22 Feb 2019, 13:15 WIB
Panen Jagung

Liputan6.com, Jakarta Presiden Joko Widodo (Jokowi) pada debat calon presiden (capres) yang berlangsung pekan lalu menyatakan jika pemerintah hanya mengimpor jagung sebesar 180.000 ton pada 2018. Impor jagung ini turun dibandingkan periode sebelumnya.

Hal ini dibenarkan Ketua Pusat Kajian Pertanian Pangan dan Advokasi (Pataka), Yeka Hendra Fatika yang mengatakan, berdasarkan data Kementerian Pertanian (Kementan), impor jagung pakan ternak di masa kepemimpinan Jokowi memang turun dari tahun ke tahun.

Meski tercatat turun, namun imbas dari penurunan jagung ini berdampak lain. Salah satunya terkait impor gandum. Sebab, dengan impor jagung yang dikendalikan otomatis para peternak mencari alternatif lain untuk pakan ternaknya.

"Jadi kalau Pak Jokowi bilang impor jagung sudah berhasil diturunkan itu fakta, bukan hoax. Tetapi yang tidak pernah dibuka ke publik impor gandum untuk pakan meningkat, karena jagungnya dikendalikan," ujar dua dalam diskusi yang digelar di Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta, Kamis (21/2).

Sebelumnya, Juru Kampanye Nasional Prabowo-Sandiaga, Anggawira mengatakan, penurunan impor jagung tak diikuti komoditas lain yakni gandum. Tercatat terjadi kenaikan impor gandum.

"Kebijakan penghentian impor jagung sejak 2016 sampai 2018 untuk keperluan industri pakan ternyata diikuti oleh peningkatan impor gandum untuk keperluan pakan rata-rata sekitar 2,7 juta ton per tahun atau sekitar Rp 8,29 triliun," kata Anggawira.

Reporter: Dwi Aditya Putra

Sumber: Merdeka.com

2 of 2

Kata Mendag soal Impor Jagung yang Turun

Kementan
Bambang Sugiharto menyatakan bahwa berdasarkan Data Badan Pusat Statistik (BPS) disimpulkan produksi dan pasokan jagung tahun 2018 surplus sebesar 12 juta ton pipilan kering (PK).

Menteri Perdagangan (Mendag), Enggartiasto Lukita menyatakan, data penurunan impor jagung yang disebutkan oleh calon presiden (capres) petahanan Joko Widodo (Jokowi) dalam debat ke-2 lalu sudah tepat.

Enggartiasto mengungkapkan, impor jagung yang dikatakan sebesar 180 ribu ton pada 2018 merupakan jagung untuk pakan ternak.

Sedangkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang mencatat impor jagung pada tahun lalu sebesar 737 ribu ton merupakan total impor jagung secara keseluruhan, termasuk untuk kebutuhan industri.

‎"Dua-duanya benar. Itu ada jenis jagung yang industri tapi yang dipersoalkan (di debat) yang pakan," ujar dia di Jakarta, Selasa (19/2/2019).

Enggartiasto menuturkan, pada 2018 memang Indonesia masih mengekspor jagung baik untuk pakan maupun untuk industri. Namun, untuk pakan ternak, jumlahnya menurun drastis.

"(180 ribu ton) Betul. Iya itu pokoknya ada dua, ada jenis jagung tertentu untuk industri yang beda," kata dia.

 

Lanjutkan Membaca ↓