BI Kembali Tahan 7-Day Reverse Repo Rate di 6 Persen

Oleh Maulandy Rizky Bayu Kencana pada 21 Feb 2019, 14:47 WIB
Diperbarui 21 Feb 2019, 15:17 WIB
BI Tahan Suku Bunga Acuan

Liputan6.com, Jakarta - Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk kembali menahan suku bunga acuan pada rapat yang berlangsung selama dua hari ini. Keputusan untuk menahan bunga acuan tersebut sesuai dengan target untuk mempertahankan daya tarik aset keuangan domestik.

Gubernur BI Perry Warjiyo menjelaskan, Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang berlangsung pada 20-21 Februari 2019 memutuskan untuk mempertahankan BI 7-day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 6 persen.

Sedangkan untuk suku bunga Deposit Facility sebesar 5,25 persen dan suku bunga Lending Facility sebesar 6,75 persen," jelas dia di Gedung BI, Kamis (21/2/2019).

Menurut Perry, keputusan tersebut tetap konsisten dengan upaya memperkuat stabilitas eksternal, khususnya untuk mengendalikan defisit transaksi berjalan dalam batas yang aman dan mempertahankan daya tarik aset keuangan domestik.

Bank Indonesia juga terus menempuh strategi operasi moneter untuk meningkatkan ketersediaan likuiditas dalam mendorong pembiayaan perbankan.

Ke depan, Bank Indonesia akan menempuh kebijakan makroprudensial yang akomodatif dan penguatan kebijakan sistem pembayaran dalam rangka memperluas pembiayaan ekonomi.

Koordinasi dengan Pemerintah dan otoritas terkait juga terus dipererat untuk mempertahankan stabilitas ekonomi guna menjaga momentum pertumbuhan ekonomi ke depan.

 

2 of 3

Sesuai Prediksi Analis

BI Tahan Suku Bunga Acuan
Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menggelar konferensi pers di Jakarta, Kamis (17/1). Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI Januari 2019 memutuskan untuk mempertahankan BI 7-day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 6 persen. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Sebelumnya, ekonom prediksi Bank Indonesia (BI) akan mempertahankan suku bunga acuan atau BI 7 day reverse repo rate di 6 persen.

Hal ini seiring defisit neraca dagang masih besar pada Januari 2019 yang mencapai USD 1,16 miliar. Selain itu, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) cenderung menguat.

"Tidak berubah (BI 7 day reverse repo rate-red). Defisit neraca transaksi berjalan atau CAD jadi concern pada semester I. Selain itu, defisit neraca dagang capai USD 1,16 miliar masih besar. Itu yang buat BI akan pertahankan suku bunga," ujar Ekonom PT Bank Central Asia Tbk, David Sumual saat dihubungi Liputan6.com, Kamis (21/2/2019).

Ia menambahkan, penguatan nilai tukar rupiah juga tidak membuat BI menaikkan suku bunga acuan. Ditambah sentimen lainnya soal ketidakpastian perang dagang juga masih membayangi. Hal itu juga menjadi pertimbangan BI untuk pertahankan suku bunga acuan.

 

BACA JUGA

Permudah Investasi, JK Minta BI Pangkas Suku Bunga AcuanBos BI Sebut Suku Bunga Acuan Hampir Capai PuncaknyaBI Prediksi The Fed Naikkan Suku Bunga 3 Kali di 2019  

Sementara itu, Ekonom PT Bank Permata Tbk, Josua Pardede prediksi hal sama. BI akan kembali mempertahankan kebijakan suku bunga di 6 persen pada rapat dewan gubernur (RDG) yang berlangsung 20-21 Februari.

Ini pertimbangkan nilai tukar rupiah yang cenderung stabil sehingga mendukung terkendalinya harapan inflasi.

"Stabilitas nilai tukar rupiah juga ditopang harapan stance kebijakan bank sentral AS yang lebih dovish mempertimbangkan tren penurunan beberapa data ekonomi seperti pertumbuhan penjualan ritel dan laju produksi industri yang melambat selanjutnya akan membatasi kenaikan inflasi kurang dari dua persen dari target bank sentral AS,” kata dia.

3 of 3

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓