Sri Mulyani Singgung Unicorn saat Pidato, Pengusaha Tertawa

Oleh Liputan6.com pada 19 Feb 2019, 18:27 WIB
Diperbarui 19 Feb 2019, 18:27 WIB
Sri Mulyani pada rangkaian Pertemuan Tahunan IMF-Bank Dunia 2018 di Bali
Perbesar
Sri Mulyani pada rangkaian Pertemuan Tahunan IMF-Bank Dunia 2018 di Bali. Dok: am2018bali.go.id

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengumpulkan berbagai asosiasi pengusaha untuk melakukan dialog mengenai perkembangan ekonomi terkini. Menurutnya, pengusaha adalah tulang punggung dalam menyediakan semakin banyak lapangan kerja.

Dalam kesempatan yang sama, tak sengaja dalam paparannya bendahara negara tersebut menyinggung soal unicorn. Hal ini lantas membuat pengusaha tertawa.

"Anda yang punya ide untuk membuat dunia usaha yang baru, digital, non-digital, unicorn maupun non-unicorn, konvensional, non konvensional," ujarnya seketika membuat ruangan menjadi riuh di Kantor Pusat Pajak, Jakarta, Selasa (19/2/2019).

"Kok ketawa? kayanya baru nonton sesuatu," sambungnya membuat pengusaha tertawa kembali dan tepuk tangan.

Sri Mulyani melanjutkan, pengusaha tak boleh segan untuk berdiskusi dengan pemerintah jika menemui kendala dalam berusaha. Dirinya mengaku senang jika pengusaha mau aktif berkomunikasi dengan pemerintah untuk mendukung bisnisnya.

"Maka saya akan terus membuka telinga dan mata saya untuk mendengar aspirasi Bapak/Ibu (pengusaha) sekalian. Karena saya tahu, Indonesia tergantung pada Anda semua, yang meng-create job itu anda, ide usaha baru, dan lain-lain. Itu tidak diambil alih oleh pemerintah," jelasnya.

Reporter: Anggun P. Situmorang

Sumber: Merdeka.com

Zaman Berganti: Pemimpin Harus Paham Start-up dan Unicorn

Rhenald Kasali
Perbesar
Rhenald Kasali saat peluncuran bukunya yang berjudul Disruption: Menghadapi Lawan-Lawan Tak Kelihatan dalam Peradaban Uber. (Liputan6.com/ Agustinus Mario Damar)

Pemerintah diajak untuk lebih bersahabat dengan para pelaku start-up di Indonesia. Ini penting agar para anak muda di bidang start-up mendapat ruang berkembang.

Ini dijelaskan oleh Guru besar FEB Universitas Indonesia Rhenald Kasali. Ia meminta agar pemerintah lebih bersahabat perihal aturan, dan situasi terkini pun dinilai sudah lebih baik.

"Pernah ada masanya regulator itu tidak friendly pada ojek online, taksi online, sekarang diberi kesempatan, tidak dirazia," ungkap Rhenald Kasali ketika berbincang dengan Liputan6.com,Selasa (19/2/2019). 

Ia pun membeberkan berapa regulasi yang dapat diatur pemerintah demi membantu para start-up

"Kita perlu regulasi tentang Ekonomi Platform, pembiyaaan atau investasi inovatif berbasiskan intangibles (harta-harta nontangible), ketentuan mengenai Sharing Resources atau Orkestrasi Aset, Perkantoran Berbagi, Pembebasan Ijin bagi Perguruan Tinggi untuk membuka program study IT, Logistik Online, Insentif untuk usaha-usaha Big Data dan Pembuatan Sensor, dan lain-lain," jelasnya.

Hal lain yang baginya juga penting adalah membantu urusan pembiayaan dan perkantoran bagi start-up. "Juga perlu diwaspadai tekanan-tekanan dari para pelaku usaha lama yg tersaingi," tegasnya.

Ia pun mengingatkan agar para aparat juga bersahabat dengan para start-up. Pasalnya pelaku start-up tak lain adalah anak-anak dari generasi lama.

"Sebaiknya juga aparat-aparat lebih friendly terhadap usaha anak muda, karena ini isinya anak-anak kita semua. Orang tuanya kan sekarang menjadi regulator, menjadi dosen, menjadi pengusaha senior, tetapi anak-anaknya sudah masuk start-up semuanya," jelas Rhenald.

Lebih lanjut, ia mengingatkan, zaman sudah berganti, ada masanya ketika dunia bisnis dikuasai perusahaan besar. Sekarang, platform digital mulai memimpin.

"Global brand terlah berubah menjadi platform bukan lagi korporasi. Era 80-an perusahaan-perusahaan terbesar di dunia itu tambang seperti Exxon, BP, Petrogas. Tahun 2000-an perusahaan tambang batu bara, dan sebagian perusahaan konsumsi massal. Tahun 2015 ke sini penguasa dunia itu namanya platform," tegas Rhenald.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓